Home  Meja EditorMeja Editor  Posting  Lensa  Apa Kata Anda  Login 
 
 
Rumor
Rabu, 08 Oktober 2008
Rumor
Ada Isu Rush Setelah Bursa Disuspensi
Tags: Perbankan, krisis, rumor, rush
<b(berpolitik.com): Setelah perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia disuspensi siang tadi (8/10), gosip dan kasak-kusuk pun bertebaran. Isinya tak terlalu mengejutkan.>
(berpolitik.com): Setelah perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia disuspensi siang tadi (8/10), gosip dan kasak-kusuk pun bertebaran. Isinya tak terlalu mengejutkan. Salah satunya adalah "skenario" buruk esok hari.Menurut gosip yang mulai beredar, tindakan penghentian perdagangan secara mendadak itu alih-alih membuat orang akan berpikir lebih jernih malah akan menyuburkan kepanikan. Salah satu bentuknya adalah kemungkinan bakal adanya rush besar-besaran esok hari pada saat jam operasi perbankan nasional dibuka. Penarikan besar-besar ini sekurang-kurangnya terkait pada dua hal. Masih kata gosip yang beredar, rush jadi sangat mungkin terjadi karena adanya kekhawatiran terhadap kekuatan perbankan di tanah air. Meski sejumlah bank dikabarkan kelebihan likuiditas, tapi ada tanda-tanda lebih banyak bank yang mulai kesulitan keuangan. Ini tercermin dari sikap Bank Indonesia yang memperpanjang fasilitas repro bagi perbankan nasional. Jadi, tanda-tandanya mulai mirip dengan situasi pertengahan 1997 silam ketika sejumlah bank "demam tinggi". Kepanikan nasabah semakin menemukan alasan terkait dengan sistem penjaminan pemerintah yang hanya untuk nasabah yang punya deposito di bawah Rp 100 juta dengan tingkat suku bunga tertentu pula. Tak heran banyak deposan langsung ketar-ketir karena sejatinya mereka selama ini kurang peduli terhadap tingkat kesehatan bank dimana mereka menimbun duitnya. Selain itu, tanda tanya terhadap kesehatan bank di dalam negeri juga berkembang karena pemberitaan mengenai kelebihan pasokan properti, terutama sekali pusat perbelanjaan, gedung perkantoran dan apartemen untuk kelas atas dan menengah. Jika properti ini kekurangan pembeli, niscaya para pengembang tak bisa membayar utang kepada bank. Dan, sebagaimana pada tahun 1997-1998 silam, sektor propertilah yang paling awal ambruk saat krisis menerjang. Jika mereka ambruk, bank-bank pemberi kredit juga ikutan terjerembab. Dan, seperti biasa, isu rush ini juga diikuti dengan isu kembarannya: kelangkaan sembako dan penjarahan. Sepertinya kelangkaan sembako (khususnya beras) dikaitkan dengan ramalan sebelumnya mengenai "bencana beras" yang diprediksi bakal terjadi pada bulan Oktober ini. Bencana itu terjadi karena di satu sisi produksi di dalam negeri tak sesuai target dan pada sisi yang bersamaan, upaya melakukan impor diperkirakan bakal makin susah karena produsen beras di luar negeri juga kerepotan. Apalagi sejumlah negara, seperti Malaysia, sudah mulai memborong beras sejak berbulan silam dengan harga di atas pasar. Jadi, akan sulit bagi Indonesia untuk melakukan impor seperti waktu-waktu sebelumnya. Tapi untuk kasus minyak goreng,misalnya, isu kelangkaan agak sulit diterima. Soalnya, harga CPO di pasar internasional sedang terjun bebas. Jadi, insentif untuk mengekspor pun rendah. Karena itu hampir tidak mungkin terjadi kelangkaan minyak goreng. Demikian juga dengan gula dimana produk impor terus merembes masuk karena harga jualnya yang jauh lebih murah ketimbang produksi di dalam negeri. Ikhwal penjarahan, khususnya dengan sasaran etnis tertentu, sejatinya juga lebih sulit untuk ditemukan dasarnya. Berbeda dengan kondisi 1998 ke bawah, saat ini wajah perekonomian nasional tak lagi dikuasai etnis tertentu. Setidaknya tidak lagi secara vulgar. Yang justru jadi sas-sus dan kemarahan adalah penguasaan bisnis di tangan dua konglomerasi pribumi yang pemiliknya ada di pusat kekuasaan. Sepertinya, gosip penjarahan dengan sasaran etnik tionghoa ini lebih sebagai upaya pengeruhan suasana. Bagaimanapun, etnik tionghoa memang paling gampang dijadikan "kambing hitam". Jadi, sungguhpun sebagian isu-isu di atas seperti terlihat punya jejak, ada baiknya Anda tak segera menelan mentah-mentah. "Saya khawatir ada pihak tertentu yang punya agenda lain. Makanya isu-isu itu pun dimunculkan. Persisnya seperti apa, (saya) belum tahu" kata seorang pengamat ekonomi. Ya, ada baiknya tak cepat panik dan kehilangan akal sehat. Dalam penjalaran rumor, salah satu kunci terpentingnya adalah persepsi dari calon penerima informasi. Jika sedari awal predisposisinya memang menyetujui adanya bahaya krisis, rumor seperti di atas pasti dilahap dan bahkan direproduksi dan diredistribusi kembali jadi makin lengkap, makin menawan. Sebaliknya, jika pada awalnya lebih menerima penjelasan pemerintah (dan pengamat ekonomi), isu-isu di atas jelas akan tersisih dengan sendirinya. Meski demikian, konsumen isu bakal melakukan penyesuaian sikap manakala dia tak mendapat kejelasan. Keterjelasan salah satunya ditentukan oleh kemauan pemerintah untuk bersikap jujur dan terbuka. Jika sekali saja mereka mencurigai pemerintah menutup informasi tertentu, maka penyesuaian sikap awal pun terjadi sehingga yang bersangkutan lebih menyukai argumentasi dari rumor yang beredar. Karena itu, pemerintah tak boleh hanya sekadar meminta masyarakat berpikir jernih dan tak cepat percaya rumor. Merekalah yang harus memberi keteladanan untuk blak-blakan menerangkan kondisi yang sebenarnya dan langkah-langkah antisipasi yang tak bertumpang dengan kepentingan politik jangka pendek. Nah, kita tunggu saja bagaimana pemerintah merespon kejadian hari ini.
About Us  Site Policy  Site Map  Arsip 
Copyright 2007 Berpolitik.com All right reserved