| Apa Kata Anda |
| Rabu, 31 Desember 2008 |
| Apa Kata Anda |
| Lagi, Israel Membombardir Jalur Gaza ... |
|
Israel kembali berulah. Memasuki hari ke empat (Selasa, 30/12), serangan Israel ke Jalur Gaza dilaporkan tak menyusut. Padahal, tak kurang-kurang kecaman mengalir datang dari berbagai negara. Sejauh ini, lebih dari 363 orang dilaporkan tewas dan ribuan lainnya mengalami luka-luka akibat serangan tersebut.
Seperti biasa, Israel tentu saja mempunyai versi sendiri. Menurut mereka, serangan tersebut dilancarakan karena tak tahan lagi oleh adanya serangan roket dari arah Jalur Gaza yang makin intensif ditembakkan ke teritori yang berada dalam penguasaannya.
Seperti yang sudah-sudah juga, PBB juga sudah mengirim surat agar Israel segera menghentikan serangan. Selain itu mereka juga mendesak agar DK PBB segera bersidang dan mengeluarkan resolusi.
Jika menilik pengalaman yang sudah-sudah, resolusi DK PBB menyangkut konflik Israel dengan Palestina selalu mengambang, dan bahkan dinilai lebih cenderung berpihak kepada Israel.
Meski begitu, memang ada yang agak berbeda dalam konflik yang kembali memanas di antara keduanya. Yang paling menyolok adalah penyebutan para pihak yang berkonflik.
Sejumlah pihak kini menyebutnya sebagai konflik Hamas dengan Israel dan bukan Palestina dengan Israel. Sekjen PBB Ban Ki Moon termasuk salah satu pihak yang memakai istilah ini.Ini tak bisa dilepaskan dari konflik internal di dalam Palestina sendiri. Satu kubu lainnya, Al Fattah cenderung bersikap lebih moderat.
Seperti yang sudah-sudah pula, kalau ekskalasi ketegangan di Timur Tengah ini terus meningkat maka biasanya akan diikuti dengan kenaikan harga minyak mentah. Sejauh ini dilaporkan harga minyak mulai merangkak naik, meski tak tajam. Jika harga minyak kembali meroket, dunia yang telah terkepung resesi akan semakin terhimpit dalam krisis.
Tak mengherankan jika banyak pihak menginginkan segera tercapai gencatan senjata di Jalur Gaza. Tentu saja juga ada alasan lain yang sama pentingnya: yakni keselamatan warga sipil yang bermukim di Jalur Gaza. Selain terancam nyawanya karena serangan rudal Israel sepertinya lebih mirip membombardir semua wilayah ketimbang menyerang tempat spesifik sebagaimana mereka klaim, peningkatan konflik akan menyebabkan mereka akan mengalami kesulitan air, bahan makanan dan juga obat-obatan.
Tetapi, seperti biasa juga, Israel selalu pasang "call" tinggi. Pihak Israel sudah menegaskan keengganannya untuk segera melakukan gencatan senjata. Sebab, menurut mereka, hal itu akan memberikan peluang bagi Hamas untuk mengkonsolidasikan kembali kekuataannya, termasuk mengumpulkan kembali senjata-senjata.
Di lain pihak, sikap keras kepala Israel ini akan mendorong gerakan solidaritas terhadap Palestina dan kebencian terhadap Israel dan para sekutunya (terutama sekali Amerika Serikat) akan mengalami pasang gelombang tinggi di negara-negara yang penduduknya mayoritas Islam seperti Indonesia. Ini terkait dengan persepsi bahwa konflik Israel dan Palestina adalah konflik agama. Belakangan mulai muncul wacana yang hendak mengkoreksi persepsi ini (baca misalnya postingan member berpolitik di sini.
Bagaimana menurut Anda?
|
|
|
|
|
|
|
|