| Ulasan |
| Minggu, 05 Oktober 2008 |
| Ulasan |
| Virus "Hanya SBY Pilihannya" Mulai Menjalar, Nih... |
| Tags: SBY, Capres, kompetitor, virus |
<b>(berpolitik.com):</b> "Kalau cuma ini calonnya, nggak ada pilihan deh. SBY pasti menang lagi." Apabila Anda makin sering mendengar orang-orang mengeluarkan pernyataan seperti itu tak usah heran.
Sejatinya ini pernyataan yang sifatnya sugestif ketimbang keputusasaan. Ia seakan memberi pemahaman bahwa calon-calon pesaing SBY tidak berbobot alias tak layak dipilih. <i>Dus</i>, ini lebih mirip iklan gratis buat SBY.
Dan, sepertinya lebih mujarab ketimbang iklan di layar televisi. Soalnya, pernyataan ini bagai virus, bergerak cepat dari satu orang ke orang yang lain.
Dan, yang menyatakannya tentang itu bukanlah salesman politik atau orang yang tak Anda kenal, bukan pula tim sukses SBY. Melainkan seseorang yang dekat dengan Anda, entah rekan kerja atau teman se permainan. Bisa pula Ustad Anda, Mertua Anda, Bapak Anda atau jangan-jangan Anak atau Istri Anda sendiri.
Saat ini, pernyataan sugestif tersebut telah siap menyebar seperti tak ubahnya sebuah virus. Dia akan menemukan persemaian yang dibutuhkan tatkala bertemu dengan orang yang tepat dan atau disokong momen yang pas. Pada titik itu, virus ini sudah tak mungkin dihentikan kecuali sudah waktunya dia mati.
Siapa orang yang tepat itu? Bisa jadi Anda. Sekurang-kurangnya Anda secara tak sadar akan melakukan amplifikasi dengan membicarakannya kepada rekan Anda sembari istirahat makan siang di kantor atau di tengah-tengah aktivitas membakar kalori di gym.
Kini tak lagi penting siapa yang mula-mula menebar virus ini. Kini, sudah tak berarti apapun, apakah pernyataan sugestif itu merupakan upaya sistematis orang-orangnya SBY atau lontaran lepas. Ia kini saeperti benih yang diterbangkan angin dan hinggap di lahan yang telah tersemai.
<b>Megawati yang Tertohok</b> Yang sudah pasti, kompetitor SBY yang paling tertohok dengan pernyataan sugestif ini adalah Megawati. Sebagaimana ditunjukkan oleh sejumlah survei, Hanya Megawatilah yang dianggap mampu bersaing secara ketat dengan SBY. Jika virus ini menjadi epidemi, tentu saja kekuatan bersaing Megawati mengalami dilusi dengan sendirinya.
Karena itu, sudah sepantasnya orang-orangnya Megawati mulai merespon virus ini secara kreatif dan bukannya reaktif. Jika reaktif, virus itu malah punya kekuatan untuk menggandakan dirinya. Bayangkan saja jika menanggapi ini Megawati atau para pendukungnya malah balik menyalahkan pemilih karena memilih "yang ganteng" atau mensyukuri kesusahan pemilih karena mereka pada tahun 2004 lalu salah memilih.
Kreativitas juga dibutuhkan agar upaya membunuh virus tak menghasilkan efek yang tak terduga. Bisa saja timnya Megawati membangun opini tandingan bahwa ada banyak calon pesaing yang pantas untuk dipilih selain SBY. Jika ini yang dikatakan, efeknya tidak menggumpal pada dirinya, tetapi menyemai kandidat-kandidat yang kini berada di papan bawah.
Selain kreativitas, virus ini juga perlu ditanggapi dengan memberikan respon yang tak terduga. Konten virus jadi seolah-olah benar karena sejauh ini Megawati dan PDIP masih gagal menunjukkan bahwa mereka sudah berubah, termasuk sudah "tobat". Ungkapan tobat Taufik Kiemas beberapa waktu silam nyatanya tak cukup dipercaya karena apa yang ditunjukkan PDIP selanjutnya masih sama seperti sebelumnya.
<b>Peluang Buat Kandidat Lain</b> Jika tim Megawati dihadapan pada persoalan lumayan pelik, sejatinya tidaklah demikian bukan para kompetitor SBY yang tergolong "papan bawah" seperti Prabowo, Sultan HB X, Sutiyoso maupun lainnya. Virus ini bisa jadi peluang untuk mulai menyebarkan kelebihan mereka dibandingkan SBY dan juga Megawati.
Sutiyoso, misalnya. Popularitasnya cenderung stagnan sejalan dengan ketidakberhasilannya memperluas kelebihan dirinya dibandingkan SBY. Dari sisi watak, misalnya, banyak kalangan politisi melihat salah satu keunggulan utama Sutiyoso adalah ketegasan dalam menjalankan pemerintahan sebagaimana dia tunjukkan semasa memerintah di Jakarta. Ini sejatinya berbeda dengan anggapan terhadap SBY yang dinilai sebagai peragu.
Nyatanya, dalam persepsi publik, SBY dianggap lebih tegas ketimbang Sutiyoso (Survei LSI tahun 2007). Ketidakberhasilan Sutiyoso menjadi calon presiden yang diperhitungkan merupakan petanda ketidakberhasilan dalam mengkomunikasikan nilai lebih dirinya tersebut.
Dengan perkataan lain, Sutiyoso dan kandidat lainnya sepertinya masih sibuk menunjukkan siapa dirinya. Jika mereka terus sibuk memoles diri sendiri sembari alpa melakukan kontestasi dengan SBY, virus 'hanya SBY pilihannya' niscaya bakal menjalar dengan kecepatan yang tak terduga.
Untuk berkontestasi, mereka perlu membangun kontras yang berbeda dengan SBY. Jikalau SBY mau dikesankan sebagai orang yang "kurang nasionalis", mereka perlu menunjukkan dengan tepat dimana kekurangnasionalisan SBY sembari memberi bukti bahwa dirinya adalah orang yang lebih nasionalis.
Persoalannya, ada banyak yang meragukan mereka berani bersikap lebih frontal terhadap SBY. Maklum, tak sedikit dari mereka masih punya "tabungan" perkara yang bisa dikorek-korek. Atau jangan-jangan memang dibutuhkan seorang kandidat berkelas martir. Dialah yang harus secara keras dan ketat melakukan <i>constrasting</i> dengan SBY.
Dengan begitu, publik akan lebih melek terhadap serba kelemahan sang incumbent ini. Sebagai martir, dia juga bakal diporakporandakan SBY. Tetapi pada saat yang sama, pemilih memiliki amunisi untuk melakukan kalkulasi ulang. Siapa tahu, memang, masih ada pilihan selain SBY (-Kalla).
Hm, Ada yang berminat jadi kandidat martir?
|
|
|
|
|
|
|
|