| Ulasan |
| Senin, 03 November 2008 |
| Ulasan |
| Berharap Hadirnya Capres Alternatif yang Tangguh. Mungkinkah? |
| Tags: Pilpres, Capres_Alternatif, SBY, Megawati |
<b>(berpolitik.com):</b> Setelah persyaratan parpol pengusung capres disahkan DPR, sudah dapat dipastikan hanya sedikit calon yang bisa berkompetisi. Sangat mudah dibaca, para kandidat kelas atas seperti SBY dan Megawati memang menginginkan kondisi seperti itu. Dan, ini pastinya terkait dengan perhitungan mereka masing-masing tentang peluang untuk menang.
Yang paling awal harus diberi catatan, lolosnya persyaratan bisa dipastikan pula atas keinginan sebagian besar partai politik yang ada di parlemen. Sebab, kalau partai menengah dan kecil kompak menghadang persyaratan ini, usulan Golkar dan PDIP yang mematok persyaratan tinggi bisa dilawan melalui voting. Prosentase kedua partai itu di parlemen hanyalah 43,09% saja.
Dari ini saja kita bisa menduga bahwa sejumlah partai menengah sudah menggadang-gadang diri untuk mengusung kandidat kelas atas, entah SBY atau Megawati. Karena itu mereka tak secara serius menolak persyaratan yang sejatinya meminggirkan peluang parpol menengah dan kecil tersebut. Kepada siapa mereka bakal berlabuh?
Meski sempat menyebut nama Sultan, PPP diprediksi akan kembali mengusung SBY. Penyebutan nama Sultan dan atau nama kader-kader mereka sendiri diyakini sebagai "teknik" meningkatkan daya tawar saja.
Kecenderungan yang serupa juga bakal terjadi pada PAN dan PKB. PAN diprediksi bakal memilih SBY jika Amien Rais tidak menunjukkan gelagat mau menyalonkan diri secara serius (lagi). Hal ini semakin menguat jika Megawati jadi berkoalisi dengan PKS. Hal yang sama diprediksi akan terjadi pada tubuh PKB Muhaimin Iskandar yang tak lagi mempunyai kewajiban mengusung Gus Dur.
Di lain pihak, PKS juga diprediksi tak bakal berani melaju sendirian. Sejauh ini di dalam tubuh partai tersebut masih terjadi tarik-menarik: berduet dengan PDIP atau kembali mengusung SBY.
Tapi, prediksi ini bakal rontok jika terjadi dua hal berikut ini. Pertama, partai menengah bakal ramai-ramai memalingkan dukungan jika tak mendapat tawaran yang 'pantas' di kabinet yang baru. Kemungkinan itu bisa terjadi jika Golkar terus ngotot kepada SBY untuk mendapat kursi menteri yang lebih banyak lagi.
Kedua, partai-partai menengah bakal kabur dari SBY jika dalam 2-3 bulan ke depan perekonomian global dan karenanya di dalam negeri juga terus mengalami tekanan ke arah resesi. Peluang terjadinya apa yang disebut krisis gelombang kedua masih terbentang lebar sebagaimana diulas sejumlah ekonom lokal dan mancanegara.
Jika perekonomian terpelanting, SBY memang dalam bahaya. Terutama sekali jika tingkat pertumbuhan di luar Jawa merosot drastis. Tanda-tanda pelambatan itu sudah terjadi karena sejumlah komoditas andalan yang dihasilkan di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi seperti kelapa sawit, kakao, karet dan juga batubara harganya terus anjlok di pasaran internasional.
Sebagaimana disebut Saeful Mudjani dalam survei terbaru LSI baru-baru ini, margin kemenangan SBY atas Megawati ditentukan oleh tingkat kepuasan pemilih di luar Jawa yang lebih tinggi ketimbang margin kekalahan SBY di jawa terhadap Megawati.
Persis pada saat itulah, sangat terbuka skenario yang melempangkan kehadiran calon alternatif yang signifikan. Dalam artian ini, kandidat ketiga itu tidaklah menjadi penggerus salah satu kandidat saja.
Jika menginginkan perubahan, logisnya parpol menengah dan atau parpol baru harus mendukung kandidat yang memiliki popularitas cukup memadai dengan tingkat resistensi publik yang rendah.
Memang akan terjadi kompetisi yang ketat untuk menetapkan siapa calon alternatif tersebut. Sejauh ini ada nama Sultan Hamengku Buwono X yang disebut-sebut. Tapi, kans Prabowo dan bahkan Wiranto belum lagi tertutup. Masih ada berbagai skenario untuk melumpuhkan capres alternatif yang kuat agar persaingan hanya tinggal antara SBY dan Megawati saja.
Pada titik ini, dibutuhkan kebesaran jiwa para pentolan politik untuk mengubur ambisi demi hadirnya kompetisi politik yang ketat pada pilpres 2009 nanti. Semakin ketat kompetisi itu, semakin baik bagi pemilih dan juga bagi bangsa.
Sebagaimana selalu disebut dalam ulasan terdahulu, dalam kompetisi yang ketat, semua kartua kandidat lebih mungkin terbuka. Pada saat yang bersamaan, pemilih juga semakin dihadapkan pada situasi "trade off". Pada situasi seperti itu, tak hanya perasaan yang bermain, tetapi juga akal sehat. Bukan begitu?
|
|
|
|
|
|
|
|