| Ulasan |
| Kamis, 02 Oktober 2008 |
| Ulasan |
| Sentilan, Ancaman dan Gangguan Menyambut Deklarasi Duet SBY-Kalla |
| Tags: PDIP, sby_kalla, PKS, Capres |
<b>(berpolitik.com)</b> Jikalau tak ada kejadian luar biasa, SBY dan JK akan kembali berduet dalam pilpres 2009. Meski tak terlalu mengejutkan, toh begitu, sejumlah pihak tak urun memberi catatan atas deklarasi pencalonan ini.
<b>Sentilan</b> Dari kubu PDIP, datang sentilan pertama. Menurut Sekjen moncong putih, Pramono Anung, SBY sungguh tak elok melakukan deklarasi itu di Istana Negara. Menurut mantan aktivis ITB ini, lebih pantas jika hal tersebut dilakukan di kediaman pribadi presiden di Cikeas. Dalam hal ini Anung menyoal soal penggunaan fasilitas negara untuk urusan politik pribadi SBY.
Namun, dari sisi komunikasi politik, apa yang dilakukan SBY terbilang tepat. Mengacu pada Trenenberg (2000), SBY secara konsisten menerapkan gaya komunikasi khas seorang incumbent. Dalam hal ini, SBY merekatkan diri dengan simbolisasi kenegaraan yang diyakini masih memiliki daya magis di sebagian besar pemilih awam: istana negara.
Karena itu, tak terlalu mengejutkan, jika di pekan-pekan berikutnya SBY akan memperkuat posisinya melalui serangkaian aktivitas yang menguatkan kesan dirinya selaku pemimpin negara.
Di satu momen, akan ada "puja-puji", entah dari para pemimpin negara lain atau tokoh-tokoh internasional yang memiliki reputasi tak tercela. Di momen yang lain, SBY akan memperagakan kehadiran di publik dengan seremonial yang membuncah, lengkap dengan serangkaian pengawalan yang mengundang decak tanpa terjebak pada protokol yang kaku.Dan, seterusnya.
Karena itu, mempersoalkan pemanfaatan fasilitas negara sejatinya hanyalah bentuk kekacauan berpikir dalam berpolitik. Salah satu benefit incumbent bagaimanapun adalah memanfaatkan jabatannya untuk memperkuat kepemimpinannya. Lain halnya jikalau sang incumbent memakai kekuasaannya untuk memperkaya diri atau kelompok pendukungnya sendiri.
Meski begitu, para penantang bukannya tak punya cela menampilkan diri secara apik dalam pendeklarasian pencalonannya. Ada banyak contoh menarik dari negeri Paman Sam. Bill Clinton, umpamanya, mengumumkan pencalonannya sembari bermain klarinet. Calon Independen, Ross Perot, mendeklarasikan dirinya dalam sebuah acara talk show di televisi.
Jadi, pengumuman pendeklarasian pencalonan tak mesti melulu seremonial dalam sebuah acara secara khusus sebagaimana dilakukan Sutiyoso beberapa waktu yang lalu. Meski Megawati sudah mendeklarasikan diri, masih ada peluang untuk re-launch. Yakni, pada saat mengumumkan pendampingnya kelak. Inilah tugas para orang-orang sekitar Megawati mempresentasikan jagoannya ke benak publik.
<b>Ancaman</b> Tak sekadar sentilan, "ancaman" pun ditebar. Menurut pihak banteng gemuk, kepastian pencalonan itu akan menguatkan upaya mereka untuk mengkritisi kebijakan pemerintahan saat ini. Dalam hal ini, PDIP memang punya keuntungan politis karena mau secara konsisten memainkan peran sebagai oposisi murni bukan yang setengah hati karena merasa sayang melewatkan jabatan menteri.
Sungguhpun ada sejumlah amunisi untuk memborbardir kinerja pemerintah saat ini, sejatinya PDIP punya sejumlah "handycap". Dalam catatan berpolitik, sekurang-kurangnya PDIP beberapa kali bersikap sebarisan dengan SBY-JK dalam kasus-kasus yang menikam rasa keadilan publik. Di parlemen itu ditunjukkan dengan melempemnya sikap partai ini dalam hal lumpur panas Lapindo dan juga keengganan mereka mendukung hak angket BLBI.
SBY-JK pastinya tak akan menyatakan ini secara langsung. Tapi, dipastikan mereka akan menggerakkan para "spin doctor"-nya untuk mengulas soal ini. Para tukang plintir itu, entah akademisi, aktivis NGO ataupun reporter, akan mendeskripsikan bahwa PDIP tidaklah serius menjadi partainya "wong cilik".
Sekurang-kurangnya, SBY-JK perlu dikesankan tidaklah buruk-buruk amat dalam soal keberpihakan kepada rakyat jelata. Kalaupun para tukang plintir ini tak membuka mulutnya, para pesaing alternatif Megawatilah yang akan menyuarakan hal tersebut.
Dan, sebagaimana telah terjadi pada dua-tiga pekan terakhir, secara berkesinambungan, PDIP terus direpotkan dengan kebijakan di masa lalu dimana mereka menjadi penguasa. Di mulai dari Kontrak Tangguh dan berlanjut pada dugaan suap di Parlemen dalam kasus "Cek Perjalanan Miranda".
Ini belum menghitung soal penjualan Indosat dan penjualan tanker milik Pertamina. Akibatnya, alih-alih bersikap agresif selaku penantang yang serius, PDIP justru memperagakan jurus bertahan.
Dus, orang-orang di seputar Megawati punya pekerjaan rumah lain yang lumayan berat dari yang mereka duga. Jikalau cara berkomunikasinya masih seperti sekarang, Megawati bakal sulit melakukan kontetasi yang ketat dengan SBY.
<b>Gangguan</b> Dari arah yang berbeda, PKS mulai mengirimkan amunisi untuk menggrogoti duet ini. Ini dimulai dengan pernyataan Tifatul Sembiring, Presiden partai ini, dengan mempertanyakan kemauan Golkar untuk tetap mengambil posisi nomor dua. Dalam hal ini, Tifatul seperti hendak menggelitik orang-orang Golkar agar tak rela terus menjadi buntut meski sudah terbukti menjadi jawara dalam pemilu.
Potensi kekuatan yang ingin Golkar ngotot mengusung capres jika menang pileg sepertinya memang akan pupus. Fadel Muhammad memang sudah berhasil "dijinakkan". Akbar Tandjung pun dalam proses "diredam".
Ada kemungkinan Akbar akan surut menentang jika dihadapkan pada konsesi pengembalian jatah kursi parlemen bagi kader-kadernya yang kini "dipinggirkan". Dan, Kalla akan sangat mungkin menjadikan hal ini sebagai kartu truf untuk memperlancar negoisasi politik di internal partainya.
Tapi, peluang gangguan bukannya telah tertutup. Masih ada kubu Paloh yang dikabarkan ingin mengadu peruntungan menjadi orang nomor dua di republik ini. Ada HB X yang bisa saja jadi orang nomor satu karena diusung partai-partai lain.
Karena itu, pernyataan Tifatul kelak akan kembali bergema pada saatnya. Yang hendak disampaikan dia cukup sederhana: "Lihatlah, Golkar tak punya harga diri. Meski menang (pemilu), mereka bersedia hanya jadi orang nomor dua. Kalau bukan kemaruk kekuasaan, apa lagi artinya ini?"
Dus, sentilan, ancaman dan gangguan awal tidaklah menggigit. Tapi, tak ada jaminan di pekan-pekan berikutnya pasangan ini akan mulai menuai badai sesungguhnya. Siapa tahu?
|
|
|
|
|
|
|
|