| Ulasan |
| Rabu, 08 Oktober 2008 |
| Ulasan |
| PDIP Bagai Api dalam Sekam (Katanya,loh...) |
| Tags: Caleg, PDIP, konflik_internal |
(berpolitik.com): Mula-mula keresahan itu berpendar dalam bentuk bisik-bisik. Belakangan, menyebar dalam bentuk pesan pendek. Isinya tak lain membenarkan adanya keresahan yang tengah terjadi di kandang moncong putih.> |
(berpolitik.com): Mula-mula keresahan itu berpendar dalam bentuk bisik-bisik. Belakangan, menyebar dalam bentuk pesan pendek. Isinya tak lain membenarkan adanya keresahan yang tengah terjadi di kandang moncong putih.
Pesan pendek itu antara lain menyatakan bahwa sejumlah aktivis di PDIP tengah menyiapkan petisi. Isinya mendesak agar PDIP menetapkan sistem perolehan suara terbanyak dalam penetapan caleg. Metode penetapan seperti ini sebelumnya telah dilakukan Golkar,Demokrat dan juga PAN.
Desakan ini,kata isi pesan pendek itu, diduga karena rasa frustasi sejumlah pegiat partai yang hanya bertengger di nomor 4 ke bawah dalam daftar calon PDIP. Dalam kaitan ini, ada guyonan untuk orang yang pantas nangkring di urutan 1 s.d 4. Guyonan itu berasal dari plesetan nama partai mereka sendiri: P (pimpinan partai), D(darah biru), I(investor alias pembeli kursi) dan P (pejuang/aktivis).
Yang mendapat banyak sorotan memang menyangkut D alias darah biru. Ini terkait munculnya sejumlah nama baru di nomor jadi yang ternyata merupakan anak dari para pimpinan partai PDIP.
Sebuah media sempat menyebutkan beberapa di antaranya: yakni putra-putri dari Adang Ruchiyatna, Jacob Nuwa Wea, Theo Syafi'i, Sutjipto, Agnita Singadikane, Mangara Siahaan, Emis Muis dan Alexander Litaay. Ini diluar klan Bung Karno. Sejauh ini sudah ada dua cucu Bung Karno yang masuk DCS: Puan Maharani dan Puti Guntur Soekarnoputra.
Toh, begitu, dari daftar itu memang ada yang tidak pas. Misalnya anak Jacob Nuwa Wea. Dalam catatan berpolitik, Yani Nuwa Wea adalah pimpinan PDIP Jakarta Timur. Jadi, bisa dibilang, dia sudah "berkeringat" untuk partai hingga tak pantas di sekeranjangkan dengan caleg karbitan berdarah biru lainnya. Pun, Puan Maharani, yang memang sudah aktif bergiat di dalam partai sejak beberapa tahun silam.
Menurut informan berpolitik, keresahan atas dasar D alias darah biru ini terutama sekali mencuat di kalangan aktivis muda partai. Kebetulan, memang ada beberapa nama yang sudah "berkeringat" yang terlempar ke urutan nomor sepatu.
Keresahan ini kian dipicu dengan munculnya sejumlah nama tak terduga di urutan jadi. Misal saja, kata informasi ini, pencalegan Agung Imam Santoso di Dapil 2 Jakarta untuk DPR RI.
Padahal, Agung belum lama berselang dipecat oleh DPP PDIP dari jabatannya sebagai Ketua DPD PDIP DKI Jakarta. Konon, pemecatan itu terkait urusan penerimaan duit dari sejumlah calon gubernur pada saat pilgub Jakarta tahun 2007 silam. "Bagaimana mungkin sudah dipecat seperti itu, kok, bisa muncul jadi calon jadi?" kata informan ini menirukan para pegiat partai yang kesal.
Dari sumber yang berbeda beberapa waktu lalu, berpolitik juga memperoleh informasi yang mirip. Sumber ini juga menggunakan istilah yang sama: "bagai Api dalam Sekam".
Kali ini sasaran keresahan adalah munculnya calon-calon jadi yang menjadi representasi Bamusi, underbouw PDIP untuk menarik simpati kalangan muslim di tanah air sekaligus menepis citra "partai bukan Islam" warisan fusi parpol ala orde baru tahun 1973 silam.
Konon, tokoh-tokoh Bamusi mendapat jatah nomor jadi di basis-basis suara PDIP seperti Jakarta dan Jawa Barat. Kehadiran mereka tak ayal menyempitkan peluang aktivis partai yang sudah terlebih lama berkiprah.
Jika soal darah biru protes mengalir dari pegiat partai yang berasal dari kalangan aktivis, maka soal caleg jatah Bamusi datang dari kalangan GMNI dan juga faksi Theo Syafei dengan alasan yang berbeda-beda.
Sumber berpolitik menyebutkan, meski mengaku gerah para pegiat partai PDIP dipastikan tak akan melakukan "ribut-ribut" ke luar. "Kalau ribut-ribut ke luar, yang untung ya lawan-lawan PDIP. Bagaimanapun, partai harus diselamatkan dalam pileg nanti," begitu kata sumber ini menirukan pernyataan pegiat di kandang moncong putih ini.
Toh begitu, ada yang meragukan kekuatan dan kesungguhan para pegiat partai ini untuk melakukan "perlawanan" terhadap partai. Dalam sejarah partai ini, mereka yang menentang Megawati atau TK (baca Taufik Kiemas--red) selalu kalah. Tak jarang mereka memilih hengkang. "Jadi, darimana dasarnya mereka bakal mampu membuat gejolak?" kata seorang konsultan kampanye terheran-terheran
"Alasan pengamanan untuk pileg,"sambungnya," hanyalah alasan-alasan yang dicari-cari saja. Kalau benar ingin menghukum partai dan mengingatkan konstituen, ya harus ditunjukkan melalui kemerosotan suara dalam pemilu."
Ya, jika nanti PDIP kembali berjaya pada pileg 2009 atau sekurang-kurangnya mendapat suara yang tak kurang ketimbang pemilu 2004, akan sangat sulit bagi mereka yang sedang gundah dan kesal untuk merontokkan elit-elit partai yang kini bercokol pada Kongres partai pada tahun 2010. "Jika pun Megawati tak terpilih (lagi) jadi presiden, tetap akan sulit untuk membangun argumentasi mengenai perlunya "perubahan" besar-besaran di tubuh partai,"tandasnya.
Tak heran kalau kemudian ada yang menduga, ribut-ribut itu sejatinya bukan (sekadar) soal caleg. Wah, bisa seru nih.
|
|
|
|
|
|
|
|