| Ulasan |
| Rabu, 29 Oktober 2008 |
| Ulasan |
Jangan Sewot, Kalau Publik Kembali Bertanya-tanya Media Sudah Meributkan Pengetatan Likuditas Sejak September Lalu |
| Tags: likuiditas, rupiah, cadangan_devisa |
<b>(berpolitik.com)</b> Seorang reporter lepas yang bekerja untuk kantor-kantor berita asing <i>ngedumel</i>. Dia mengaku merasa dipermainkan. "Bayangkan saja, masak untuk mengambil duit 3000 dolar US saja dipimpong ke sana, ke sini,"ucapnya dengan nada tinggi.
Menurut kisah dia, pekan lalu, dia menarik duitnya untuk suatu keperluan. Tak dinyana, bank tempat dia menaruh duitnya mengaku tak lagi mempunyai simpanan dollar. Di sebuah kantor cabang bank ini di bilangan Jakarta Selatan, seorang tellernya cuma berujar,"Ya, tadi baru saja ada yang menarik 4200 dollar US. Itu dollar kami yang terakhir. Bapak coba ke Thamrin, saja," ucap si reporter ini menirukan perkataan sang teller.
Maka dengan sangat terpaksa bin jengkel, dia pun terpaksa melaju dari sekitaran Ampera menuju kantor pusat Bank tersebut yang berada di bilangan Thamrin. Singkat cerita, duit itu bisa ditarik. Tapi, tak urung dia memaki,"Masak untuk duit segitu saja meski ke Thamrin sih?"
Kalau si reporter ini memaki, sejumlah kalangan sibuk bertanya-tanya: benarkah bank-bank di dalam negeri cukup punya duit? Seorang ekonom yang dihubungi berpolitik menyatakan, pada dasarnya likuiditas perbankan masih memadai. Yang terjadi,"Mereka (bank-bank--red) berupaya semaksimal mungkin tak mengeluarkan duit dari kasnya. (Mereka) khawatir di rush meski pemerintah sekalipun sudah menaikkan batas jaminan simpanan hingga 2 miliar,"tandasnya.
Kekhawatiran itu pada dasarnya bukan tanpa dasar. Pemberitaan tentang kesulitan likuditas perbankan nasional sudah mengemuka jauh sebelum krisis finansial meledak pada Oktober ini. Sebuah analisis isi terhadap pemberitaan media selama periode 8-19 September 2008, misalnya, menunjukkan bahwa pemberitaan media massa didominasi oleh isu ketatnya likuiditas. Isu ini merupakan isu bergulir selama beberapa bulan terakhir.
Menurut analisis itu, media menyorot serius isu likuiditas setelah Bank Indonesia (BI) mengumumkan data tentang perkembangan kredit yang mencapai 33% dan pertumbuhan dana masyarakat di bank hanya 11%. Selain itu, terkurasnya dana bank yang disimpan dalam Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dari Rp. 142 triliun menjadi hanya RP. 98 triliun.
Kondisi yang sama juga terjadi pada dana yang disimpan dalam Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) yang pada bulan Juli tergerus Rp. 630 miliar. "Data-data di atas menjadi petunjuk bahwa bank sedang menghadapi persoalan likuiditas." (lebih lengkapnya silahkan klik <a href=http://www.maknainformasi.com/blog/?p=19 target=_blank><font color=red>maknainformasi.com</font></a>).
Terkait wacana kekeringan likuiditas ini, mulai mengemuka pertanyaan menyangkut cadangan devisa kita. Meski pemerintah berkali-kali menyatakan cadangan devisa masih aman, tapi data-data yang disajikan media sangat mungkin juga mendorong kesimpulan yang berbeda dari yang dimaui pemerintah.
Bagaimana tidak. Media massa memberitakan, cadangan devisa Indonesia dalam dua bulan ini terus mengalami penurunan. Cadangan devisa pada 29 Agustus 2008 tercatat US$ 58,356 miliar, turun lebih dari US$ 2 miliar dibandingkan posisi 31 juli 2008 yang mencapai US$ 60,563 miliar.
Pada 29 September 2008, cadangan devisa kembali turun US$ 1,248 miliar menjadi US$ 57 miliar. Paling akhir, 15 Oktober cadangan devisa tinggal sebesar US$ 52,4 miliar. Nilai cadangan devisa ini lebih kecil 4,1 miliar USD dari sepekan sebelumnya.
Kian merosotnya cadangan devisa tak ayal membuahkan keraguan menyangkut kekuatan nilai tukar rupiah yang Selasa kemarin (28/10) anjlok menyentuh angka Rp 11.950 per dollarnya. Pihak BI menegaskan nilai tukar rupiah bakal kembali normal karena bakal ada gelontoran duit dalam waktu dekat ini, seperti uang-nya Q-tel. Tapi, pelaku pasar menyatakan sebaliknya. Lagi pula, kata mereka, guyuran duit BI ke pasar dikhawatirkan bakal tak ubahnya bagai "menggarami laut" saja.
Dalam situasi seperti ini, ada baiknya BI dan pemerintah tak bermain-main dengan pernyataan dan atau berkesan hendak menutupi informasi. Jika sinyal itu tertangkap pelaku pasar, tak ayal bakal banyak rumors yang berkembang. Dan, itu semua hanya akan membuat rupiah semakin letoy saja.
|
|
|
|
|
|
|
|