Home  Meja EditorMeja Editor  Posting  Lensa  Apa Kata Anda  Login 
 
 
Ulasan
Senin, 24 November 2008
Ulasan
Dari Kasus Karyawan Bahana
Sebuah Pembelaan untuk Ber-rumor!
Tags: Pemerintah, Transparan, rumor
<b(berpolitik.com): Inilah indahnya rumor. Semakin besar upaya mengekangnya, ia justru semakin tersebar dan kian dinanti. Kalau tak percaya, bertanyalah pada penguasa-penguasa tiran dari berbagai negara. Ancaman kurungan hingga kematian tak menyebabkan orang berhenti memproduksi, mentrasmisi dan juga menerima rumor.>
(berpolitik.com): Inilah indahnya rumor. Semakin besar upaya mengekangnya, ia justru semakin tersebar dan kian dinanti. Kalau tak percaya, bertanyalah pada penguasa-penguasa tiran dari berbagai negara. Ancaman kurungan hingga kematian tak menyebabkan orang berhenti memproduksi, mentrasmisi dan juga menerima rumor. Mengapa sulit mencegah orang ber-rumor ria? Dalam hal ini sepertinya para penguasa tiran mengabaikan hal terpokok: rumor adalah salah satu bentuk interaksi yang alamiah dalam kehidupan antar manusia. Sebagaimana disebut oleh Kimmel (2004), rumor pada dasarnya memiliki kemampuan untuk memuaskan kebutuhan personal dan sosial tertentu. Melalui rumor, orang dapat memahami apa yang terjadinya di lingkungannya. Penyebaran rumor merupakan upaya orang mendapatkan fakta dan juga memperoleh informasi yang memadai agar bisa mengurangi ketidaknyamanan psikologis dan juga mengelimir ketakutan yang meraka rasakan. Jadi, rumor berkembang tatkala informasi yang beredar dirasa tak memadai baik secara kualitas pun kuantitas. Karena itu, setiap upaya pengengkangan informasi pada dasarnya justru mengundang hadirnya rumor. Rumor dan Berita, Beda Tipis, Tuh Orang-orang tak akan memproduksi, mentransmisikan dan atau antuias menerima informasi tentang kebiasaan makan seorang selebriti, tetapi mereka akan dengan senang hati melakukan salah satu kegiatan tersebut jika menyangkut informasi yang penting bagi hidupnya, bagi pekerjaannya. Dalam konteks ini kita bisa memahami mengapa Erik JA, seorang karyawan PT Bahana Securities, langsung memforward e-mail yang diterimanya. Bagaimana pula tidak. Email itu berisikan informasi tentang dugaan kesehatan sejumlah bank yang sudah go publik. Jadi, ini jelas signifikan dan sejatinya sangat berorientasi kepada pelanggan! Sejauh pengakuan beberapa pelaku pasar modal, apa yang dilakukan Erik sejatinya adalah hal yang biasa di antara pelaku bursa. Bertahun silam, seorang analisis pasar modal pernah berujar, "Kalau sudah masuk koran, itu mah basi," katanya. Ya, berbeda dengan berita, rumor memang tidak mesti bersandar pada bukti. Rumor bekerja dengan mencermati indikasi-indikasi. Indikasi itu bisa karena ditemukannya ketidaksinkronan, ketidakakuratan dan atau malah ketidakmasukakalan. Yang menarik, pemaknaan terhadap ketiga hal itu sejatinya bersifat personal. Sebab tiap orang akan memberi makna berdasarkan kerangka rujukan yang dimilikinya. Merupakan sebuah pemaksaan (teror mental?) jika setiap orang harus berpikir sebagaimana dimaui pihak lain. Dalam hal ini, sebuah pembedaan rumor dan berita sejatinya juga agak menyesatkan. Alih-alih mewartakan fakta, sebuah berita pada dasarnya merupakan hasil konstruksi dari pelaku media yang dipengaruhi banyak faktor sekaligus. Sekali waktu, keterbatasan tenggat yang memaksa reporter untuk kembali mewawancarai narasumber yang sudah menjadi langganannya, meski sejatinya ada narasumber lain yang bisa memaparkan informasi yang berbeda. Di lain waktu, intervensi pemiliklah yang menuntun redaktur untuk mengkisahkan sebuah peristiwa dalam artian bagaimana berita dirangkai sehingga menghadirkan makna tertentu. Berani Blak-Blakan, Kuncinya Pada titik ini saatnya kita pertegas satu hal: rumor adalah bagian tak terpisahkan dari interaksi antar manusia. Jadi, bagi para penguasa yang tak menghendaki rumor beranak-pinak, cara terbaiknya adalah memastikan warganya tidak saling berinteraksi. Dengan cara yang berlawanan, rumor bakal kempis dengan sendirinya jika pemerintah tak pelit mengumbar informasi dan pastinya memiliki kredibilitas. Sekali berbohong atau dimaknai publik tengah berupaya berbohong, rumor pun akan menyelinap dari sudut-sudut tak terlihat memasuki ruang hati orang demi orang. Dalam urusan berbagi informasi, tak mesti sepenuhnya beban itu mesti dipikul pemerintah. Andai saja ada baja ekspor yang ditolak pembeli di luar negeri meski barangnya sudah sampai pelabuhan negara pengimpor, eksportir sejatinya memiliki tanggung jawab moril untuk mendeklarasikan itu kepada publik. Dengan menyampaikan kabar pahit ini, publik tak terdorong membangun rumor setelah dia mendengar kabar burung dari rekannya di luar negeri. Atau pula ini. Jika pembeli di luar negeri beramai-ramai membatalkan pesanan impor tekstil, sudah sewajarnya perusahaan tekstil di dalam negeri itu menyampaikannya kepada para buruh dan juga pemerintah. Jika mereka bungkam, karyawan justru bakal resah sehingga kian menganggu produktivitas kerja saja. Dalam konteks Indonesia, boleh saja orang dilarang memproduksi dan mentransmisikan rumor melalui email karena bisa terjerat UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Tetapi, percayalah, itu tak akan mencegah orang untuk ber-rumor ria. Malah sebaliknya, pembekukan Erik akan menyediakan amunisi nan subur karena berbagai sebab. Salah satunya karena adanya tindakan tak konsisten. Sebagaimana ditulis Kontan Edisi Minggu III November 2008, tabloid ini mencatat adanya rumor tentang obas kategori over the counter yang berbahaya secara medis. Menurut Kontan, tak ada kelanjutan pengusutan tentang kasus tersebut meski pesan yang tersebar melalui e-mail itu berpotensi merugikan produsen obat yang produknya disebut dalam email itu. Dus, jangan marah kalau kemudian orang pun berumor. Dan, mereka bisa mulai dengan pertanyaan awal: Kenapa ya Erik yang terbekuk? (Kalau tahu, jangan email pun sms, ya!).
About Us  Site Policy  Site Map  Arsip 
Copyright 2007 Berpolitik.com All right reserved