Home  Meja EditorMeja Editor  Posting  Lensa  Apa Kata Anda  Login 
 
 
Ulasan
Senin, 13 Oktober 2008
Ulasan
Wah, Prabowo Mulai Dibidik?
Tags: iklan, Atribut, isu, prabowo
<b(berpolitik.com) Semakin tinggi pohon menjulang, semakin besar angin menerjang. Inilah yang sepertinya harus dihadapi Prabowo Subianto setelah tingkat keterpilihannya makin moncer saja.>
(berpolitik.com) Semakin tinggi pohon menjulang, semakin besar angin menerjang. Inilah yang sepertinya harus dihadapi Prabowo Subianto setelah tingkat keterpilihannya makin moncer saja. Pada mulanya, Prabowo sama sekali tak diperhitungkan. Bahkan, tak jarang orang mencibirnya. Melalui gempuran iklan-iklannya yang ciamik, perlahan tapi pasti dirinya mulai menimbun simpati. Meski begitu, dalam pengamatan berpolitik, sejatinya gangguan terhadap Prabowo sudah dimulai sejak dini. Seperti sebuah virus, ungkapan "Capres yang ujug-ujug ngomongin petani" beredar dari satu tulisan ke tulisan yang lain, dari satu pembicaraan ke pembicaraan yang lain. Toh begitu, gangguan itu rupanya tak mempan. Publik rupanya mulai tersihir karena iklan-iklan Prabowo terbilang sederhana, jelas namun tak kacangan. Bandingkan, misalnya, dengan iklan-iklan Soetrisno Bachir yang pesannya masih mengawang-awang dan tak massif ditayangkan. Iklan itu menjadi hidup karena Gerinda diam-diam ternyata aktif menjala massa di tingkat akar rumput. Menyadari inilah pemerintah SBY pun meluncurkan iklan soal pertanian dan petani pula. Berbeda dengan iklan Prabowo yang menyoal nasib buruk kaum tani khususnya, iklan versi pemerintah menunjukkan keberhasilan para petani lengkap dengan nuansa keagamaannya. Yang terakhir ini malah mengakibatkan timbulnya tafsir baru: ini iklan tentang pemerintahan SBY atau iklan Mentan yang juga kader PKS ? Gangguan yang paling anyar terbilang paling serius. Informasi yang diperoleh berpolitik menyebutkan dalam waktu beberapa pekan ke depan bakal masuk belasan kontainer. Isinya atribut kampanye Gerindra, dari mulai kaos hingga bendera. Dan, seluruh atribut ini didatangkan dari Tiongkok. Dan, penyampai kabar ini tak lupa menutup kisah dengan menyatakan,"Iklannya sih menganjurkan memakai produk dalam negeri, eh, kok, praktiknya ya tetap main impor?" Pihak Gerindra tak pelak langsung membantah. Menurut informan berpolitik, seluruh produksi atribut Gerindra dikerjakan di Bandung dan sebuah kota lain di Pulau Jawa. Sungguhpun membantah dan kabar atribut impor itu hanya isapan jempol, pihak Gerindra atau Prabowo tak boleh berpuas diri. Soalnya, bukan tak mungkin bakal ada peristiwa dramatis. "Bayangkan, tiba-tiba saja ada pemeriksaan kontainer di pelabuhan. Terus, dibuka, dan isinya atribut Gerindra berhamburan keluar. Dan, semua adegan itu terekam oleh kamera yang lantas diberitakan secara berulang-ulang di layar kaca, bisa dibayangkan kan efeknya seperti apa?" kata seorang pengamat intelejen memberi contoh 'dramatisasi' yang mungkin terjadi. Menurut pengamat intelejen ini, bisa siapapun yang membuat dan mengirim atribut Gerindra dan Prabowo itu, tak mesti orang Gerindra sendiri. Lantas, orang yang sama, membocorkan bahwa kontainer itu berisi barang selundupan. Tak tertutup kemungkinan dia bisa menggerakan aparat bea cukai untuk membongkar kontainer itu dibawah todongan kamera televisi. Jika itu yang terjadi, bisa dipastikan bakal mempelantingkan Prabowo dan Gerindra ke dasar. Kalaupun peristiwa dramatis itu urung terjadi, peredaran wacana atribut kampanye impor tetap bakal menghancurkan reputasi Prabowo, meski lebih perlahan-lahan sifatnya. Maklum, informasi soal atribut kampanye impor itu beredar di kalangan "tokoh rujukan", yakni orang-orang yang dijadikan sumber pendapat dan atau memiliki pendukung yang lumayan banyak. Apa hikmah dari semua ini? Prabowo dan Gerindra harus mulai hati-hati. Soalnya gangguan lainnya bisa lebih sederhana lagi. Misal saja ada foto atau tayangan berita yang menunjukkan mobil berstiker Gerindra terpakir di pasar swalayan atau bahkan outlet macam Fresh Market yang produk-produk pertaniannya notabene kebanyakan impor. Bukankah ini juga bakal mencoreng apa yang dia kampanyekan? Dus,di satu sisi, seperti kata pepatah: mulutmu harimaumu. Jika apa yang dijanjikan tak sesuai dengan apa yang dipraktikkan, Prabowo dan Gerindra bakal tergilas janji kampanyenya sendiri. Tapi di sisi lain, adalah benar juga: semakin besar peluang dirinya, semakin besar pula berbagai daya dilakukan untuk merontokkannya, baik dengan cara yang santun maupun dengan cara-cara "tak biasa". Pertanyaannya yang belum terjawab, siapa yang mulai gerah dengan kemonceran Prabowo?
About Us  Site Policy  Site Map  Arsip 
Copyright 2007 Berpolitik.com All right reserved