| Ulasan |
| Rabu, 10 Desember 2008 |
| Ulasan |
| Betapa Sulitnya Jadi Caleg Saat Ini |
| Tags: Caleg, Partai |
<b>(berpolitik.com):</b> Betapa sulitnya menjadi caleg hari ini. Apalagi jika Anda tergolong caleg yang mau bekerja keras memajukan partai. Tanpa kesabaran politik dan dedikasi yang tinggi, Anda bisa dipastikan bakal patah arang.
Bagaimana tidak. Sistem pemilu yang tidak lagi sepenuhnya berbasis nomor urut dalam penetapan caleg pemenang telah mengobarkan kompetisi internal yang hiruk-pikuk. Alih-alih bekerjasama, antar caleg pada satu partai malah sibuk saling sikut dan membuka aib satu sama lainnya.
Ini sebabkan karena mereka sama-sama hanya mau memfokuskan kampanye di daerah "basah" alias kantong-kantong suara tradisional dari partainya. Sejatinya ini pilihan yang masuk akal ditilik dari kepentingan sang caleg dan bukan dari kepentingan kemenangan partai politik.
Gejala pergeseran orientasi nyatanya juga terjadi di kalangan pegiat partai di tingkat lokal. Beberapa caleg menuturkan betapa terkejutnya mereka tatkala berdialog dengan pengurus partai setempat. Menurut mereka, tak terlihat lagi ada gairah yang meledak-ledak untuk memenangkan partai. Persisnya, para pegiat partai di tingkat lokal telah menganggap pileg sebagai pertarungannya para caleg dan bukannya pertarungannya partai.
Ini membawa beberapa konsekuensi. Pertama, memudarnya semangat kesukarelaan. Pembiayaan selalu menjadi tolak ukur utama dan satu-satunya. Mereka mengibaratkan diri sebagai mesin politik yang karatan karena tak pernah dilumasi. Tanpa oli dan bensin, begitu kata mereka, mesin mana mungkin bisa hidup (lagi) dan bekerja.
Terkait itu, kedua, aliran proposal pun menggunung. Berbagai acara ditawarkan untuk memobilisasi massa. Tak jarang dilengkapi dengan klaim-klaim yang sepintas terdengar meyakinkan. Jika Anda mengabaikan, kemungkinan terbaiknya mereka bakal tak bekerja buat mengumpulkan suara. Kemungkinan terburuknya, mereka berpaling ke caleg lain, baik yang masih satu partai ataupun beda partai!
Ketiga, pergeseran cara pandang ini menyebabkan para pegiat partai di tingkat lokal ini langsung muka geram dan atau apatis tatkala diajukan gagasan untuk melakukan penetrasi ke kelompok pemilih non tradisional dari partai, termasuk di dalamnya merambah ke pemilih partai lain.
Padahal, di tingkatan pusat, sejumlah parpol sejatinya tengah mencanangkan penetrasi tersebut. Yang "hijau" ingin dianggap juga "merah" dan sebaliknya. Yang dianggap eksklusif ingin juga dianggap inklusif. Yang bau orbanya menyengat tak malu-malu mengaku reformis dan sebaliknya.
Tapi, ketika diimplementasikan di tingkat lokal, jangan bayangkan mudah melakukannya. Ada semacam resistensi, gugatan dan juga olok-olok. Tak jarang juga ancaman terselubung. Menurut pegiat partai di tingkat lokal, tindakan penetrasi itu telah mengabaikan penggalangan basis massa partai sendiri. "Kalau kita tak mau diurus, nanti orang lain loh yang memetiknya" begitu kira-kira ancaman itu dilontarkan.
Pengurus partai di tingkat pusat sepertinya tak mengetahui fenomena ini. Barangkali lebih tepatnya menutup mata. Karena jika mempersoalkan takut bakal menjadi bumerang. Bagaimana tidak.
Sikap apatis dan pragmatis di tingkat bawah tak bisa dilepaskan dari buruknya manajemen partai. Tengoklah, umpamanya, dalam soal penetapan caleg.Di kebanyakan partai, penetapan caleg nyaris tak jelas kriterianya. Dan, lebih celaka lagi, agak jarang pula melibatkan suara orang partai di tingkat bawah. Dalam beberapa kasus, penetapan caleg merupakan transaksi antar faksi tertentu saja dan meminggirkan caleg-caleg yang tak memiliki "patron" di dalam tubuh partai.
Ini diperparah dengan perilaku para caleg yang sudah terpilih. Setelah duduk di parlemen, mereka mengabaikan konstituen. Kalaupun ada hubungan, itu sebatas transaksi bernama sumbangan belaka. Selebihnya, mereka lupa menyerap dan mengartikulasikan kepentingan para pemilih dan juga aspirasi pegiat partai di tingkat lokal.
Akibatnya, ada cara pandang yang sebenarnya keliru: pegiat partai di tingkat lokal dan sebagian pemilih memilih jalan pintas: mengambil "uang muka" secepat-cepatnya. Ini didasarkan pada asumsi bahwa para caleg akan cepat melupakan mereka setelah duduk di parlemen.
Pada titik ini, orang-orang baik tak berduit yang jadi caleg pun ada kemungkinan harus melepas sebagian idealismenya. Demi membiayai kampanye, mereka terpaksa berkolaborasi dengan pihak-pihak yang bersedia membiayai. Tentu saja itu tak gratis. Sebagai konsekuensinya, memang ada kemungkinan sang caleg juga meminggirkan aspirasi konstituennya karena ia harus memperjuangkan kebijakan tertentu yang bisa saja melabrak kepentingan konstituennya sendiri.
Jadi, kalau ada teman, kerabat atau kolega Anda yang sedang nyaleg kini uring-uringan, janganlah heran.
|
|
|
|
|
|
|
|