Home  Meja EditorMeja Editor  Posting  Lensa  Apa Kata Anda  Login 
 
 
Apa Kata Anda
Kamis, 02 Oktober 2008
Apa Kata Anda
Harapan Baru Tapi Lama untuk Kapolri Baru...
7
Menyambut lebaran, masyarakat Indonesia dihadiahi Kapolri baru, Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri. Reputasi dan rekam jejak BHD, begitu Bambang kerap disapa oleh kolega dekatnya, tak kalah ciamik dibandingkan pendahulunya, Jenderal Pol Sutanto. Sebagaimana Sutanto, BHD diperkirakan bakal meneruskan tradisi memerangi kejahatan ekonomi illegal yang terus menggerus kekayaan republik, dari mulai illegal logging, illegal mining hingga illegal fishing, selain urusan perjudian dan narkoba. Meski begitu, sejatinya, ada harapan lain menyangkut kinerja BHD ke depan. Dan, kali ini bukan soal yang "serem-serem" dan "berbahaya". Meski tak terkatakan, begitu banyak yang berharap agar pameo "kehilangan ayam jika lapor ke polisi malah bakal kehilangan kerbau" tak lagi jadi cerita sehari-hari. Kalau sekadar kasus, ya boleh-boleh saja. Polisi kan manusia juga. Bagi penglaju di jalan raya, mereka berharap tak ada lagi razia ilegal. Tak ada lagi polisi yang mengumpet di kegelapan untuk mencari pengendara yang lengah atau melanggar rambu lalu lintas karena tidak tahu. Kalaupun benar bersalah, mereka berharap lformulit tilang berwarna birulah yang menjadi opsi paling awal ditawarkan pak polantas. Di lain pihak, penglaju sangat berharap pak polantas lebih galak lagi menertibkan pengendara yang semau gue. Misalnya, para pengemudi angkutan umum yang ngetem di sembarang tempat. Yang menggemaskan, kantor polisi kerap berdiri tak jauh dari area kemacetan akibat ulah para pengemudi angkutan umum tersebut. Termasuk dalam urusan penerapan aturan yang tak diskriminatif. Kalau pengendara perorangan harus memakai helm, maka para pengendara motor yang berkonvoi untuk urusan apapun juga harus ditilang jika tak memakai helm. Ini soal sepele, tapi bikin kecut hati pengendara motor lain yang melihat penglaju yang lain bisa bebas berseliweran tanpa helm. Jika ada larangan orang duduk di atas kap mobil, sudah seharusnya para pendemo yang duduk di atas kap atau rombongan suporter sepakbola juga ditangkap kalau melakukan pelanggaran seperti ini. Meski tak sulit, nyatanya dari Kapolri yang satu ke Kapolri yang berikutnya hal-hal tersebut di atas tak pernah mengalami perubahan yang berarti. Ini semacam ironi tersendiri. Bandar judi yang duitnya bergepok-gepok kerap dibuat blingsatan oleh kerja aparat polisi. Tapi, di jalan raya, para pengendara makin semau gue saja, oknum polantas tetap saja gemar membuat razia yang menjebak dan seterusnya. Barangkali benar, ini menyangkut urusan dana yang cupet. Kita meyakini, urusan berpatroli yang dibekali bensin hanya 7 liter masih menjadi cerita yang sama hari ini. Paling banter, jumlah liter saja yang sedikit bertambah tapi pastinya tak cukup bagi mobil berpatroli menjaga keamanan di wilayah kerjanya. Jadi, untuk adilnya, harapan di atas meski diiringi oleh penambahan anggaran operasional yang masuk akal. Kalau masih mempertahankan pola anggaran yang lama, sudah bisa dipastikan pak polantas dan polisi lainnya akan melakukan berbagai cara untuk menambal kekurangan tersebut. Kalau sudah begitu, ujung-ujungnya masyarakat lagi yang bakal dirugikan. Jadi, wahai anggota DPR yang budiman, sudah waktunya Anda jangan bersilat lidah untuk menolak memberi anggaran operasional yang layak buat pak polisi. Harga keamanan dan ketertiban itu memang mahal. Tapi pastinya jauh lebih murah ketimbang resiko yang meski diemban anggota masyarakat dan pelaku bisnis jika untuk urusan itu polisi terjegal urusan duit. Karena sangat boleh jadi mereka terpaksa menerapkan prioritas dan memberi "toleransi". Nah, bagaimana menurut Anda?
About Us  Site Policy  Site Map  Arsip 
Copyright 2007 Berpolitik.com All right reserved