| Ulasan |
| Selasa, 07 Oktober 2008 |
| Ulasan |
| Beda Sutiyoso dengan Prabowo dan Wiranto |
| Tags: Sutiyoso, prabowo, wiranto, Capres |
<b>(berpolitik.com)</b>: Ini kisah tiga jenderal. Sama-sama mau <i>nyapres</i>. Masing-masing berselancar dengan caranya sendiri. Dari ketiga jenderal ini, Sutiyoso sepertinya kini mulai keteteran.
Padahal, pada awalnya tak sedikit yang meramal Sutiyoso bakal menjadi 'kuda hitam' yang patut diperhitungkan. Dengan pengalaman memimpin Jakarta yang dianggap lumayan sukses, Sutiyoso sejatinya punya bekal untuk tidak sekadar bicara janji.
Apalagi, dia punya penanda keberhasilan yang bersifat visual. Salah satunya busway. Proyek yang satu ini menjadi penting karena Sutiyoso berhasil tampil bak batu karang menghadang penolakan yang gencar dari sejumlah pihak.
Dari mulai orang berduit, pengusaha otomotif hingga menteri terkait (perdagangan dan industri) kabarnya senewen dengan rencana pem-busway-an Jakarta. Maklum, ini menyusahkan orang yang bermobil dan bisa menghambat pertumbuhan penjualan otomotif di dalam negeri.
Busway makin monumental bukan karena berhasil mengurai kemacetan di Ibukota, melainkan karena menjadi simbol keberpihakan pada masyarakat luas. Terlepas dari berbagai kekurangannya, busway tak pelak memberi sentuhan yang lebih manusiawi bagi penglaju di ibukota yang mengandalkan angkutan umum.
Selain itu, aura Sutiyoso semakin moncer karena ketika itu sepertinya dia memperoleh banyak dukungan dari rupa-rupa partai politik. Baik yang sudah resmi atau baru sekadar mencari peruntungan untuk menjadi peserta pemilu. Ini masih ditingkahi rayuan dan omongan manis sejumlah elit nasional pun petinggi partai.
Toh, begitu, perlahan tapi pasti, Sutiyoso makin redup sinarnya. Salah satu sebab terpenting karena partai-partai yang mendukungnya rontok satu per satu hingga hanya menyisakan Partai Indonesia Sejahtera. Dan, partai ini pun mulai meradang karena Sutiyoso dianggap tak serius. Ukuran serius tak lain urusan aliran duit. Hampir bersamaan dengan itu, PDK juga mulai meninggalkannya.
Sebaliknya, dua koleganya sesama eks militer, Prabowo dan Wiranto justru makin moncer elektibilitasnya. Persamaan penting keduanya, Prabowo maupun Wiranto sama-sama fokus dan berdedikasi membesarkan satu partai saja. Hubungan antara keduanya juga tak terkesan transaksional karena banyak orang langsung mengaitkan Hanura dengan Wiranto dan Gerindra dengan Prabowo.
<b>Pemain Bursa vs Industrialis</b> Dari sisi ini, Sutiyoso seolah memerankan diri sebagai investor di bursa saham. Nasehat lawas yang selalu benar disampaikan kepada pemain bursa saham adalah jangan menaruh semua telur dalam satu keranjang. Karena itulah, Sutiyoso menebar duit kepada banyak partai politik. Tapi, lantaran duitnya juga tak banyak-banyak amat, ya tiap partai hanya kebagian sedikit. Akibatnya, partai-partai itu juga bergerak bak siput karena sepertinya mereka berilusi Sutiyoso bakal membiayai mereka sepenuhnya.
Sebaliknya Prabowo dan Wiranto tak ubahnya seorang industrialis. Mereka mempercayai keberhasilan bisnis ditentukan oleh kemampuannya untuk fokus. dengan fokus, ada serangkaian kompetensi inti yang bisa dirajut sebagai keunggulan bersaing. Dalam hal ini, Prabowo secara cerdik telah membangun asosiasi sebagai pengusung kebijakan pro petani, sedangkan Wiranto sebagai capres yang peduli dengan masalah kemiskinan.
Pastinya, hal tersebut adalah batu pijakan awal untuk membangun serangkain tautan lain. Dari petani, umpamanya, Prabowo menambah tautan dengan pedagang tradisional. Dan, selanjutnya diperkirakan bakal menautkan diri dengan produsen kecil dan menengah dalam negeri. Sedangkan Wiranto, memulai menambah tautan dengan soal pengelolaan energi nasional.
Celakanya, pada saat yang hampir bersamaan, penanda penting keberhasilan Sutiyoso,busway, makin dihujani permasalahan. Kesusahan Sutiyoso bermula dari kekeliruan dalam menangkap esensi proyek transportasi itu. Yang dilakukan Sutiyoso adalah sebatas mengupayakan agar daerah lain mencontek busway. Padahal, semestinya, Sutiyoso menjual kisah tentang "kebisaan seorang pemimpin untuk memberi pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat luas"
Terlalu dini untuk menyatakan riwayat Sutiyoso sudah berakhir dalam panggung capres atau wapres. Tapi untuk bangkit kembali, Sutiyoso pastinya perlu mengubah strategi kampanyenya. Gimana, soto yoso, eh bang Yos?
|
|
|
|
|
|
|
|