| Ulasan |
| Jumat, 24 Oktober 2008 |
| Ulasan |
| Memang Susah ya Memblejeti SBY? |
| Tags: SBY, Megawati, PDIP, wiranto |
<b>(berpolitik.com):</b> Tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Itulah yang bisa dibaca dari manuver SBY akhir-akhir ini. Tengoklah, umpamanya, soal politik dinasti.
Tatkala media, terutama Kompas,meramaikan soal politik dinasti, SBY bersigap menangkapnya. Ia langsung mengumumkan pendegradasian putranya, Edhi Bhaskoro, dari caleg urutan pertama menjadi hanya nomor tiga.
Langkah SBY ini terang menohok banyak pihak. Tak kurang pihak Megawati langsung mengimbuhi bahwa mereka akan mengkaji ulangnya banyak caleg yang tergolong kerabat Megawati atau Taufik Kiemas.
Dari sisi komunikasi politik, langkah Megawati terasa ganjil. Sebagai penantang, aturan mainnya Megawatilah yang mesti aktif melakukan penyerangan, menyibak berbagai takbir kelemahan atau kebobrokan incumbent yang tak lain adalah SBY. Yang terjadi, justru sebaliknya. Sudah begitu, tanggapan yagn diberikan tak istimewa.
Semestinya, Megawati melangkah lebih banyak dan atau lebih dalam. Kalau SBY mendegradasikan anaknya, Megawati semestinya mendegradasikan figur yang lebih besar lagi, menggusur Taufik Kiemas, misalnya. Jadi, kalau sekadar mempertimbangkan, sangat tidak "nendang".
Tatkala diserang, SBY secara cerdik cepat mengambil posisi. Lihatlah dalam soal pembumbungan isu penculikan yang dilontarkan politikus PDIP. SBY secara cepat menangkis tetapi sekaligus menunjukkan sikap kenegaraan. Orang-orangnya dengan telak memakai pembingkaian "politik gelap mata" dan "fitnah". Tapi, SBY tak menunjukkan rasa amarah yang kerap dia tunjukkan tatkala menyerang sisi personalnya.
SBY dengan lincah menangkap serangan karena ia mafhum benar untuk soal penculikan persepsi publik hanya tertuju pada satu nama: Prabowo. Dus, memang agak mengherankan kalau Wiranto tak turut mengambil kesempatan emas ini. Dus, kali ini pun SBY yang mengambil keuntungan.
Pada saat bersamaan, guliran isu penculikan justru membuat publik mempertanyakan PDIP. Mengapa cukup mengherankan mereka melambungkan isu penculikan.Dan, lebih mengherankan lagi kalau SBY, Wiranto dan Sutiyoso juga disebut.
Penyebutan nama Sutiyoso sejatinya berpotensi blunder. Sebab dengan cepat orang akan mempertanyakan. Bagaimana tidak. Ingatan publik masih lekat bahwa pada tahun 2002, PDIP-lah yang ngotot mencalonkan kembali Sutiyoso sebagai gubernur DKI bahkan dengan bayaran digusurnya pentolan setia partai tersebut dari DPRD dan juga partai.
Bisa jadi, SBY tengah bergegas mengumpulkan simpati sebanyak-banyaknya memanfaatkan pembalikan dukungan publik sebagaimana dirilis oleh LSI beberapa hari lalu.
Akan sangat menarik sebenarnya jika para kompetitor SBY memberikan perlawanan yang berarti dan bukannya malah sibuk menangkis serangan terus. Kalau sudah bertekad maju. bukankah semestinya mereka sudah punya resep menangkal serangan-serangan yang sejatinya sudah diperkirakan sebelumnya.Ayo, pak dan bu, lawan dong SBY dengan cerdik.
|
|
|
|
|
|
|
|