| Ulasan |
| Sabtu, 11 Oktober 2008 |
| Ulasan |
| Siapa yang Justru Kelihatan Panik Dihajar Krisis Global? |
| Tags: SBY, BURSA, konflik_kepentingan, insider_trading |
(berpolitik.com): Pemerintah meminta masyarakat tak usah panik menyikapi terjangan krisis ekonomi tingkat global ini. Tapi, sayangnya, sinyal kebijakan yang dikirim pemerintah justru mengesankan sebaliknya.> |
(berpolitik.com): Pemerintah meminta masyarakat tak usah panik menyikapi terjangan krisis ekonomi tingkat global ini. Tapi, sayangnya, sinyal kebijakan yang dikirim pemerintah justru mengesankan sebaliknya.
Contoh teranyarnya soal pembukaan perdagangan di Bursa Efek Indonesia. Tak seperti dijanjikan, perdagangan di BEI tetap disuspensi alias tak jadi dibuka pada perdagangan Jumat (10/10) kemarin.
Alasannya sih karena bursa di tingkat global terus ambruk. Jadi, kalau suspensi BEI dicabut, bisa dipastikan IHSG bakal ambrol. Tak ada yang bisa memprediksi seberapa dalam kejatuhan tersebut bakal terjadi.
Tapi, alasan ini di kalangan ekonom ditanggapi berbeda. Menurut mereka, ingkar janji soal pencabutan BEI justru mengirimkan sinyal bahwa pemerintahlah yang panik.
"Jikalau bursa terkoreksi habis, ya nggak apa-apa sebetulnya. Berbeda dengan di Amerika Serikat, di sini masih sangat sedikit anggota masyarakat yang berinvestasi. Jadi, kalaupun rontok, yang terkena hanya sedikit dan itu terbatas pada mereka yang duitnya bejibun. Istilahnya, bursa itu tak ada kaitannya dengan ekonomi rakyat. Jadi, kenapa mesti gundah?"ungkap seorang ekonom dengan prihatin.
Tak heran jika kemudian mencuat pertanyaan, mengapa SBY justru seperti blingsatan kalau bursa terkoreksi tajam? Setidaknya ada dua sebab yang melatari sikap tak konsisten pemerintah ini.
Konflik Kepentingan?
Dari satu sisi, ini pastinya terkait politik simbol. Meski hanya memberi dampak langsung pada segelintir orang berduit saja, pemerintah SBY sudah terlanjur menjadikan kinerja bursa sebagai jualan keberhasilannya.
Tepatnya, keberhasilan dalam menarik investasi asing ke dalam negeri. Padahal, sebagaimana diketahui, sebagian besar duit yang mengalir BEI terkategori "hot money" alias dana gentayangan yang cepat datang dan pergi.
Di sisi lain, sumber-sumber berpolitik menengarai adanya lobi tingkat tinggi dari inner cycle-lah yang menyebabkan pemerintah ingkar janji soal pencabutan suspensi BEI.
"Argumentasi ekonomi sudah tak mempan. Sepertinya inner cycle itulah yang berkepentingan agar BEI tak dibuka. Barangkali ini terkait dengan konflik kepentingan. Bisa jadi karena mereka terkait dengan eminten tertentu," kata sumber ini.
Tanda-tanda tak genah soal bursa ini juga ditunjukkan oleh hiruk-pikuk pemerintah untuk melakukan buy back saham-saham BUMN. Kalangan investor tak clear mengenai motif buy back tersebut. Yang dikhawatirkan, lagi-lagi ini terkait adanya konflik kepentingan.
"Bisa saja ada kalangan inner cycle pemerintah yang terlanjur menimbun saham-saham BUMN tertentu. Eh, nggak taunya saham-saham itu ambrol atau berpotensi terkoreksi tajam. Jadi, mereka tak mau merugi banyak maka buy back perlu ada." ungkap sumber yang lain.
Selain urusan bursa, sikap panik pemerintah juga ditunjukkan secara demonstratif tatkala memanggil pulang Menteri Keuangan dari lawatannya ke mancanegara. "Ini kan justru mengesankan kondisi sedang gawat. Jadi justru memicu kepanikan dan rumor belaka,"kata seorang konsultan komunikasi.
Jadi, ada baiknya pemerintah mau mengoreksi dan menata kembali cara berkomunikasi kepada publik.Dus, tak cepat-cepat menuduh pihak lain sebagai penebar kepanikan. Setuju,kan?
|
|
|
|
|
|
|
|