| Ulasan |
| Kamis, 13 November 2008 |
| Ulasan |
Iklan Soeharto Ada Apa dengan PKS? |
| Tags: PKS, Tifatul, Anis_Matta, iklan_soeharto |
(berpolitik.com): Ada apa dengan PKS? Ini pertanyaan yang langsung mengapung karena tanggapan yang tak seragam dari para elit partai menanggapi komentar publik terhadap iklan mereka menyambut hari pahlawan.Sebagaimana diketahui, dalam iklan itu, PKS menyebut Soeharto sebagai guru bangsa dan pahlawan nasional.> |
(berpolitik.com): Ada apa dengan PKS? Ini pertanyaan yang langsung mengapung karena tanggapan yang tak seragam dari para elit partai menanggapi komentar publik terhadap iklan mereka menyambut hari pahlawan.Sebagaimana diketahui, dalam iklan itu, PKS menyebut Soeharto sebagai guru bangsa dan pahlawan nasional.
Pada awalnya, tampil Fachry Hamzah yang menanggap kritik atas iklan itu. Menurut dia, pilihan atas Soeharto karena yang bersangkutan adalah figur yang berpengaruh. "Bisa memerintah selama 32 tahun jadi bukti, pengaruhnya besar,"ujar mantan aktivis UI 98 ini.
Tapi dia menolak anggapan bahwa iklan itu untuk mencari simpati keluarga cendana atau orang-orang tertentu. Jadi, apa tujuan iklan itu? Katanya," Lewat iklan itu, PKS ingin berkomunikasi dengan bangsa secara keseluruhan."
Setelah berbagai kalangan terus melontarkan kritik, akhirnya ada pernyataan klarifikasi. Datangnya lansung dari Presiden PKS, Tifatul Sembiring. Kepada Detik.com, Tifatul menyatakan ada perbedaan antara iklan yang ditayangkan di televisi dengan contoh iklan yang dipresentasikan kepada dirinya.
Menurut Tifatul, dalam konsep yang disodorkan kepada dirinya itu, pada scene awal tokoh yang muncul pertama kali adalah Soekarno dan Soeharto yang diikuti dengan tulisan berbunyi, "mereka sudah memberikan apa yang mereka bisa", baru diikuti dengan Jenderal Soedirman dan Bung Tomo yang diberi komentar 'mereka telah memberikan apa yang mereka punya".
Yang menarik adalah penegasan yang diberikan Tifatul terkait gelar kepahlawanan Soeharto."Perlu saya luruskan, itu tidak benar. Apa hak kita mengakui Soeharto sebagai pahlawan, wong pemerintah saja belum mengakui? Bung Tomo saja baru diakui tahun ini. Mengapa kita jadi genit-genitan mengakui Soeharto sebagai pahlawan?" tandasnya sebagaimana dikutip detik.com.
Selesai? Nyatanya belum. Adalah Sekjen PKS, Anis Matta yang kali ini urun bersuara. Menurut dia, iklan itu merupakan ajakan rekonsiliasi."Kita harus bisa mensikapi masa lalu kita secara adil, arif dan proporsional. Berhenti mengadili masa lalu tapi tetap menjadikannya sebagai inspirasi bagi masa depan kita," katanya kepada detik.com.
Dari penjelasan para elit PKS ini, mencuat sejumlah pertanyaan.
Ditelikung?
Pertama, yang paling pokok, benarkah iklan yang ditayangkan di televisi itu tak sesuai versi aslinya sebagaimana didaku Tifatul? Jika benar bukan yang disepakati oleh jajaran pimpinan partai, siapa yang telah menelikung Presiden Partai?
Logisnya kalau pernyataan Tifatul benar tentu ada langkah-langkah konkrit yang akan diambil dalam tubuh partai ini. Jelasnya, pihak-pihak yang telah menelikung pimpinan partai harus mendapat sanksi yang tegas dan diumumkan secara terbuka. Hanya dengan itu kredibilitas Presiden Partai dan tentunya PKS sendiri terpelihara.
Terkait itu, kedua, jika benar Tifatul telah ditelikung, ini fenomena yang sungguh menarik. Sebagai partai kader, PKS dikenal memiliki disiplin partai yang terbilang kuat. Sehingga pernyataan Tifatul mengisyaratkan bahwa disiplin partai itu tengah mengalami cobaan. Persoalanya kemudian, mengapa Anis dan Fachry berani melabrak disiplin partai?
Pada titik ini, analisis kembali ke soal yang itu-itu juga: perkubuan di tubuh partai dakwah ini. Sebagaimana pernah diulas, sekurang-kurangnya ada tiga faksi dalam tubuh PKS. Dalam hal ini, Anis dan Fachry digolongkan sebagai kubu "politik" sebagaimana juga ketua dewan syuro partai ini, Hilmi Aminudin. Sedangkan Tifatul disebut-sebut masuk kubu faksi tengah sebagaimana halnya Hidayat Nur Wahid. Sedangkan faksi ketiga sering disebut dengan istilah faksi dakwah atau malah faksi Depok yang antara lain di gawangi oleh Ihsan Tandjung.
Tapi, penjelasan perkubuan ini saja tetap tak cukup. Karena itu, sudah sepantasnya diajukan pertanyaan berikutnya. Yakni, ketiga, jika dilihat dari rentetan waktu, menjadi jelas bahwa pernyataan Anis Matta seolah-olah hendak mematakan argumentasi Tifatul. Dan Tifatul hendak meluruskan ucapan-ucapan yang dilontarkan Fachry. Dengan begitu pertanyaannya, mengapa kubu Anis-Fachry begitu ngotot sehingga berani secara terbuka mementahkan pernyataan Tifatul?
Sudah Atau Akan Memikat Cendana?
Ada yang menganalisa bahwa kekerasan hati para kubu politik ini karena mempertimbangkan potensi suara yang bisa diraup dengan mengusung Soeharto. Ini pastilah berpijak pada keyakinan bahwa masyarakat masih rindu Orde Baru, dan terlebih-lebih rindu kepada Soeharto. Sejatinya ini anggapan yang masih pantas untuk diperdebatkan.
Prestasi PKPB pada 2004 menunjukkan bahwa pendukung Soeharto memang masih ada. Tapi, tidaklah sedahsyat yang diperkirakan banyak orang. Jika ditimbang-timbang dengan "nilai pasar" PKS saat ini, 'mencomot' kepopuleran Soeharto memang terbilang riskan. Soalnya ini akan menjadi bumerang bagi slogan partai ini sendiri yang mengedepankan sebagai partai "bersih" alias anti korupsi.
Karena itu pantas pula kalau kemudian ada yang menduga kengototan itu lebih karena memang telah ada kesepakatan yang harus dipenuhi oleh (sebagian elit) PKS. Dugaan ini mencuat karena secara eksplisit Fachry menyebut bukan untuk "keluarga cendana atau orang-orang tertentu". Persis sebaliknyalah orang membaca pernyataan tersebut. Pertanyaannya kemudian siapakah "orang-orang itu"?
Dalam hal ini ada yang menyebut PKS hendak melirik Mbak Tutut. Tetapi, tak sedikit yang menduga bahwa yang dilirik PKS adalah Bambang Triatmodjo. Ketertautan ini terjadi karena ada figur Aziz Mochdar di PKS. Pemilik gedung Cyber di bilangan Kuningan ini terdaftar sebagai caleg DPR RI di DKI Jakarta. Kalangan bisnis mengenal Aziz sebagai salah satu tangan kanan Bambang Triatmodjo semasa putra ketiga Soeharto ini di masih menguasai Bimantara.
Tentu saja ini masih sebuah spekulasi yang lahir dari sebuah manuver politik elit PKS yang tak biasa. Karena itu, untuk adilnya, dengarlah ucapan Tifatul mengenai soal Cendana sebagaimana dikutip dari pk-sejahtera.org. ""Kami larang kalau ada kader yang mendekati Cendana. Tolong, jangan lakukan itu. Itu akan mencederai partai kita,"tandasnya.
Hm,pemilihan kata "tolong" tak ayal menyiratkan adanya pesan khusus. Apa ya maksudnya?
|
|
|
|
|
|
|
|