Home  Meja EditorMeja Editor  Posting  Lensa  Apa Kata Anda  Login 
 
 
Ulasan
Rabu, 03 Desember 2008
Ulasan
Ada Apa Dengan Mr. Whiskey?
Tags: Hanura, SBY, wiranto
<b(berpolitik.com): Tidak salah jika orang mulai bertanya-tanya tentang keseriusan Wiranto mencalonkan diri kembali. Pasalnya, alih-alih makin agresif, sebagaimana seharusnya seorang penantang, manuver Whiskey, begitu nama sandinya, justru makin melempem>

(berpolitik.com): Tidak salah jika orang mulai bertanya-tanya tentang keseriusan Wiranto mencalonkan diri kembali. Pasalnya, alih-alih makin agresif, sebagaimana seharusnya seorang penantang, manuver Whiskey, begitu nama sandinya, justru makin melempem. Padahal, gebrakan iklannya tentang "Janji SBY" soal harga BBM dipuji sebagai kampanye yang cerdik dan sehat. Dibilang cerdik karena momentumnya pas. Dikatakan sehat karena Wiranto bermain di ranah isu kebijakan dan sekaligus kualitas kepribadian pemimpin, tidak sekadar tebar pesona atau obral janji. Sayangnya, setelah itu Wiranto seperti "tenggelam" seiring makin moncernya Prabowo. Iklannya nyaris tak ada, pernyataannya pun makin sayup-sayup di media. Dia memang sempat berpolemik sebentar dengan Kalla soal tudingan "penumpang gelap". Dan, sayangnya, Wiranto lagi-lagi tak memanfaatkan momentum itu secara optimal untuk rebound. Menelisik polanya, ada yang menyebut Wiranto seperti sedang menerapkan "perang gerilya". Muncul mendadak, membuat kehebohan melalui sebuah isu, terus menghilang dan kembali melakukan hal yang serupa di isu yang berbeda dan di tempat yang berbeda lagi. Ini merupakan cara terbaik untuk mengaburkan posisi di mata lawan. Persoalannya, jika benar begitu, tepatkah Wiranto memakai strategi seperti itu? Menelisik kemampuan logistik, persebaran jejaring dan mesin politik serta kualitas individu sebagai pemimpin, Wiranto rasanya kurang pas menerapkan strategi tersebut. Oleh beberapa konsultan kampanye, sejauh ini Wiranto masih diposisikan sebagai penantan terkuat SBY, selain Megawati. Sebagai penantang terkuat, Wiranto semestinya bertindak agresif menggerus reputasi incumbent. Untuk itu dia harus bermain di semua lini dan bekelanjutan. Melalui cara ini, ada efek samping yang justru akan menjadi pengungkit elektibilitasnya, yakni terciptanya bandwagon effect: perasaan di hati publik bahwa Wiranto punya potensi kuat untuk menang. Hal ini selanjutnya akan mendorong orang untuk mempertimbangkan dirinya secara lebih serius atau malah menyatakan diri bergabung sebagai barisan pemenangannya. Karena yang terjadi sebaliknya, tak ayal spekulasi pun mencuat. Sumber berpolitik menyebutkan, Wiranto saat ini tengah disibukkan melakukan konsolidasi internal. Hal ini terpaksa dilakukan lantaran meletupnya 'perlawanan' di sejumlah daerah. Untuk sebagian besar perlawanan itu terjadi lantaran nomor urut pencalegan di tingkat daerah. Sejatinya, ribut-ribut pencalegan itu disebut-sebut sebagai peletup belaka. Pemicu awalnya adalah kekeliruan ekspektasi di kalangan pendukungnya. Pada awalnya, mereka yang bergabung dengan Hanura berharap bakal mendapat limpahan logistik yang aduhai. Dalam perjalanannya, aliran logistik itu makin seret dan malah keluar kebijakan pengetatan anggaran. Kala itu, di satu sisi, Hanura sepertinya berharap gelombang masuknya orang ke partai ini paralel dengan kesediaan untuk mengupayakan dana secara mandiri di tingkat daerah. Dan, harapan itu tak ubahnya ilusi. Sebab, di sisi lain, berbeda dengan yang dialami SBY pada pilpres 2004, banyak orang yang bergabung dengan Hanura karena halunisasi bakal dapat kucuran duit dari dirinya sebagaimana mereka dengar dan lihat pada saat pilpres lalu. Situasinya tambah runyam buat Hanura dan Wiranto karena kekeliruan memilih strategi komunikasi dalam menanggapi perlawanan di daerah tersebut. Dengan memilih mendiamkannya (dan kalaupun ada direaksi secara keliru), publik justru mulai bertanya-tanya tentang penilaian awal mereka terhadap Wiranto. Jika mulanya dibayangkan memiliki kekuatan yang solid, perlawanan itu membuat publik mulai meragu. Selain soal perlawanan daerah, konsolidasi internal dilakukan karena adanya hengkangnya konsultan kampanye yang selama ini menangani Hanura dan Wiranto. Konsultan tersebut sepertinya merapat ke kubu Megawati. Sangat boleh jadi sang konsultan memang diberhentikan karena dianggap tak mampu mendongkrak elektibilitas Hanura dan Wiranto dalam survei-survei. Apapun sebabnya, hengkanya sang konsultan ini, tentu saja menimbulkan masalah dalam melancarkan manuver-manuver selanjutnya. Jika masih ingin diperhitungkan, sudah saatnya Mr. Whiskey kembali bermanuver. Tentu saja, bukan sekadar manuver. Dibutuhkan gebrakan yang tidak biasa agar orang kembali menoleh kepada dirinya. Kebetulan atau tidak, para penantang SBY lainnya juga tengah menahan diri. Jadi, dalam situasi seperti ini sebenarnya jauh lebih mudah menarik atensi pemilih. Bagaimana, pak?

About Us  Site Policy  Site Map  Arsip 
Copyright 2007 Berpolitik.com All right reserved