(berpolitik.com): Setelah sekian lama, pupuk bersubsidi masih langka. Gas elpiji tabung 3 dan 12 kg nasibnya sama saja. Para pejabat pemerintah terkait nyaris melulu mengumbar janji sembari meminta masyarakat mengerti.
Yang jadi soal, apakah menteri ESDM dan jajaran Pertamina mengerti bahwa kelangkaan gas telah menyebabkan banyak pedagang keliling tak bisa berjualan? Apa mereka mengerti apa akibat dari terhentinya aktivitas ekonomi bagi anak dan istri para pedagang itu?
Apa mereka mengerti kelangkaan gas menyebabkan banyak rumah tangga terpaksa mengeluarkan dana tambahan untuk membeli makanan karena tak bisa memasak sendiri. Apa mereka bisa memahami tambahan pengeluaran itu merupakan tambahan beban? Cukup disangsikan para pejabat yang terhormat itu bisa menyelaminya.
Tapi, baiklah, mereka boleh jadi terlalu besar bebannya hingga tak ada lagi waktu untuk menyelami kesulitan rakyat kecil akibat keteledoran dan pengabaian mereka dalam menjalankan amanat yang telah diberikan. Yang kini menjadi pertanyaan, apakah mereka cukup memahami apa akibat kelangkaan gas (dan juga pupuk) ini terhadap pemerintahan SBY-JK? (Pertanyaan-pertanyaan ini juga berlaku kepada Menteri Pertanian!)
Menjelang pemilu, berita-berita kelangkaan jelas bukan kabar yang baik. Apalagi jika ditingkahi 'aksi-aksi' sepihak warga sebagaimana ditunjukkan oleh para petani yang mencegat truk-truk pengangkut pupuk. Terekam di layar kaca dan disiarkan berulang kali jelas menciptakan impresi yang buruk kepada SBY-JK.
Jikalau mereka tak peduli terhadap dampaknya bagi SBY-JK, jelas mengejutkan. Ini dapat disebut sebagai "menggunting dalam lipatan".Jikalau mereka peduli, kita tak menemukan jejaknya karena kelangkaan itu terus dan terus terjadi.
Yang menguntungkan, kelangkaan ini rupanya tak mengundang para kompetitor SBY untuk bersuara. Nyaris tak terdengar sentilan, keprihatinan dan apalagi tawaran solusi. Di sana-sini, memang ada satu-dua kompetitor yang memperbincangkannya. Tapi gemannya bagai tersekat dalam rimba opini. Padahal, saat ini, tak ada satu isu politik yang cukup kuat untuk menenggelamkan opini mereka.
Jadi, sepantasnya, kita bertanya: mengapa capres ikut-ikutan absen dalam soal-soal yang sejatinya tertaut langsung dengan kehidupan rakyat kecil ini?
Untuk adilnya, ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan mereka berceloteh tentang hal-hal lain yang sejatinya tak "nyambung" dengan kegalauan subyektif rakyat hari ini.
3 Kemungkinan
Pertama, mereka khawatir dituding "cari popularitas" dan atau "melakukan kampanye terselubung". Jika ini alasannya, sungguh menggelikan. Hal ini menunjukkan ketidakpahaman mereka tentang esensi kompetisi politik. Mereka sepertinya telah terpaku dengan cara berpikir sesat warisan orba.
Secara teknis, ada berbagai pendekatan komunikasi yang bisa dipakai agar pesan yang disampaikan tetap terlihat elegan. Jika tak mampu merumuskan hal ini, ada baiknya para capres itu mulai mempertimbangkan lagi para konsultan kampanye yang kini mereka sewa.
Kedua, para kompetitor itu ada kemungkinan khawatir mendapat serangan balik dari SBY. Dalam kasus beberapa capres, kekhawatiran ini memang wajar. Maklum, mereka punya rekam-jejak yang bisa digelembungkan sedemikian rupa menjadi senjata pemukul balik. Tapi, beberapa capres lain sejatinya sangat berkepentingan untuk berbicara tentang isu ini.
Jadi, kalaupun ada serangan balik, mereka harusnya memikul resiko untuk itu. Lagi pula, secara teknis, serangan balik itu sejatinya sudah bisa diidentifikasi dan bisa disiapkan penangkalnya. Tentu saja jadi lain ceritanya jika serangan balik itu bisa langsung merubuhkan proses pencalonan.
Jika memang punya "rekam jejak yang begitu busuk" sudah sewajarnya mereka segera meninggalkan gelanggang. Sebab, hanya tinggal waktu saja rekam jejak yang buruk dan busuk itu diungkapkan. Kalau tidak oleh SBY/JK, kandidat lain juga bisa melakukannya.
Jikapun tak hendak tampil, semestinya para kompetitor SBY bisa menggerakan para tukang plintir informasi (spin doctor) yang sudah mereka persiapkan jauh-jauh hari. Sepanjang pengamatan berpolitik, para pengkritisi SBY yang berbicara di media massa bukanlah para spin doctor dari kandidat presiden tertentu.
Cukup mengherankan jika para capres alternatif ini mengabaikan hal ini. Jika persoalan spin doctor saja tak siap, sulit rasanya melihat kemungkinan mereka menang terhadap SBY yang sudah menyiapkan diri dengan sederet strategi dan taktik.
Akhirnya, ketiga, ada kemungkinan para kompetitor SBY memang asyik dengan dunia dan pikirannya sendiri. Barangkali ada yang berpikir, gerakan gerilya dari satu kantung ke kantung yang lain saja sudah memadai. Barangkali ada yang berpikir, beriklan saja sudah cukup. Barangkali ada yang berpikir, kini belum saatnya berkampanye.
Apapun alasannya, cukup memprihatinkan jika peluang emas demi peluang emas terabaikan begitu saja. Sekali lagi,kepentingan kita sebagai pemilih adalah hadirnya kompetisi politik yang ketat. Tanpa itu publik akan kesulitan melakukan kalkulasi karena pasti ada kesenjangan informasi.
Semoga kebisuan para capres ini bukan indikasi telah menggelembungnya sikap "kalah sebelum berperang". |