| Ulasan |
| Senin, 27 Oktober 2008 |
| Ulasan |
| Kalau Golkar Terus Jual Mahal,Sri Mulyani pun Bakal Terbilang |
| Tags: SBY, Capres, Kalla, sri-mulyani |
(berpolitik.com): Meski banyak yang antre ingin menjadi cawapresnya SBY, namun sejauh ini Kalla-lah yang dianggap paling pas menjadi pendamping putra pacitan ini. Karena itu ada yang beranggapan, SBY lebih membutuhkan Kalla ketimbang sebaliknya.> |
(berpolitik.com): Meski banyak yang antre ingin menjadi cawapresnya SBY, namun sejauh ini Kalla-lah yang dianggap paling pas menjadi pendamping putra pacitan ini. Karena itu ada yang beranggapan, SBY lebih membutuhkan Kalla ketimbang sebaliknya.
Persis karena itu pula tak mengherankan jikalau sebagian orang-orang Golkar bersuara sumbang soal pencalonanan kembali SBY-Kalla. Menurut mereka, Kalla sangat pantas maju sebagai capres, terlebih kalau Golkar kembali jadi pemenang pemilu 2009 atau suara Demokrat tak mampu mengimbangi perolehan partai berlogo pohon beringin ini.
Orang-orang Golkar makin kebelet mendorong perpisahan itu lantaran partai-partai baru dan lama ramai-ramai meledek "kesediaan" Golkar untuk hanya mencalonkan orangnya sebagai wakil presiden. Meski memahami ledekan itu sarat maksud tersembunyi, tak bisa dielakkan bahwa hal itu setidaknya telah menggores sejumput harga diri mereka.
Sebaliknya, sebagian pendukung SBY juga mulai geram melihat lagak Golkar yang terus jual mahal. Bagi mereka, tingkah Golkar itu hanya sekadar upaya menaikkan "mahar" belaka: menyangkut porsi menteri yang lebih banyak dengan posisi menteri yang lebih strategis.
Sungguhpun demikian, memang tersisa sebuah kekhawatiran dibenak para pendukung SBY. Meski banyak yang kebelet jadi pasangannya SBY, adakah yang benar-benar bisa "selengkap" Kalla?
Plus-Minus Calon Alternatif
Dari daftar pendek nama-nama cawapres, ada Hidayat Nurwahid. Kekuatan utama Hidayat tak pelak adalah soal mesin politik PKS yang terbilang solid dan militan. Tapi, Hidayat tak bisa mewakili unsur "luar jawa" dan juga ada kekhawatiran sebagian kalangan TNI bakal balik badan melawan SBY. Persoalan lain, PKS sudah mengisyaratkan keengganan untuk berdampingan dengan SBY.
Selain Hidayat juga ada tokoh Golkar lain: Sultan HB X. Nilai positif Sultan terutama sekali terletak pada kemampuannya untuk menambal kehilangan suara SBY di pulau Jawa, terutama sekali di Jawa Tengah dimana kekuatan Megawati terbilang solid.
Dengan merangkul Sultan, SBY juga bisa meredam kalangan kritis yang kebanyakan mendukung Sultan meski secara diam-diam. Persoalannya, ada yang mengkhawatirkan bahwa kedua figur ini punya tipe kepribadian yang mirip-mirip hingga amat diragukan bakal mampu menghadirkan pemerintah yang efektif. Sebagaimana Hidayat, Sultan juga tak bisa menutupi faktor "luar jawa".
Untuk urusan itu, memang tersedia nama Fadel Muhammad. Gubernur Gorontalo yang juga tokoh Golkar ini bisa jadi cawapres alternatif. Tapi, sayangnya, ada yang beranggapan, unsur luar jawa ini tak bisa menolong SBY jika Kalla jadi capres. Soalnya nilai sentimen luar jawa pasti lebih mencorong ke arah Kalla yang berposisi sebagai capres ketimbang Fadel yang cawapres.
Dus, ada yang menyatakan unsur luar jawa tak signifkan jika lawan SBY adalah Kalla, dengan tak mengesampingkan Megawati atau capres lainnya, tentu saja. Apakah ini artinya SBY bakal kerepotan bertanding lawan Kalla?
Ani, Jadi Kartu Truf
Memang masih sulit untuk memprediksinya. Tapi, diyakini SBY punya kartu truf baru. Dia adalah sosok yang selama ini menjadi punggawa ekonomi kabinet Indonesia Bersatu. Dan, menariknya, sosok yang satu ini juga kerap dikabarkan sering berbeda pandangan dan sikap dengan kalla.
Ya, tak salah kalau Anda menebak sosok yang dimaksud tak lain dari Sri Mulyani. Meski kerap dikritik sebagai ekonom neolib, Kepiawaian, ketenangan dan ketegasannya dalam menyikapi krisis global yang menerjang Indonesia menambah bobot Sri Mulyani. Tak heran kalangan pengusaha pun mampu dibuat tenang dengan penjelasan dan pilihan program yang ditetapkan Ani.
Dalam hal ini, berbeda dengan Kalla, Ani diyakini sangat kurang benturan kepentingannya dalam urusan ekonomi. Ani sejauh ini tak mempunyai hasrat untuk turut mendulang proyek sebagaimana disindirkan kepada Kalla pun Bakrie.
Ada yang menyebut, Ani belum layak jadi pendamping SBY karena dianggap bukan sosok yang dikenal publik. Pandangan ini pastinya baru sebatas asumsi. Sejauh ini, tak ada survei yang sudah memasukkan Ani dalam daftar cawapres pilihan. Sehingga masih sulit untuk menyatakan tingkat keterkenalan Ani, lebih-lebih tingkat keterpilihannya.
Di luar kompetensinya, sosok Ani bakal menghadirkan warna dan jualan baru bagi SBY: keberpihakannya dengan perempuan. Justru karena bukan menjadi orang nomor satu seperti Megawati, sosok Ani jadi terasa pas bagi kalangan yang masih ogah dipimpin kaum perempuan. Sudah begitu, sejatinya, Ani juga bisa mewakili sosok nasionalis karena orang tuanya disebut-sebut berasal dari keluarga besar "PNI".
Dengan Ani sebagai pendampingnya, publik domestik dan mancenagara juga bakal mendapat kepastian menyangkut konsistensi kebijakan ekonomi yang kurang distorsinya. Ini dikarenakan ada anggapan pada masa jabatan kedua SBY akan lebih "gila-gilan" karena tak mesti bertarung lagi lima tahun berikutnya. Dengan adanya Ani, kebijakan ekonomi bisa diyakini tetap pada jalurnya: efektif, meski menyebalkan buat sebagian kecil kalangan yang merasa bisa tak menuai untung.
Dan, tak bisa dilupakan soal kinerjanya selama ini. Di tangan Anilah, Depkeu terus direformasi. Bea Cukai dibenahi. Terakhir dia tak sungkan merotasi eselon dua. Figur-figur yang tak punya kompetensi pun ragu disingkirkan. Singkatnya, Ani pun piawai mengelola birokrasi.
Jadi, ada baiknya Golkar jangan cepat gede rasa duluan. Masih ada Ani alias Sri Mulyani yang bisa memelihara peluang menang SBY. Nah!
|
|
|
|
|
|
|
|