| Selasa, 25 September 2007 |
|
| [Footballitics] Banjir air mata, pelukan hangat, dan dua jabat tangan dingin |
| Tags: jose, Mourinho, chelsea, sepakbola, footballitics |
|
[Footballitics] adalah Football Politics, menyangkut berita seputar politik bola dunia. Tema yang saya angkat kali ini adalah tentang drama kronologis seputar dipecatnya sang Special One, pelatih muda paling jenius saat ini, Jose Mourinho.
Banjir air mata, pelukan hangat, dan dua jabat tangan dingin
Selasa, 18 September, 2007
Jam 10 malam, ruang ganti pemain, Stamford Bridge
Andry Shevcenko terlihat sedang berbicara serius dengan Michael Essien sehabis malam memalukan Chelsea ditahan imbang oleh Rosemborg 1-1, sebuah klub yang nilai harga seluruh teamnya hanya 1/2 harga dari nilai seorang pemain Chelsea, Shaun Wright Phillips.
Bekas pemain terbaik Eropa itu sedang memberitahu gelandang terbaik Afrika bahwa dia terlalu banyak mencoba memberikan passing melalui tengah lapangan, dan seharusnya Essien lebih banyak memberikan passing ke sektor sayap.
Bukan pemikiran taktik yang brilliant, tapi sesungguhnya saran taktik itu bukan berasal dari Sheva, saran itu berasal dari bilyuner Rusia. Berdiri disamping Sheva, dengan papan taktik di tangan, Roman Abramovich adalah orang yang sedang memberitahu Essien bagaimana cara bermain bola yang benar. Sheva disana hanya sebagai seorang translator. Di ruangan lain, ruangan konfrensi pers, Mourinho sama sekali tidak mengetahui tingkah laku bos nya, tanpa dugaan bahwa malam ini adalah malam terakhir kepelatihannya di Chelsea.
3 jam sebelumnya..
Selasa, 18 September, 2007
Jam 7 malam, ruang ganti pemain, Stamford Bridge
18 pemain Chelsea sedang melakukan pemanasan. Semua pemain sudah bersiap-siap masuk ke lapangan, terkecuali satu orang. John Terry tetap duduk di tempatnya. Satu dari asisten Jose Mourinho memaksa Terry segera keluar. Sang kapten menolak, memaki, dan menurut saksi mata, Terry sangat marah dan seperti ada "sesuatu dalam pikirannya" yang sangat mengganggu. Terry dikabarkan sangat marah setelah Mourinho bertanya apakah ada alasan medis yang menyebabkan penurunan performa Terry sepanjang musim ini.
Pertandingan berlangsung, Chelsea dengan cepat ketinggalan 1 goal dari sebuah tendangan bebas, dimana Miika Koppinen memenangkan bola crossing dari John Terry di tiang dekat gawang. Hingga turun minum, kedudukan masih 1-0 untuk kekalahan Chelsea, Jose Mourinho menyalahkan barisan pertahanan yang dipimpin oleh sang kapten. Terry hanya diam, tapi seluruh anggota tim bisa melihat kemarahan yang amat sangat diwajahnya.
Terry dan Mourinho sebelumnya terkenal sebagai satu dari sedikit hubungan yang sangat dekat di dunia sepakbola, Terry sebelumnya adalah sosok anak kesayangan, tapi dalam 24 jam kedekatan itu berakhir sudah, Mourinho tidak lagi menjadi manager Terry dan harus setuju untuk menerima 10,5 juta poundsterling dari Chelsea sebagai tanda pemutusan kontrak yang seharusnya berakhir di tahun 2010. Telah terjadi pemutusan kontrak, tanpa alasan jelas, untuk seseorang yang selama ini disebut sebagai "manager terbaik yang bisa dimiliki oleh sebuah klub"
Untuk mengetahui alasan mengapa seorang pemenang dari 2 gelar Liga Inggris, 2 piala Liga, 1 FA Cup, dan 1 Community Shield; manager paling sukses dalam sejarah klub Chelsea (dengan perolehan 6 gelar, dalam waktu hanya 3 tahun), bisa diputus kontrak, kita harus balik ke pertengahan tahun 2005.
"Di tahun pertama kepelatihan Jose, segala sesuatu berjalan dengan sangat baik," tutur salah seorang pegawai Chelsea yang juga merasakan dipecat Abramovich jauh sebelum Jose Mourinho dipecat. "Dia masuk, dan langsung memenangkan gelar juara Liga Inggris, hampir masuk ke final Liga Champion, semua orang di Chelsea sangat bahagia. Tapi kemudian, segala sesuatu berubah menjadi buruk. Peter Kenyon mulai berpikir bahwa ini adalah buah dari kejeniusannya sebagai sang CEO. Teman-teman Abramovich membisiki sang taipan bahwa uangnyalah alasan kejayaan Chelsea, dan menyakinkan Abramovich bahwa setengah dari pelatih-biasa-biasa-saja akan sanggup memenangkan liga dengan uang dari dirinya. Semua orang tersebut, seakan melupakan bahwa orang paling penting pada sebuah klub seharusnya adalah sang manajer.
Musim itu, Chelsea membajak direktur sport Hotspur, Frank Amersen, dengan biaya sejumlah 5 juta poundsterling. Amersen kemudian merekomendasikan Piet De Visser, sebagai scout-talent untuk memberikan saran kepada Abramovich, pemain mana yang harus dibeli oleh Chelsea, pemain mana yang tidak.
Amersen dan De Visser, dua sahabat baik semenjak di PSV, secara cepat menjadi orang kepercayaan Abramovich, menjadi penasehat Abramovich untuk urusan masa depan team. Abram tidak pernah tahu, bahwa ada tujuan lain dari dua sahabat tersebut -yang menurut sebuah sumber- tidak lain untuk mengeruk kekayaan dari sang taipan. Untuk melakukan tujuan itu, Amersen dan De Visser, butuh kekuatan untuk menyetir klub, butuh seorang manager yang bisa dikendalikan. Sayangnya, Mourinho bukan manager tipe tersebut.
Mengetahui bahwa Mourinho bukan manager yang bisa mereka setir, Amersen dan De Visser mulai menentang Mourinho di segala sisi. Ketika Mourinho hanya berhasil membawa Chelsea menang 1-0, mereka memberitahu Abramovich bahwa manager lain akan mampu membawa Chelsea menang dengan skor telak, dan manager seperti itu bisa ditemukan dimana saja. Ketika Mourinho melakukan kebiasaannya menyerang wasit, atau adu argumen dengan pelatih lain, Amersen dan De Visser memberitahu Abramovich bahwa Mourinho telah melakukan sesuatu yang mempermalukan klub.
Menjalani musim kedua dengan tekanan seperti itu, Mourinho masih sanggup membawakan gelar juara liga Inggris ke-2 untuk Chelsea dalam 2 tahun beruntun. Tapi, sebagai hadiah, sang manager malah kehilangan kendali atas transfer pemain. Di bursa transfer musim 2006-2007, Mourinho meminta klub untuk mendatangkan Samuel Eto'o. Permintaan itu tidak digubris, dan alih-alih malah sahabat baik Abramovich, Andry Shevcenko yang datang ke Chelsea dengan bandrol gila-gilaan, sebuah rekor, 30 juta poundsterling. Chelsea bahkan menjual William Gallas ke Arsenal, bertentangan dengan keinginan Mourinho. dan memaksakan kedatangan Boulahrouz dengan harga 7 juta pounds untuk menggantikan Gallas. Mourinho meminta Micah Richards, tapi Amersen tidak mengabulkannya. Tidak satupun permintaan pemain dari Mourinho pribadi yang dikabulkan musim itu.
Karena bukan pemain yang sesuai dengan skema rencananya, Boulahrouz hanya menjadi cadangan. Tapi tentunya, Mourinho tidak bisa begitu saja mencadangkan pemain yang menjadi teman baik big boss nya. Shevcenko terus dimasukkan sebagai pemain inti, tapi dalam 26 pertandingannya dengan Chelsea, hanya 5 goal yang berhasil dibukukan seorang Sheva. Pemain-pemain timnya mulai merasa bermain dengan 10 orang, dan Mourinho pun dihadapkan pada dilema lain. Tetap memasang teman baik sang big-boss tapi kehilangan kepercayaan dari team nya, atau mengedepankan kepentingan dan moral team nya?
Ketika transfer windows January dibuka, Mourinho kembali meminta 1 striker dan 1 bek tengah. Tapi lagi-lagi permintaannya ditolak. Untuk permintaan bek tengah, Mourinho hanya disodorkan 2 nama, Alex dari PSV dan Tal Ben Haim, dan Mourinho tidak menginginkan keduanya. Transfer windows ditutup, Mourinho tidak mendapatkan pemain yang diinginkan, harus dihadapkan pada kondisi klub dengan barisan pemain bertahan yang dilanda cedera, ditambah striker mandul yang kebetulan sobatnya sang big boss.
Tidak cukup buruk, Mourinho masih dipaksa untuk memecat salah satu asistennya, dan digantikan oleh Avram Grant, yang lagi-lagi merupakan teman sang big boss.
Mourinho, bukanlah Mourinho jika tidak melakukan perlawanan. Dihadapkan pada situasi seperti itu, Mourinho tidak lagi memasukkan nama Shevcenko dalam squad utamanya, membocorkan berita ke koran nasional bahwa ini adalah tantangan terbuka untuk Abramovich untuk memecatnya. Pada partai pertama paska kejadian itu, adalah petang yang sangat emosional di Stamford Bridge. Sebelum kick off berlangsung, fans Chelsea dengan semangat bernyanyi, menyanyikan lagu "Stand up for the Special One" dan melakukan standing ovation memuja sang Mourinho. Mourinho memberikan kado manis kepada semua yang menyanyikan namanya petang itu, dengan kemenangan telak 4-0 atas Wigan, dengan squad pilihannya, tanpa nama Andry Shevcenko di dalamnya.
Abramovich yang terluka, kemudian menginstruksikan penasehatnya untuk mencarikan pelatih pengganti. Mourinho tahu akan hal itu, tapi terus memberikan kemenangan demi kemenangan kepada Chelsea, memaksa squad cederanya untuk terus berada pada track quadruple. Chelsea yang luar biasa kembali memenangkan Piala Liga dan Piala FA, 2 dari 4 gelar yang memungkinkan untuk diraih musim itu.
Grant kemudian diangkat menjadi director of football di Chelsea, walau beberapa orang di kubu Mourinho memberikan label Grant sebagai "mata-mata Mosad" Mourinho tidak menolak untuk bekerjasama dengan Grant, bahkan Mourinho secara ajaib berubah menjadi anak manis, tidak lagi konfrontasi dengan manager klub lawan, atau menyindir wasit, menerima keputusan klub dalam kebijakan transfer pemain, dan berjanji akan mengubah permainan team ke pola 4-4-2 yang lebih flamboyan. Musim ke-4 Mourinho dimulai dengan optimis, walau dalam sekejap semuanya menjadi buyar.
Grant memanggil setiap pemain, individu demi individu, dan bertanya kepada mereka, "Kamu terlihat sedih, kenapa?" "Apa yang kamu rasakan di posisi ini?" "Apakah ini posisi terbaik untuk dirimu?" "Apakah kami cukup memakai keahlianmu?" Karena banyak yang protes akan prosesi tanya jawab dengan Grant ini, Mourinho memutuskan untuk secara radikal tidak melibatkan Grant lagi dalam rapat team.
Shevcenko, di sisi lain sepertinya lebih tertarik untuk melatih ayunan golfnya dibanding melatih ketajaman tendangannya. Ketika team-utama bersiap-siap untuk pertandingan persahabatan terbaik melawan Brondby, Shevcenko menolak dengan alasan sakit punggung. Kemenangan 2-0 atas Brondby kembali menjadi sinyal klub sebenarnya tidak membutuhkan striker dengan gaji 120,000 pound seminggu itu. Lebih sakit lagi, ketika Mourinho mengetahui bahwa sakit punggung Sheva ternyata tidak berpengaruh pada permainan golf nya di hari yang sama dengan penolakan Sheva untuk masuk dalam persiapan team pre-season terakhir.
Pemain lain mulai menyadari apa yang terjadi, iklim season ini tidak baik, manager mereka tidak lagi mendapatkan dukungan dari management. "Mental team menjadi lemah dan semakin lemah," kata salah seorang dari anggota team. "Kamu bisa merasakan kekuatan team ini disapu hilang"
Mourinho seakan sadar bahwa waktunya di Chelsea akan berakhir. Di sebuah forum UEFA untuk para pelatih elit di Geneva, seorang pelatih Liga Inggris lainnya berkata, "Mourinho mengatakan dia sangat mencintai Chelsea, dan mencintai sepakbola Inggris, tapi dia berpikir dia tidak akan bertahan lebih lama lagi." "Salah seorang dari kami bertanya kenapa, tapi dia tidak menjawab. Tapi sangat jelas sekali, terlihat ada sesuatu yang salah."
Pertandingan berikutnya di Liga Champion menjadi pertandingan terakhirnya. Rabu sore, direksi Chelsea meminta Mourinho untuk mengundurkan diri, atas dasar perlakuan terhadap Shevcenko, sikapnya terhadap pihak berwewenang, dan bahkan hubungannya dengan Terry sebagi alasan Mourinho harus pergi. Mourinho menolak untuk pergi, dan bersikeras untuk bertahan, hingga akhirnya terjadi kesepakatan bersama, klub akan membayarkan kompensasi sisa kontraknya senilai 10,5 juta pounds.
Keesokan harinya Mourinho berkunjung untuk terakhir kalinya ke pusat latihan di Cobham untuk mengambil barang-barangnya, dan mengucapkan selamat tinggal kepada team asuhannya selama 3 tahun. Ada pesan untuk setiap perpisahan. Untuk sebagian dari mereka, mendapatkan banyak ucapan terima kasih dan pelukan hangat dari sang manager. Khusus untuk Didier Drogba dan Frank Lampard, perpisahan ini terasa sangat emosional, disertai dengan banjir air mata. Lampard bahkan harus meninggalkan ruangan menuju kamar mandi untuk meredakan air matanya. Sementara untuk Sheva dan Terry, perpisahan tidak lebih dari sekedar jabat tangan dingin. Sedih, mengingat, Terry selama 3 musim menjadi anak kesayangan, dan kapten pilihan Mourinho.
Grant kemudian ditunjuk sebagai pelatih pengganti. Marah karena pemecatan Mourinho, pemain senior menggambarkan Grant sebagai "disgrace". Sementara di Cobahm mereka memanggilnya idiot, dan menyebut metode kepelatihan Grant sebagai "metode 25 tahun yang lalu".
Tapi siapapun pelatih yang akan memilih team, seperti yang Michael Essien sadari di malam Selasa, manager baru Chelsea sesungguhnya sebenarnya adalah sang pemilik klub itu sendiri.
Disadur ulang dari football.guardian.co.uk
|
|
|
|
|