Home  Meja EditorMeja Editor  Posting  Lensa  Apa Kata Anda  Login 
 
 
Ulasan
Sabtu, 18 Oktober 2008
Ulasan
Ih, Gerindra, Maunya Apa ya?
Tags: SBY, orde_baru, prabowo, Gerindra
<b(berpolitik.com): "Ih Ngeri Nggak!" begitulah ungkapan canda ala Extravaganza ditirukan oleh sejumlah orang seiring makin gencarnya iklan Partai Gerindra tersebut ditayangkan di layar kaca. Jangan salah, tak ada aura ketakutan, apalagi kebencian. Ungkapan itu ditirukan dengan nada riang, bahkan tak jarang disertai tawa berderai. Mereka sepertinya menikmati.Sepertinya mereka mempunyai semacam kanal harapan baru.>
(berpolitik.com): "Ih Ngeri nggak!" begitulah ungkapan canda ala Extravaganza ditirukan oleh sejumlah orang seiring makin gencarnya iklan Partai Gerindra tersebut ditayangkan di layar kaca. Jangan salah, tak ada aura ketakutan, apalagi kebencian. Ungkapan itu ditirukan dengan nada riang, bahkan tak jarang disertai tawa berderai. Mereka sepertinya menikmati.Sepertinya mereka mempunyai semacam kanal harapan baru. Dan, semangat itu pun tak terkecuali merembes pula di kalangan aktivis politik. Sebagian dari mereka mulai melirik, memperbincangkan. dan mempertimbangkan Gerindra dan tentu saja Prabowo. Untuk melakukan itu, mereka pastinya mesti melakukan akrobatik mental. Ya, ada resiko dimusuhi dan dipertanyakan."Bisa-bisanya lo ndukung Prabowo. Jangan dia deh, kayak nggak ada yang laen aja," itulah pernyataan yang berseliweran tatkala ada aktivis politik menyatakan kekaguman pada Prabowo. Mencuri Hati Setidaknya ada dua sebab mengapa Prabowo dan Gerindra bisa mencuri hati publik. Yang paling awal, ada semacam keinginan kuat untuk menghentikan langkah SBY ke masa jabatannya yang kedua. Bagi mereka, SBY sudah "selesai". Dari mulai sisi kebijakan hingga personalitas mereka punya sederet alasan untuk tidak sekadar memilih SBY, tapi benar-benar ingin memastikan sang incumbent tak terpilih lagi. Terkait dengan itu, sebab kedua, ada semacam harapan mengenai perubahan dan keberpihakan yang nyata kepada rakyat. Iklan-iklan Prabowo tentang petani, pedagang tradisional dan ajakan memajukan produksi dalam negeri terasa segar di tengah-tengah merajalelanya produk impor legal dan illegal yang bagai melaju di jalan tol saja karena seolah-olah pemerintah sedang tidur. Tak heran jikalau kemudian survei terakhir Lembaga Survei Indonesia menunjukkan bahwa tingkat elektibilitas Gerindra (3,2%) menyodok dalam kancah pertarungan tidak saja mengalahkan partai-partai baru lainnya seperti Hanura (1,2%) atau PMB (1%) tetapi juga partai lawas seperti PAN (2,7%) ataupun PPP (2,4%). Hasil survei tak ayal membuat Gerindra dan Prabowo semakin diminati. Tapi, persis pada saat itu pula ada pengumuman yang membuat sebagian orang bertanya-tanya. Maklumat itu tak lain adalah penetapan Moerdiono sebagai Ketua Dewan Penasehat Gerindra. Alasannya, mereka membutuhkan masukan dari orang yang berpengalaman. Menautkan ke Orde Baru? Moerdiono memang berpengalaman, tapi pengalamannya adalah seputar tata politik ala orde baru. Dalam politik baru yang semakin menerapkan prinsip-prinsip marketing, Moerdiono jelas bukan figur yang tepat. Yang lebih penting, Moerdiono bukan sekadar orang masa lalu. Moerdiono adalah satu dari segelintir elit politik yang masih berdiri di belakang Soeharto. Dengan merangkul Moerdiono, Prabowo dan Gerindra seperti ingin mendapat berkah dari "kebesaran" Cedana. Dan, orang-orang pun mulai bertanya-tanya: apa perlunya Prabowo dan Gerindra menautkan diri kepada Soeharto? PKPB dengan Jenderal Hartono pernah mencoba itu pada pemilu 2004. Tiada sungkan dia bernasbihnya diri sebagai "orba sejati". Tak seperti yang mereka harapkan, PKPB bisa dikatakan gagal mendulang suara yang signifikan. Pengalaman PKPB menunjukkan ghirah publik pada masa lalu tak sinomin dengan Soeharto dan kepada para punggawa setianya. Lagi pula, kalaulah pula hendak mengambil aura semangat Soeharto dalam urusan pembangunan pertanian, Prabowo perlu berhati-hati. Untuk satu hal, Soeharto memang sangat memperhatikan kebutuhan petani. Irigasi terjaga, saprodi tersedia. Tapi, jangan lupa, untuk urusan pertanian pangan, orde baru secara konsisten mencekik harga gabah. Beras perlu murah agar tersedia pangan murah bagi buruh di perkotaan. Dengan begitu, upah mereka pun ditekan serendah mungkin. Ini tak lain agar ada keuntungan komparatif dalam mengembangkan industri di tanah air: kelimpahan sumber daya alam, suasana politik yang "tertib" dan tentunya buruh super murah. Dari sisi yang berbeda, dengan posisinya saat ini, Prabowo sejatinya bisa membangun citra dirinya sendiri. Berbeda dengan Wiranto yang masih kuat citranya sebagai Jendralnya Cendana, Prabowo sudah sulit dikaitkan selepas perceraiannya dengan Titi Soeharto setelah dirinya dituding pengkhianat oleh Mamiek dan Bambang Soeharto. Tak ayal langkah politik menggandeng Moerdiono juga menyemburkan gosip lain. Menurut seorang pengamat politik, dia mulai meraba-raba kemungkinan Gerindra mengambil alih posisi PKPB pada pemilu 2004 dan PDR pada pemilu 1999. Keduanya hadir dalam pentas dan menyalak dengan keras dengan output yang nyaris sama: memberi pembenaran atas arus reformasi di tubuh Golkar. Pada 1999, PDR tak pelak menjadi bulan-bulanan karena dikait-kaitkan dengan politisasi dana KUT. Sebagai akibatnya, perhatian publik terlepas pada Golkar yang konon banyak mendapat berkah dari dana-dana JPS yang tersalurkan melalui kader-kader mereka. Pada 2004, seperti ditulis di atas, PKPB secara frontal menunjukkan diri sebagai "antek-antek orba" sehingga Golkar terbebas dari cercaan terhadap dosa-dosa mereka di masa lalu. Kini, nasi telah jadi bubur. Ke depan, Gerindra dan Prabowo perlu lebih hati-hati melangkah. Jika tidak, dorongan publik untuk menyokong mereka bisa rontok dalam seketika. Lidah aktivis politik bisa mendadak kelu karena harapan mereka pada Gerindra dan Prabowo ternyata hanyalah fatamorgana. Pada saat itu, mereka akan berkata, "Ih ngeri nggak". Kali ini dengan nada suara penuh ketakutan dan ketidaksukaan yang mendalam. Mau?
About Us  Site Policy  Site Map  Arsip 
Copyright 2007 Berpolitik.com All right reserved