| Ulasan |
| Senin, 10 November 2008 |
| Ulasan |
Satu Bangsa, Dua Hati? Setelah Amrozi dkk Mendadak Jadi "Pahlawan" |
| Tags: Negara_Islam, Teroris, amrozi, piagam_jakarta |
(berpolitik.com) Ada kecemasan tak terkatakan setelah Amrozi Cs dieksekusi. Kecemasan akan kemungkinannya adanya balas dendam dari kelompok-nya Amrozi yang masih bebas berkeliaran. Kecemasan itu tak menyeruak lantaran "surat wasiat" yang didaku milik mereka yang beredar di internet.> |
(berpolitik.com) Ada kecemasan tak terkatakan setelah Amrozi Cs dieksekusi. Kecemasan akan kemungkinannya adanya balas dendam dari kelompok-nya Amrozi yang masih bebas berkeliaran. Kecemasan itu tak menyeruak lantaran "surat wasiat" yang didaku milik mereka yang beredar di internet.
Tapi, membumbung karena salah satu dari tiga tereksekusi pernah melontarkan kemungkinan itu tatkala mereka masih menjalani persidangan. Dan, ini diperkuat dengan temuan bom di dua tempat menjelang pengeksekusian mereka.
Dan, ada pula yang lebih cemas menilik begitu hangatnya sambutan yang diberikan kepada Amrozi Cs. Julukan "Syuhada', 'mati syahid" dan 'pahlawan Islam" digemakan dalam berbagai bentuk, dari spanduk hingga plakat.
Para penyeru itu tak hanya keluarga dan kerabat ketiga tereksekusi. Tapi, disuarakan berbagai kalangan ormas Islam baik yang sudah akrab di telinga publik maupun tidak. Dan, kian terasa nyaring karena disiarkan dengan gegap gempita oleh televisi.
Tak salah jika seorang pengamat politik menyatakan Amrozi Cs bagai mendadak jadi pahlawan di kalangan kelompoknya. Dan, persis seberangan dengan itu, para korban, kata Hermawan Sulistyo, mengalami viktimisasi untuk kedua kalinya. Kembali menjadi korban karena kesannya mereka memang "sampah" yang matipun sepertinya dianggap bukanlah masalah.
Bagi pengamat, julukan yang diberikan kepada Amrozi Cs sangat boleh jadi tak masuk akal. Menurut hukum positif dan bukti-bukti yang tersaji di pengadilan, tak ada keraguan bahwa merekalah pelaku Bom Bali I: teroris.
Sebaliknya, julukan 'Syuhada' dan lain-lain yang dilekatkan kepada Amrozi pastilah berasal dari pemaknaan tentang jihad. Pokok soalnya bukan apakah penafsiran tentang jihad dari kelompok yang mengagungkan Amrozi dkk keliru atau tidak. Tapi, pokok soalnya adalah karena karena kukuhnya pendirian mereka untuk memakai tata nilai dan hukum yang berbeda dalam urusan berbangsa dan negara.
Situasi ini juga pernah terekam tatkala berlangsung perdebatan antara kelompok AKKBB dengan FPI dkk di sebuah televisi nasional. Di satu pihak, AKKBB selalu berbicara atas nama hukum positif. Persis sebaliknya, juru bicara dari FPI selalu menyebut Al-Quran sebagai basis hukum yang menjadi sandarannya.
Fenomena ini semestinya mengingatkan kita semua bahwa keinginan menghidupkan "Piagam Jakarta" tak jua surut meski langkah serupa pernah kandas pada tahun 2001 lalu saat UUD 45 mulai diamandemen. Ketika itu, PPP dan PBB tampil paling depan sebagai pengusungnya. Di kalangan pengusung Piagam Jakarta terdapat keyakinan kuat bahwa pembatalan Piagam Jakarta merupakan "buah ancaman" dari kaum minoritas dan sekaligus "pengkhianatan" yang dilakukan bung Hatta.
Namun, cukup diragukan bahwa Amrozi dkk sekadar memperjuangkan agar Piagam Jakarta dihidupkan kembali. Sepertinya, Piagam Jakarta bagi mereka sudah tak lagi memadai. Dari istilah dan jargon-jargon yang diutarakan, tak sulit menebak bahwa yang tengah diperjuangkan adalah sebuah negara yang bukan NKRI.
Pada titik ini, banyak orang yang masih bingung: siapa yang masih bersandar pada Piagam Jakarta dan siapa ngotot tentang negara yang bukan NKRI di nusantara. Barangkali pada titik ini ajakan untuk "berbicara" jadi relevan.
Dalam hal ini, sebagian kelompok-kelompok yang seide dengan Amrozi dkk sudah menyatakan dirinya ke hadapan publik tentang pendirian politik mereka.Tentu saja pertanyaannya tidak relevan jika ditujukan kepada PDIP yang sudah jelas pendirian politiknya. Pertanyaan seperti ini relevan bagi partai-partai berasas Islam.
Hm, bagaimana ya, sikap mereka tentang Amrozi, tentang julukan Syuhada dan pahlawan Islam yang dilekatkan kepada ketiga tereksekusi itu, dan barangkali juga tentang gagasan pendirian negara Islam itu?
|
|
|
|
|
|
|
|