Home  Meja EditorMeja Editor  Posting  Lensa  Apa Kata Anda  Login 
 
 
Ulasan
Kamis, 30 Oktober 2008
Ulasan
Bersiap-siaplah Menuai Badai Kampanye Negatif, Sultan!
Tags: Capres, Kampanye_Negatif, Sri_Sultan
<b(berpolitik.com): Selamat datang, Sri Sultan Hamengku Buwono X ! Kehadiran Anda niscaya bakal kian menyemarakkan pilpres 2009. Dari sudut kepentingan pemilih, semakin ketat pertarungan memperebutkan kursi RI-1 semakin baik. Apa pasal?>
(berpolitik.com): Selamat datang, Sri Sultan Hamengku Buwono X ! Kehadiran Anda niscaya bakal kian menyemarakkan pilpres 2009. Dari sudut kepentingan pemilih, semakin ketat pertarungan memperebutkan kursi RI-1 semakin baik. Apa pasal? Jika pertarungan antar kandidat berlangsung ketat, segala daya dan janji akan diumbar. Tak terkecuali sisi-sisi gelap dari masing-masing calon presiden. Bisa saja hal itu berlangsung secara brutal, tapi bisa pula berlangsung senyap meski efeknya tetap sama: merusak kredibilitas dari tiap-tiap calon. Terkait itulah, patut kiranya diucapkan selamat menuai isu kepada Sri Sultan. Soalnya, dalam pemantauan berpolitik.com, kampanye negatif terhadap Sri Sultan sudah berlangsung. Pesan itu tak diteriakkan di media massa, tapi ditularkan dari satu orang ke orang lainnya. Jika diamati, para penyebar isu bukanlah orang sembarangan. Mereka bisa dikategorikan sebagai orang-orang yang memiliki relasi cukup banyak dengan berbagai kalangan. Ini menandakan penyebaran isu negatif tentang Sri Sultan dirancang cukup baik. Jikalau pun saat ini, isu itu belum menjadi buah bibir masyarakat luas lebih disebabkan karena virus isu itu belum mendapatkan pemuka pendapat yang lengkap. Untuk menyebar secara massif, kampanye negatif dengan cara getuk tular masih membutuhkan penyebar dengan kategori lain. Yakni, pertama, orang cukup punya kredibilitas sehingga omongannya terasa punya bobot. Kedua, yakni penyebar informasi yang punya semangat gigih layaknya penjaja produk. Dus, isu negatif tentang Sri Sultan masih berputar-putar di kalangan terbatas. Sejatinya, tak hanya itu penyebabnya. Isu negatif itu belum menjadi buah bibir karena di waktu-waktu yang lalu belum terasa relevansinya. Di waktu lampau, isu-isu negatif tersebut masih diangap wilayah privat yang tak pantas dipersoalkan. Berbeda dengan saat ini. Setelah resmi mencalonkan diri, isu negatif tersebut jadi relevan. Tingkat arti pentingnya jadi terasa terutama sekali bagi para kandidat yang merasa Sri Sultan bakal menjadi pesaing yang tangguh. Tak akan mengherankan jika kemudian para pendukung mereka akan menggemakan isu-isu negatif tersebut melalui cara dan medium mereka masing-masing. Tingkat penyebarannya akan semakin deras dan meluas jikalau ada tanda-tanda pencalonan Sultan mulai menangguk simpati para pemilih. Persis pada saat itu pulah, isu-isu negatif akan menemukan para penjaja cerita yang kerap tanpa maksud untuk berbagi kisah yang telah mengalami penambahan-penambahan. Konten Kampanye Negatif Pada saat ini, berdasarkan pemantauan berpolitik sekurang-kurangnya sudah ada beberapa amunisi yang ditujukan terutama sekali untuk menggerus kharisma personal Sri Sultan. Beberapa isu tersebut adalah sebagai berikut: Pertama, kisah komersialisasi lahan-lahan milik keraton. Isu ini dikaitkan dengan pendirian sejumlah hotel dan mall di lahan-lahan milik keraton di pusat kota Yogyakarta. Kedua, kisah pat gulipat APBD DIY Yogyakarta. Para penghubung hanya menyatakan begitu saja tanpa merujuk pada satu fakta proyek apapun yang dianggap duitnya telah ditilep. Ketiga, soal kegemaran bermain judi dan berasyik-masyuk dengan perempuan. Kisah ini sepertinya hendak ditautkan dengan stereotype raja dan bangsawan tempo dulu. Soal isu ini, tak ada nama perempuan yang sudah disebut dan tak ada informasi soal dimana dan berapa besar harta yang sudah ludes karena dua kegemaran tersebut. Padahal, biasanya, untuk urusan isu perempuan,selalu ada nama yang disebut. Keempat, kisah bangkitnya feodalisme. Para penghubung yang menularkan isu ini umumnya hanya berhenti pada pernyataan seperti ini: "Apa jadinya kalau Raja jadi Presiden? Bisa-bisa Indonesia bakal jadi kerajaan lagi!" Tak ada argumentasi lebih lanjut yang bisa menerangkan bagaimana mungkin seorang Sultan bisa mengubah bentuk negara ini, sementara pemberontakan bersenjata saja dan atau badai wacana federalisme yang sempat bangkit pada 1999 lalu gagal mengubah bentuk NKRI. Seperti telah disebut, dalam perkembangannya, isu-isu ini dipastikan bakal semakin dibumbui agar terasa mak nyus. Meski isu ini memang berpotensi bisa menghancurkan kredibilitas Sri Sultan, tapi jangan lupakan kemungkinan sebaliknya. Ada cukup banyak masyarakat yang masih melihat kharisma besar dari Sri Sultan. Tak sedikit pula yang sudah "patah arang" dengan kandidat yang sudah ada saat ini. Bagi kelompok yang pertama, terjangan isu-isu itu justru kian mengukuhkan tekad mereka untuk mendukung pencalonan Sri Sultan. Bagi kelompok yang kedua, informasi itu tak relevan karena mereka sudah sampai pada satu tekad: mesti orang baru! Jadi, bagi para kompetitor Sri Sultan, janganlah gegabah menebar isu. Salah-salah justru Anda yang bakal kian tergerus.
About Us  Site Policy  Site Map  Arsip 
Copyright 2007 Berpolitik.com All right reserved