Home  Meja EditorMeja Editor  Posting  Lensa  Apa Kata Anda  Login 
 
 
Ulasan
Senin, 17 November 2008
Ulasan
Dari Survei LSI
Demokrat Makan Nangkanya, Golkar Kena Getahnya?
Tags: Demokrat, Golkar, SBY, Kalla
<b>(berpolitik.com)</b> Meski berkoalisi, nasib Golkar dan Demokrat bagai bumi dan langit. Selama 4 tahun terakhir, tren elektibilitas Partainya SBY selalu di atas perolehannya pada pemilu 2004. Hal sebaliknya justru terjadi pada partai berlogo pohon beringin ini: trennya tak pernah mencapai lagi angka 22% sebagaimana dia peroleh 4 tahun silam.
<b>(berpolitik.com)</b> Meski berkoalisi, nasib Golkar dan Demokrat bagai bumi dan langit. Selama 4 tahun terakhir, tren elektibilitas Partainya SBY selalu di atas perolehannya pada pemilu 2004. Hal sebaliknya justru terjadi pada partai berlogo pohon beringin ini: trennya tak pernah mencapai lagi angka 22% sebagaimana dia peroleh 4 tahun silam.

Menurut riset terbaru Lembaga Survei Indonesia yang dilaksanakan pada akhir Oktober dan awal November 2008 ini, tren negatif Golkar dikarenakan kecenderungan jumlah pemilih yang lari dari Golkar lebih besar ketimbang tren pemilih baru yang datang. Pemilih berpindah-pindah alias swing voters pada Golkar secara rata-rata dalam 4 tahun terakhir adalah -5, sebaliknya Demokrat menikmati rata-rata yang positif: 7.15.

Dalam catatan LSI dari riset-risetnya selama ini, Demokrat pernah mendapatkan aliran pemilih berpindah terbesar (17%), sedangkan Golkar pada waktu yang sama (Januari 2005) malah negatif 9%. Ketika elektibilitas Demokrat mencapai titik terendah (Juni 08), swingnya masih positif 2, sebaliknya Golkar tetap negatif 3.

Pada Juni 2008 itu sejatinya terjadi pergerakan suara yang berbeda. Golkar justru mengalami kenaikan hampir 2% dibandingkan dengan pencapaian pada Januari 2008. Sebaliknya, Demokrat justru <i>nyungsep</i> 5% dari sebelumnya pada awal tahun ini yang mencapai 14%. Sekadar mengingatkan, anjloknya eletibilitas Demokrat terjadi karena pada Mei akhir 2008 SBY baru saja mengeluarkan kebijakan tak populer: menaikkan harga BBM.

Yang menarik, setelah Juni 2008, terjadi pergerakan yang berbeda.Demokrat secara pasti kembali rebound. Jika September mencapai kisaran 14% maka pada survei terbaru LSI sudah mencapai 16,8% sekaligus menyalip Golkar dan PDIP. Yang terjadi pada partai warisan Orde Baru ini justru sebaliknya: secara pasti pula elektibilitasnya justru anjlok, Jika September masih di kisaran 19% maka pada survei terbaru November ini tinggal 15,9%.

Apa artinya temuan tersebut?

Pergerakan yang asimetris dari kedua partai ini menjadi menarik karena keduanya bisa dibilang sebagai tulang punggung utama Kabinet Indonesia Bersatu. Dalam banyak hal, berkat jumlahnya kursinya yang paling banyak di parlemen Golkar memainkan peran yang signifikan untuk meredam manuver partai opsisi betulan (PDI-P) ataupun partai-partai yang sikapnya tak jelas seperti PAN, PKS,PPP ataupun PKB.

Dalam pengamatan berpolitik, pergerakan suara Demokrat selalu terkait dengan kepuasaan publik terhadap kinerja pemerintahan SBY-JK. Jika tingkat kepuasan pemilih terhadap SBY sedang anjlok, maka hal yang sama juga dialami Demokrat.

Kecenderungan suara pada Juni 2008 merupakan petunjuk paling gamblang. Pada periode itu, tingkat kepuasaan terhadap SBY anjlok menjadi kurang dari 50%. Pada saat itu pula elektibilitas Demokrat anjlok menjadi 9% alias terendah pula selama 4 tahun terakhir. Dan, sebaliknya terjadi pada September dan November 2008.

Dengan begitu bisa dikatakan keberhasilan kinerja pemerintah hanya dipersonifikasi kepada SBY dan kemudian Demokrat mendapat limpahan berkahnya karena partai ini juga mempersonifikasikan SBY.

Hal itu semakin sempurna jika pula dipertimbangkan pergerakan tingkat kepuasaan terhadap Jusuf Kalla. Dalam istilah Saeful Mudjani (Direktur Eksekutif LSI), beberapa waktu silam, pergerakan kepuasaan pemilih terhadap ketua umum Golkar ini telah diframe oleh faktor SBY. Itu artinya, jika tingkat kepusaan terhadap SBY meningkat, demikian pulalah Kalla, pun sebaliknya. Ada satu catatan tambahan yang perlu digaris bawahi: tak sekalipun tingkat kepuasaan terhadap Kalla pernah melampaui pencapaian yang diraih SBY pada tiap kurun waktu.

Dan, ini bukan satu-satunya kabar buruk bagi Golkar. Dari riset LSI terlihat bahwa Demokrat secara pasti terus merangsek di wilayah-wilayah yang selama ini dianggap menjadi kantong suara Golkar. Menurut Saeful Mudjani, ini tercermin dari pergerakan swing voters kedua partai di Sumatera, Jawa Barat dan juga Indonesia Timur.

Pergerakan swing voter Demokrat melonjak menjadi 21% pada November 2008 dari sebelumnya hanya 15% (Juni 2008). Pada kurun waktu yang sama, Golkar justru mengalami penurunan dari 22% menjadi 20%.

Di Jawa Barat situasinya lebih buruk lagi. Dalam kurun watu yang sama, Swing Voters Golkar anjlok 9% (menjadi hanya 19%), sedangkan Demokrat melonjak menjadi 18% setelah September 2008 hanya 6%.

Yang terparah tentu saja di Indonesia Timur: aliran suara Golkar anjlok menjadi hanya 22% dari sebelumnya 35%. Sebaliknya, lagi-lagi, Demokrat mengalami peningkatan menjadi 16% setelah sebelumnya hanya 12%.

Memang terdengar tak adil bagi Golkar. Jika kinerja pemerintahan SBY-Kalla terus mengkilap maka sepertinya Demokratlah yang paling banyak menikmatinya dalam bentuk meraup pemilih berpindah yang jauh lebih besar lagi.Jika karena suatu sebab kinerja SBY-JK anjlok, Golkar barangkali saja akan menikmati kenaikan sebagaimana terjadi pada Juni 2008 lalu.

Tapi, bisa dipastikan pula yang bakal menikmatinya adalah PDI Perjuangan. Ketika kinerja SBY-JK rontok, lawan-lawan Golkar akan beramai-ramai memaketkan mereka satu keranjang dengan Demokrat dan SBY. Tapi, tidak untuk sebaliknya.
About Us  Site Policy  Site Map  Arsip 
Copyright 2007 Berpolitik.com All right reserved