|
Mafia Berkeley adalah
Organisasi Tanpa Bentuk (OTB), namun memiliki sistem regenerasi yang
mapan. Generasi awalnya adalah Prof. Widjojo Nitisastro, Ali Wardhana,
Emil Salim, Soebroto, Moh. Sadli, JB Soemarlin, Adrianus Mooy, dan
masih sangat banyak lagi. Yang sekarang dominan adalah Sri Mulyani,
Moh. Ikhsan, Chatib Basri, dan masih banyak lagi. Mereka tersebar pada
seluruh departemen dan menduduki jabatan eselon I dan II, sampai kepala
biro.
Ciri kelompok itu ialah masuk
ke dalam kabinet tanpa peduli siapa presidennya. Mereka mendesakkan
diri dengan bantuan kekuatan agresor. Kalau kita ingat, sejak akhir era
Orde Lama, Emil Salim sudah menjadi anggota penting dari KOTOE dan
Widjojo Nitisastro sudah menjadi sekretaris Perdana Menteri Djuanda.
Widjojo akhirnya menjabat ketua Bappenas dan bermarkas di sana.
Setelah itu, presiden
berganti beberapa kali. Yang ?kecolongan? tidak masuk ke dalam kabinet
adalah ketika Gus Dur menjadi presiden. Namun, begitu mereka
mengetahui, mereka tidak terima. Mereka mendesak supaya Gus Dur
membentuk Dewan Ekonomi Nasional. Seperti kita ketahui, ketuanya adalah
Emil Salim dan sekretarisnya Sri Mulyani. Mereka berhasil mempengaruhi
atau ?memaksa? Gus Dur; mereka diperbolehkan hadir dalam setiap rapat
koordinasi bidang ekuin. Tidak puas dengan itu, mereka berhasil
membentuk Tim Asistensi pada Menko Ekuin yang terdiri atas dua orang
saja, yaitu Widjojo Nitisastro dan Sri Mulyani. Dipaksakan bahwa mereka
harus ikut mendampingi Menko Ekuin dan menteri keuangan dalam
perundingan Paris Club pada 12 April 2000, walaupun mereka sama sekali
di luar struktur dan sama sekali tidak dibutuhkan. Mereka membentuk
opini publik bahwa ekonomi akan porak-poranda di bawah kendali tim
ekonomi yang ada. Padahal kinerja tim ekonomi di tahun 2000 tidak jelek
kalau kita pelajari statistiknya sekarang.
Yang mengejutkan, Presiden
Megawati mengangkat Boediono sebagai menteri keuangan dan Dorodjatun
sebagai Menko Perekonomian. Aliran pikir dan sikap Laksamana Sukardi
sangat jelas sama dengan Berkeley Mafia.
Presiden SBY sudah mengetahui
semuanya dan tetap saja memasukkan tokoh-tokoh Berkeley Mafia seperti
Boediono, Sri Mulyani, Purnomo Yusgiantoro, dan Mari Pangestu ke dalam
kabinet pemerintahannya. Sebutan mafia
bagi Mafia Berkeley, selain karena mereka adalah sekelompok ekonom yang
dirancang untuk mendukung hegemoni Amerika Serikat (AS) dan merusak
ekonomi Indonesia, juga mendapatkan dukungan penuh dari lembaga
keuangan internasional seperti IMF dan World Bank untuk selalu
mendapatkan kekuasaan di Pemerintahan Indonesia di bidang ekonomi.
Kelompok ini sangat berbahaya
karena Mafia Berkeley memang dirancang secara sistematis untuk
mengontrol ekonomi Indonesia. Kebijakan ekonomi yang diambil berisi
empat strategi utama, yakni: kebijakan anggaran yang ketat dan
penghapusan subsidi, meliberalisasi keuangan, meliberalisasi industri
dan perdangangana serta melakukan privatisasi. Kebijakan yang mereka
jalankan tersebut merupakan hasil rumusan dari IMF, Bank Dunia dan
USAID. Kelompok mafia tersebut telah
dipersiapkan secara sistematis oleh kekuatan luar Indonesia selama
sepuluh tahun sebelum berkuasa (1956-1966) sebagai bagian dari strategi
Perang Dingin menghadapi kekuatan progresif dan revolusioner di kawasan
Asia.
Kelompok yang dikenal dengan
Mafia Berkeley ini kebanyakan dari generasi pertamanya lulusan Program
Khusus di Universitas Berkeley, California. Universitas Berkeley
sendiri merupakan salah satu universitas terkemuka di Amerika. Para
mahasiswanya terkenal progresif dan mayoritas anti Perang Vietnam.
Namun, program untuk Mafia
Berkeley dirancang khusus untuk orang Indonesia yang dipersiapkan untuk
di kemudian hari menjadi bagian dari hegemoni global Amerika. Disebut
mafia, mengambil idea dari organisasi kejahatan terorganisasi di
Amerika, karena mereka secara sistematis dan terorganisasi menjadi alat
dari hegemoni dan kepentingan global di Indonesia.
Selain sebagai bagian dari agen hegemoni
global Amerika, Mafia Berkeley sekaligus berfungsi sebagai alat untuk
memonitor kebijakan ekonomi Indonesia agar sejalan dan searah dengan
kebijakan umum ekonomi yang digariskan oleh Washington. Garis
kebijakannya adalah Washington Konsensus yang terdiri dari: kebijakan
anggaran yang ketat, penghapusan subsidi, liberalisasi keuangan,
liberalisasi industri dan perdagangan, serta privatisasi. Selama 40 tahun lebih
berkuasa, kebijakan ekonomi yang dijalankan oleh Mafia Berkeley dalam
pemerintahan tidak pernah memberikan perubahan bagi kesejahteraan
rakyat. Namun, hingga saat ini, Mafia Berkeley masih bercokol di
sektor-sektor vital, seperti di Departemen Keuangan, Departemen
Perdagangan, Departemen Energi Sumber Daya dan Mineral, Bank Indonesia,
dan departemen lain yang berkaitan dengan sektor ekonomi strategis
lainnya.
Kebijakan yang mereka ambil
memang tidak pernah mempertimbangkan aspek kesejahteraan rakyat
Indonesia. Mereka lebih memprioritaskan untuk melaksanakan perintah
dari IMF dan Bank Dunia. Untuk membersihkan Mafia Berkeley di
pemerintahan kita harus memiliki agenda yang terstruktur dan berjalan
simultan. Hal penting yang harus kita lakukan adalah bagaimana
memperkuat opini publik, bahwa penyebab kesengsaraan rakyat hari ini
adalah Mafia Berkeley. Jika rakyat ingin keluar dari kesengaraan ini
maka Mafia Berkeley harus disingkirkan jauh-jauh dari seluruh aspek
kehidupan kita berbangsa dan bernegara. Mereka layak disingkirkan,
karena mereka adalah agen asing dan pengkhianat
|