| Ulasan |
| Selasa, 28 Oktober 2008 |
| Ulasan |
| Duet PKS - PDIP, Apa Salahnya? |
| Tags: PKS, PDIP, koalisi, Capres |
<b>(berpolitik.com)</b> gagasan koalisi PDIP dengan PKS bukan baru kali pertama dilansir.Reaksi yang keluar pun selalu sama: beberapa pengamat menganggap koalisi ini sebagai sesuatu yang muskil dan menyimpan segudang masalah.
Analisa itu berpihak pada perbedaan yang tajam tentang ideologi antara kedua partai. PDIP dianggap sebagai representasi nasionalis (atau barangkali juga wadahnya kaum abangan), sedangkan PKS adalah representasi Islamn modernis. Jika hendak dicari-cari, terlalu banyak perbedaan antara kedua partai ini sehingga memang masuk akal untuk mempertanyakan keefektifan jalannya pemerintahan.
Sepintas, penggolongan itu masuklah akal. Tapi, sekaligus itu menunjukkan cara pandang yang menganggap segala sesuatunya nyaris tak berubah.Jika mempercayai hal ini maka kita hanya memperkuat saja pembelahan-pembelahan yang sekadar berpijak pada realitas di masa lalu.
Cara pembelahan seperti ini mengabaikan adanya kreativitas dan pergeseran-pergeseran di tubuh kedua partai tersebut. Tengoklah PDIP. Mereka tak sekadar membentuk Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi) agar tak disebut partai "kristen". PDIP terbilang serius secara politik untuk menggeser posisinya lebih ke tengah. Dan, ini dibuktikan dengan keberaniannya untuk memberi tempat pada elemen Bamusi pada nomor jadi di sejumlah daerah.
Dan, seperti ditunjukkan oleh survei Lembaga Survei Indonesia, mereka yang mendaku diri sebagai PDIP pada nyatanya juga rajin menjalankan ibadahnya bahkan tak jarang lebih rajin ketimbang mereka yang menyatakan loyalitasnya kepada partai-partai Islam.
Pun hal di PKS. Meski faksionalisasi di tubuh partai ini tak terkespos ke luar, toh nyatanya pengutuban itu nyata ada. Dan, itu menyangkut orientasi politik, baik tentang bagaimana partai dikelola pun tentang ke-Indonesia-an itu sendiri.
Tentu saja seandainya mereka menang dan memerintah, bakal ada jurang yang cukup dalam mengenai beberapa hal pokok maupun yang sampiran. Bisa saja pemerintahan bakal tak efektif, tetapi tidak tertutup kemungkinan ada konsensus-konsesus terobosan yang menghadirkan pembaruan di tanah air. Lagi pula, secara logisnya, pada akhirnya mereka dihadapkan pada keharusan untuk unjuk kinerja agar suara partai mereka pada pemilu berikutnya tidak anjlok.
Sekurang-kurangnya jika terbentuk, faedah lain keberadaan koalisi itu justru menjadi batu ujian tentang pergeseran-pergeseran yang diklaim oleh masing-masing partai. Dalam hal ini publik akan melihat dan menilai seberapa serius keduanya ketika dihadapkan pada situasi konkrit: melakukan keputusan-keputusan yang akan mempengaruhi masa depan bangsa. Dan, sejatinya, juga mempengaruhi masa depan partai mereka sendiri.
Jika kemudian PKS atau PDIP lebih mengutamakan duel sesama mereka sendiri ketimbang membuat kebijakan publik, niscaya "nilai jual" mereka bakal merosot habis pada pemilu-pemilu berikutnya. Tapi, jika mereka berhasil menemukan sintesa baru bagi kemajuan bangsa, situasi gemilang akan menanti kedua partai tersebut.
Koalisi PKS dan PDIP jika efektif bakal menghadirkan mesin politik yang massif untuk menggerus SBY, entah dengan siapapun dia kelak berpasangan. Pekerjaan rumah terbesar kedua partai ini adalah memberi keyakinan di akar rumput tentang pendirian partai menyangkut arti penting koalisi tersebut.
Dalam hal ini, pasti ada bakal ada simpatisan ataupun kader yang mempertanyakan dan bahkan memilih hengkang dari partainya. Tapi, jangan dilupakan kemungkinan adanya peluang baru untuk meraup simpatisan baru dalam jumlah yang signifikan.
Jadi, ada baiknya tak cepat membekukan hati.
|
|
|
|
|
|
|
|