Home  Meja EditorMeja Editor  Posting  Lensa  Apa Kata Anda  Login 
 
 
Ulasan
Rabu, 12 November 2008
Ulasan
Dari Riset Isi Media
Benarkah Pesaing SBY Sedang Tiarap?
Tags: SBY, PDIP, analisis_isi_mdia, krisis_keuangan
<b(berpolitik.com): "Jika tak ada di media, maka dianggap tak relevan". Inilah adigium yang kian menggema dalam dunia kampanye politik modern. Tak mengherankan jika alokasi terbesar dana kampanye tersalurkan untuk berurusan dengan media.>
(berpolitik.com): "Jika tak ada di media, maka dianggap tak relevan". Inilah adigium yang kian menggema dalam dunia kampanye politik modern. Tak mengherankan jika alokasi terbesar dana kampanye tersalurkan untuk berurusan dengan media. Cara tergampang dan diyakini terampuh oleh sebagain kandidat dan konsultan politik adalah dengan membanjiri publik dengan iklan yang intensif. Inilah yang misalnya dilakukan Prabowo (dan Gerindra) serta Soetrisno Bachir, misalnya. Iklan Ada Batasnya Hasilnya cukup beragam. Dalam survei, elektibilitas Prabowo memang melonjak, tetapi hasil yang dicapai Gerindra (dalam survei LSI September-Oktober 2008) tidak cukup menggembirakan. Ini terutama jika diperbandingkan dengan Partai Matahari Bangsa yang sama sekali tak beriklan. Partai terakhir ini meraih elektibilitas sekitar 1%, sedangkan Gerindra hanya 3%. Hasil yang kurang menggembirakan juga dialami Soetrisno Bachir. Popularitasnya memang terangkat ke permukaan ketimbang sebelum dirinya beriklan, tetapi posisi elektibilitasnya terbilang "gurem" dibandingkan dengan kandidat lain yang belum beriklan. Apakah ini artinya beriklan itu sia-sia? Jelas tidak. Iklan efektif untuk beberapa tujuan tertentu, tapi tidak untuk yang lainnya. Iklan, umpamanya, memang bisa mendongkrak awareness dan atau recall terhadap sebuah produk secara cepat. Tapi, ini pun bukan tanpa masalah. Tatkala semua kandidat sibuk beriklan, maka terciptlah apa yang sering disebut dengan istilah wallpaper effect: sejauh mata memandang akan terlihat sama saja! Dalam konteks kampanye politik, sebuah penelitian menyebutkan bahwa kekuatan utama iklan adalah pada kemampuannya untuk menjala pemilih yang mengambang. Pemilih tipe ini antara lain tercirikan dari keengganannya untuk mencari informasi secara mandiri dan mendalam tentang seorang kandidat. Karena itu, ia menjadikan iklan sebagai jalan pintar untuk mengambil keputusan. Sudah begitu, ada sebagian orang yang mulai skeptis terhadap iklan. Ini untuk sebagian karena kecanggihan dari iklan itu sendiri sehingga justru pesannya tak dimengerti. Untuk sebagian lagi karena pemilih semakin sedikit waktunya untuk mengunyah isi media. Alih-alih menunggu iklan, mereka aktif mencari informasi yang diinginkannya saja, dan mengabaikan yang selebihnya. Lagi pula, yang terpenting, tanpa ada sapaan langsung dan atau aktivitas konkrit dari kandidat, konten iklan dianggap sebagai jargon kosong belaka. Karena itulah, sembari memanfaatkan iklan secara bijak, para konsultan kampanye umumnya juga mengerahkan konsentrasi yang besar untuk melakukan pengemasan aktivitas kandidat di dalam pemberitaan. Terkait pilpres, bagaimana kiprah para capres dalam menangani pemberitaan? SBY masih Leading di Media Dalam soal ini ada sebuah riset isi media yang mengupas tentang pemberitaan capres selama bulan Oktober 2008. Kesimpulan penting dari riset itu menunjukkan bahwa dominasi SBY sebagai incumbent masih belum bisa diimbangi oleh kandidat yang lain dalam penguasaan berita di media cetak. Ini terutama disebabkan karena para pesaing SBY tersebut belum memanfaatkan secara maksimal tiga elemen utama dari produk politik: kandidat, partai dan program, dalam pemunculan di media cetak. "Para kandidat belum mampu membuat diferensiasi untuk membangun personality sehingga bisa mampu masuk menjadi agenda setting media," tulis kesimpulan riset tersebut (untuk membaca hasil riset selengkapnya silahkan klik maknainformasi). Dalam sebulan terakhir di media massa, keberhasilan utama SBY terletak pada kemampuannya untuk memimpin isu seputar penanganan krisis keuangan global. Dalam hal ini, hampir tak ada capres lain yang masuk ke pusaran pemberitaan, apalagi secara cerdik menunjukkan dimana "bolong"-nya kebijakan ekonomi SBY selama ini tanpa terjebak sebagai orang yang sekadar 'menyalahkan'. Riset Maknainformasi itu menunjukkan, hanya Megawati dan Rizal Ramli yang ikutan bicara soal krisis. Tetapi itu pun sebatas memaparkan masalah dan atau menyalahkan perintah tanpa memberikan solusi. Pokok terpenting lain dari temuan ini menunjukkan bahwa aktivitas below the line dari para pesaing SBY relatif tak terangkat dan atau terkemas. Meski sejumlah kandidat mengaku melakukan kunjungan, mengadakan pertemuan ataupun aktivitas karikatif lainnya, mereka gagal menghadirkan aktivitas itu di media. Yang lebih pokok lagi, mereka gagal memanfaatkan kegiatan itu untuk berselancar menggemakan gagasan mereka yang mestinya juga berbeda dengan SBY. Dalam hal ini harus digarisabawahi bahwa pesaing SBY bukannya tak berupaya mencoba berselancar. Megawati dengan PDIP, umpamanya, pernah menggelindingkan isu penculikan aktivis. Tapi lantaran dikemas secara sembrono akibatnya malah menjadi bumerang bagi Megawati. Ini sesuai dengan ulasan berpolitik.com beberapa waktu takala wacana itu mulai digulirkan (baca ulasannya di sini). Kegagalan serupa juga pernah dialami Megawati dan PDIP tatkala menanggapi pengakuan Agus Tjondro soal "Duit Miranda" ataupun soal Tangguh.(untuk hal ini bisa baca ulasannya di sini dan di sini) Selebihnya, aktivitas para kompetitor SBY relatif sepi di media massa. Tak heran jika orang kebanyakan pun bertanya-tanya aktivitas gerangan apa yang sedang mereka kerjakan. Yang usil malah bikin isu baru. "Lagi, tiarap, bos,"katanya tanpa menjelaskan maksudnya. Hm, ada-ada saja. Tapi, ya itulah resiko kalau tak hadir di media. Tak ada di media maka dianggap tak revelan. Tapi, hadir pun tak pengemasan informasi yang tepat bisa jadi bumerang pula sebagaimana telah dialami Megawati dan PDIP. Serba salah, memang.
About Us  Site Policy  Site Map  Arsip 
Copyright 2007 Berpolitik.com All right reserved