| Apa Kata Anda |
| Senin, 21 Juli 2008 |
| Apa Kata Anda |
| Jadilah Artis, Nomor Jadi Menanti ! |
|
Kehadiran Artis-artis di partai politik menuai beragam pendapat. Sebagian kalangan menyebut ini sebagai petanda kegagalan parpol membina kader-kader yang berkualitas. Akibatnya, untuk mendongkrak suara, mereka cari jalan pintas dengan merekrut artis-artis sebagai calon legislatif.
Yang setuju bukan tak ada. Bagi kelompok ini, artis juga warga negara yang punya hak berpolitik. Tapi, ada pula artis yang terang-terangan bilang, Ini saatlah Artis "manggung" secara benaran, tidak hanya sekadar jadi penarik suara seperti di era orde baru.
Partai Amanat Nasional terbilang agresif membuka pintu bagi artis-artis untuk berkiprah sebagai caleg. Tak mengherankan kalau nama partai ini pernah diplesetkan menjadi "Partai Artis Nasional". Tapi, PAN tak sendirian. Sejumlah partai lainnya seperti PPP, Demokrat dan tentunya Golkar juga sudah menggaet artis-artis top, setengah top ataupun yang sudah "lewat" masa jayanya.
Meski artis,, bukan berarti mereka bisa melenggang ke senayan dengan mudah. Pengalaman 2004 membuktikan, artis se populer Nurul Arifin pun kandas. Tragisnya, perolehan suara Nurul sejatinya paling besar untuk Golkar di Dapil Purwakarta - Karawang, namun tak memenuhi BPP. Akibatnya, calon di atas Nurul yang melaju ke Senayan karena Golkar hanya mendapat dua kursi.
Cerita suksesnya bukan tak ada. Marissa Haque, contohnya. Meski hanya nomor urut dua, perolehan suara Marissa melampaui caleg urutan pertama PDIP: Taufik Kiemas. Tapi, lagi-lagi Marissa tak bisa memenuhi BPP. Meski begitu, dia juga lolos ke Senayan lantaran PDIP mendapat dua kursi di dapil Jawa Barat II yang meliputi Kabupaten Bandung.
Bagi kader partai, kehadiran artis disikapi beragam. Namun, mereka rata-rata bersependapat, seharusnya partai tak memberi keistimewaan terlalu besar bagi artis. Yang harus dilihat semestinya kerjanya selama ini buat partai. Jadi, artis itu seharusnya hanyalah nilai tambah personal buat yang bersangkutan. "Kalau baru masuk langsung nomor urut jadi, ya kader-kader yang berjuang di bawah jelas kesal," kata seorang dari mereka.
Tapi, apa boleh buat, dalam era serba instan dan mengedewakan kepopuleran, para kader partai terpaksa gigit jari. Dalam hal ini ada selorohan yang menarik. "Elit partai kan manusia juga. Jadi, pasti doyanlah deket-deket sama artis. Dan, artis itu kan manusia juga. Jadi, pasti doyan juga dengan kekuasaan. Klop, kan?"
Menurut Anda Bagaimana?
|
|
|
|
|
|
|
|