(berpolitik.com): Sepak terjang kampanye kubu SBY harus diakui selangkah di depan para pesaingnya. Ini dicapai karena kubu SBY bermain total di segala lini.
Tengoklah respon cepat mereka tatkala Megawati mulai menggeliat dengan iklan sembako murahnya. Hanya berselang hari, sudah ada iklan tandingan nan menohok yang dilakukan Jaringan Nusantara, salah satu organisasi pendukung SBY.
Pokok terpentingnya, iklan itu terutama sekali bertujuan untuk membuat publik ragu atas klaim-klaim yang disuarakan iklan sembako murah. Untuk menghancurkan kredibilitas iklan itu, JN menyasar pada reputasi Megawati tatkala memerintah. Ini persis yang pernah disebut berpolitik, persoalan kritis Megawati adalah menyangkut kredibilitas dirinya semasa jadi presiden.
Menurut sumber berpolitik, kalau kubu Megawati masih memaksakan berkampanye dengan iklan sembako, maka sasaran berikutnya adalah membeberkan perilaku Lingkaran Survei Indonesia, yang data hasil risetnya dipakai sebagai bukti harga sembako sudah tak terjangkau.
Tidak sulit untuk menebak apa yang bakal terjadi. Peran ganda LSI Denny sebagai pollster dan sekaligus konsultan kampanye bakal dipersoalkan. Tentu saja bukan JN lagi yang bakal maju. Dalam hal ini, sudah disediakan beberapa spin doctor untuk menyoal peran ganda itu dan sekaligus mementahkan klaim tersebut. Ujung terakhirnya: Megawati bakal disebut sebagai "tukang bohong".
Masih dalam pertempuran udara (baca: iklan), kubu SBY juga sudah melihat iklan-iklan Prabowo perlu dinetralisir. Kali ini kubu SBY memakai tangan Departemen Dalam Negeri yang juga bicara soal memakai produk dalam negeri. Sebelumnya, SBY melalui Departemen Pertanian juga menyuarakan kemajuan dunia pertanian di tanah air.
Sejatinya tak ada yang istimewa dari langkah SBY ini. Dia hanya memakai jurus standar seorang incumbent: me too. Jadi, tatkala Prabowo mempromosikan penggunaan produk dalam negeri, SBY juga menyarankan yang sama. Bedanya, SBY mengimbuhinya dengan apa yang sudah diperbuatnya (meski minimal sekalipun).
Bahkan dalam kasus isu pertanian, SBY maju selangkah lagi. Dia tak berhenti dengan iklan. Alih-alih langsung ke petani, secara cerdik SBY merangkul para petani melalui Penyuluh Pertanian Lapangan. Untuk memikat hati para penyuluh ini, SBY telah mengeluarkan paket kebijakan peningkatan kesejahteraan. Ini cara yang cerdik dan murah karena seluruh alokasi dananya bersumber dari anggaran negara.
Dan, jikalau kompetitornya berupaya menyoal kebijakan ini, malah bakal menjadi bumerang. Para penyuluh pertanian pasti bakal melihat lawan-lawan SBY tidak peduli kepada mereka. Akibatnya, mereka akan semakin giat mempromosikan SBY ke kalangan petani.
Dan, sepertinya senjata SBY tak ada habisnya. Tengoklah aksinya merangkul para raja-raja se-nusantara. Mudah ditebak, ini diarahkan untuk "mengucilkan" Sri Sultan HB X dari salah satu komunitas yang sangat mungkin bakal menjadi penyokongnya.
Dalam hal ini, SBY rupanya cukup punya 'mata' dan 'telinga'. Sebab, undangan ke istana itu terjadi tak lama berselang setelah para raja-raja ini tak menampakkan batang hidungnya pada saat Sri Sultan memproklamirkan pencalonannya. SBY sepertinya telah mendengar terjadinya 'kesalahpahaman' dan dia tak menunggu lama untuk memanfaatkan kesempatan ini.
Begitulah, sebagai incumbent SBY terbilang agresif. Keagresifan ini sejatinya bukan tanpa sebab. Secara perlahan tapi pasti, perekonomian di dalam negeri terus menampakkan gejala bakal "deman tinggi".
Ini, misalnya, ditunjukkan oleh gelombang PHK yang bagai tak tertahankan. Pada saat yang sama solusi ala SKB 4 menteri menuai perlawanan dari kalangan buruh. Gejala lainnya adalah hancurnya harga komoditas unggulan seperti sawit kakao dan juga batubara di pasaran internasional. Jika yang pertama terutama berimbas di Jawa, maka yang kedua berpotensi melumpuhkan perekonomian di luar Jawa.
Jadi, dengan bertindak agresif, kubu SBY berharap penurunan elektibilitas yang terjadi pada saat perekonomian benar-benar memasuki tahap "titik tidih" tetap tak terkejar oleh para kompetitornya.
Tapi, itu adalah hitungan di atas kertas. Dengan kecerdikan dan keagresifan yang terukur, para lawan SBY sejatinya masih punya peluang untuk membuat penurunan elektibilitas SBY lebih dalam lagi.
Ayo, bukan SBY saja yang bisa, kok! |