Home  Meja EditorMeja Editor  Posting  Lensa  Apa Kata Anda  Login 
 
 
Ulasan
Rabu, 24 Desember 2008
Ulasan
Dari Riset Analisis Isi Media
Duh, Para Capres Masih Kedodoran Menjangkau Media
Tags: Capres, content_analysis, media_cetak
<b(berpolitik.com): Bukan tanpa dasar jika dikatakan para penantang SBY kurang tanggap dalam menebar isu-isu kebijakan. Riset analisis isi media cetak terbaru yang dilakukan Makna Informasi menunjukkan, pemberitaan seputar janji/program politik yang ditawarkan para capres kurang dari 1%.>

(berpolitik.com): Bukan tanpa dasar jika dikatakan para penantang SBY kurang tanggap dalam menebar isu-isu kebijakan. Riset analisis isi media cetak terbaru yang dilakukan Makna Informasi menunjukkan, pemberitaan seputar janji/program politik yang ditawarkan para capres kurang dari 1%. Menurut analisis Makna Informasi, porsi pemberitaan tentang pilpres 2009 selama November lalu masih didominasi oleh topik penguatan positioning capres dan parpol jelang 2009. Yakni pemberitaan yang berkaitan dengan bursa capres/cawapres (23%), aktivitas mereka (21%) dan juga kebijakan parpol yang mengusung mereka(20%). Tidak terlalu mengejutkan juga jika urutan selanjutnya adalah pemberitaan yang isinya merupakan negative campaign para capres (15%). Untuk membaca informasi selengkapnya tentang hasil riset tersebut silahkan klik di sini. Keengganan para kompetitor SBY membangun diferensiasi melalui isu kebijakan memang agak memprihatinkan. Barangkali ini pilihan yang disadari dengan asumsi publik tidak membutuhkan dan atau tak cukup memiliki kapasitas untuk mengunyahnya. Tapi bisa saja ada sebab lain sebagaimana diulas kemarin (23/12) dalam rubrik ini. (silahkan klik di sini). Memanfaatkan Endoser Karena mereka mengabaikan sisi ini, maka telaahan pun menyasar kepada dua elemen pokok lain sebuah produk politik: kandidat dan partai politik. Bagaimana unjuk kinerja mereka tentang kedua hal ini berdasarkan riset tersebut? Dari sisi aktivitas (tentu saja sejauh yang terekam di media massa yang menjadi obyek riset), ada dua kecenderungan yang mengemuka. Sultan HB X dan Prabowo Subianto sukses memanfaatkan adanya endoser (pemberian rujukan) dari para tokoh-tokoh. Dalam hal ini, HB X sukses memanfaatkan kedatangan tokoh kelas dunia, Pangeran Charles dan Prabowo menuai hasil positif seusai bertemu Din Syamsuddin. Meski begitu, ada catatan yang harus diberikan. Pada kasus HB X, pemberian rujukan yang memanfaatkan momen pisowan Ageng justru melahirkan nada (tone) pemberitaan yang lebih banyak negatifnya ketimbang positif. Padahal, pada periode sebelumnya (Oktober 2008), momen itu memberi kontribusi besar penyebutan HB X di media dengan nada berita yang positif. Pada kasus Prabowo, aktivitas nyekar ke makam Bung Karno justru diberitakan dalam nada negatif. Berbeda dengan dua penantang di atas, Megawati, Kalla dan Wiranto sepertinya lebih memilih aktivitas yang terkait dengan parpol mereka masing-masing. Dari sisi personalitas, ini juga pilihan yang masuk akal karena ketiganya telah menganggap ketokohannya telah paripurna sehingga tak memerlukan endoser sebagai penguat. Sungguhpun begitu, sejatinya ketiganya masih memerlukan perujukan untuk mengekskalasi persepsi publik terhadap mereka.Perujukan (endoser) itu memang tidak berasal dari tokoh lokal, tetapi dari figur-figur bertaraf internasional. Jika ini sulit, masih tersedia taktik komunikasi yang lain: melakukan pertukaran wacana dengan tokoh-tokoh dunia. Dengan cara ini mereka bisa mendongkrak level ketokohannya masing-masing. Hal yang terakhir ini secara sporadis sudah dilakukan SBY. Minim Aktivitas? Namun secara keseluruhan, dari sisi frekuensi aktivitas, ada satu kesimpulan lain yang langsung terbaca. Pada dasarnya, aktivitas mereka sebagai penantang SBY masih terlalu rendah jumlahnya. Memang ada kemungkinan, banyak aktivitas mereka yang luput dari peliputan media. Berbeda dengan para calon kepala daerah yang terpaksa membeli "ruang media" (termasuk dalam bentuk berita) untuk mendongkrak ketokohan dan popularitasnya, para capres penantang SBY sebenarnya bisa mendapatkan peliputan gratis melalui aktivitas-aktivitas yang mereka lakukan. Salah satu triknya adalah memastikan setiap menghadiri sebuah kegiatan sekecil apapun skalanya, mereka selalu melempar satu isu kebijakan. Baik berupa tawaran solusi atau tanggapan atas situasi kontemporer di dalam ataupun luar negeri. Pada awalnya, memang hanya satu - dua media yang akan mengutipnya, tetapi tatkala sudah menjadi "rutinitas", bisa dipastikan redaktur media-media nasional akan mendorong awak mereka untuk mengutit kemanapun Anda bertandang. Tentu saja, Anda harus punya cukup stamina dan kreativitas untuk memberi "umpan" yang memenuhi kriteria berita. Jika hanya pernyataan-pernyataan yang sifatnya normatif, besar kemungkinan Anda akan diabaikan. Jelas, selalu ada resiko dalam melakukan taktik komunikasi seperti ini. Tapi, ini adalah pilihan yang tersedia. Bagi kompetitor utama seperti Megawati, taktik ini mungkin dipandang tak terlalu mendesak karena problem mereka adalah bagaimana menata kembali reputasinya di benak pemilih. Tapi, bagi capres kelas kuda hitam seperti Prabowo, Hidayat Nur Wahid atau pun HB X sendiri, cara ini niscaya efektif mengjungkit elektibilitas mereka. Sebab, seperti pernah diulas (baca tentang hal ini di sini), dalam kampanye modern berlaku adigium: Anda ada jika Anda hadir di Media.

About Us  Site Policy  Site Map  Arsip 
Copyright 2007 Berpolitik.com All right reserved