Home  Meja EditorMeja Editor  Posting  Lensa  Apa Kata Anda  Login 
 
 
Ulasan
Senin, 15 Desember 2008
Ulasan
Kalkulasi Bursa Capres
Golkar Masih Mungkin Meninggalkan SBY
Tags: Golkar, SBY, Megawati, Demokrat
<b(berpolitik.com): Meski sepintas ada kesan sejumlah parpol pengusung pemerintah ingin melirik capres lain, ada baiknya jangan cepat berharap. Malah ada kekhawatiran, capres ketiga bisa tidak kebagian tiket.>

(berpolitik.com): Meski sepintas ada kesan sejumlah parpol pengusung pemerintah ingin melirik capres lain, ada baiknya jangan cepat berharap. Malah ada kekhawatiran, capres ketiga bisa tidak kebagian tiket. Sejumlah partai kelas menengah pendukung SBY memang terlihat dinamis. Ini terutama sekali terlihat pada PPP dan PKS. Keduanya aktif melancarkan manuver. Tengok, misalnya, PPP yang kembali mengundang Sri Sultah HB X dalam acara "PPP Mendengar". Padahal, belum lama berselang mereka sudah menjatuhkan talak satu karena posisi permaisuri Sultan yang anti UU Pornografi. PKS kembali membuka peluang berkoalisi dengan PDIP. Ini mengulang episode beberapa bulan silam. Lihat pula PAN. Melalui ketua umumnya, partai ini kembali menyemburkan wacana. Isinya seperti biasa masih mengkritisi kinerja pemerintah. Sinyal lain juga dimunculkan PKB Muhaimin yang tiba-tiba berbicara tentang kepemimpinan kaum muda. Pertanyaannya, cukup seriuskah mereka berpisah dari SBY? Sejumlah pengamat mengaku pesimis mereka benar-benar ingin menjadi lawan SBY."Sepanjang dampak krisis tak jeblok-jeblok banget, tidak bakalan mereka berani mencari capres yang lain," ujar seorang politisi kawakan. Ya, taruhannya terbilang besar. Kalau gagal, bisa dipastikan mereka akan kehilangan kursi menteri yang kini mereka duduki. Karena itu, PDIP diingatkan untuk berhati-hati. Sebab, bukan tak mungkin manuver partai-partai menengah ini hanya "ombak palsu". Seolah-olah saja mau pisah ranjang dengan SBY, padahal yang terjadi sebenarnya hanyalah negoisasi menyangkut kursi menteri saja. Bahkan, ada pula kemungkinan yang lebih buruk: memberikan sinyal palsu dengan tujuan mengacaukan kalkulasi kubu Megawati. Dan, peringatan ini berlaku pula untuk capres partai yang sedang jadi "musafir" seperti Sri Sultan HB X. Sebuah sumber menyebutkan adanya kemungkinan skenario untuk menggusur calon ketiga. Jelasnya, pertarungan pilpres 2009 hendak dipaksakan hanya menghadirkan dua kandidat saja: incumbent versus Megawati. Kejutan Skenario ini bakal "bubar jalan" apabila terjadi kejutan. Yakni, pertama, jika secara tiba-tiba Megawati mengurungkan niatnya meneruskan pencalonan. Mundurnya Megawati bakal membuka peluang calon-calon alternatif untuk kembali diperhitungkan. Dalam hal ini, partai-partai menengah akan melihat "celah" baru untuk mengubah peta persaingan. Sasaran mereka sangat jelas: sekurang-kurangnya menguasai kursi cawapres. Dalam hal ini, Soetrisno Bachir, Muhaimin Iskandar ataupun Suryadharma Ali punya motivasi lebih dari sekadar cukup untuk mulai menggadang-gadang posisi itu. Sedangkan PKS tampaknya akan semakin percaya diri untuk menyorong Hidayat Nur Wahid ke dalam bursa pencalonan. Namun kejutan ini sepertinya sangat kecil terjadi. Ini terutama sekali melihat pernyataan Megawati akhir-akhir ini yang entah kenapa kelihatan makin percaya diri saja. Padahal, berbulan lalu, wacana kemungkinan Megawati mundur masih terus diperbincangkan di kalangan elit partai ini dengan seksama. Kejutan lain adalah jika ada lonjakan suara partai baru. Sejauh ini, hanya Gerindra atau Hanura yang paling berpotensi melesat menjadi partai menengah. Jika salah satu dua partai ini bisa meraih minimal 5% - 7% suara nasional, bisa dipastikan bakal ada sentimen positif kepada pucuk pimpinan kedua partai itu. Melesatnya peraihan suara ini sekaligus menjadi daya tarik dan magnet bagi partai-partai lain yang merasa hanya dapat "remah-remah" saja jika terus menyokong SBY.Meski begitu, harus diakui tak ada jaminan pula Prabowo atau Wiranto bisa menyodok dalam bursa jika SBY dan Megawati bisa mengkonsolidasi suara sisa dari apartai-partai gurem. Kejutan lain yang kini mulai jadi kasak-kusuk adalah kemungkinan membelotnya Golkar. Meski Jusuf Kalla sudah mendeklarasikan diri menjadi cawapresnya SBY lagi, tak ada kepastian Golkar bakal sungguh-sungguh mau terus menguntit SBY dengan Demokratnya. Mencelatnya pamor Demokrat yang mulai menggerus kantung-kantung suara Golkar rupanya telah membikin resah kalangan internal partai berlogo pohon beringin ini. Jika supermasi SBY terus berlanjut pada periode kedua, bisa dipastikan Demokrat akan kuat pula. Bagi kalangan Golkar, ini tak ubahnya "memelihara anak macan". Atas dasar perhitungan jangka panjang itu, sebagian kalangan Golkar disebut-sebut tengah mempertimbangkan melakukan manuver untuk segera berpisah dengan SBY secara dramatis. Efek dramatis itu maksudnya sekaligus untuk memastikan suara Demokrat kembali terhujam ke dasar. Dan, itu hanya efektif jika kinerja SBY jadi amburadul di mata-hati pemilih. Kalau Demokrat tersungkur secara signifikan, bursa pencalonan bakal seru. Karena kali ini, ada kemungkinan justru SBY yang dikucilkan ramai-ramai sehingga tak punya tiket untuk kembali mencalonkan diri. Dalam hal ini, semua partai yang kini menjadi sekutu dan lawan sama-sama punya motif untuk mewujudkan situasi tersebut

About Us  Site Policy  Site Map  Arsip 
Copyright 2007 Berpolitik.com All right reserved