| Apa Kata Anda |
| Selasa, 01 Juli 2008 |
| Apa Kata Anda |
| Hebat Teunan, Pertamina Mensubsidi Rakyat! |
|
Harga jual elpiji tabung 12 kg dinaikkan dari Rp 53.000 menjadi Rp 63.000 per tabungnya. Kalau Anda membeli di pengecer paling akhir, bisa dipastikan ada tambahan Rp 2.000 - Rp 5.000,- untuk ongkos kirim ke rumah.
Menurut Pertamina, kenaikkan itu harus dilakukan. Sebab, melonjaknya pengguna tabung elpiji 12 kg telah membuat kantong Pertamina makin bobol. Maklum elpiji 12 kg bukan tidak termasuk bahan bakar yang disubsidi pemerintah melainkan oleh Pertamina secara korporat.
Kerugian Pertamina diklaim melonjak dua kali lipat. Bila tahun 2006 mencapai Rp 3 trilun, maka tahun 2007 menjadi Rp 7 triliun. Tahun 2008 ini akan semakin besar jumlah kerugian tersebut karena banyak konsumen elpiji 50 kg beralih ke 12 kg. Soalnya harga elpiji yang 50 kg sudah mencapai Rp 7,932,33 per kg, sedangkan elpiji 12 kg hanya Rp 4250 per kg (sebelum dinaikkan).
Jangan salah, bahkan elpiji yang 50 kg pun masih disubsidi. Soalnya harga keekonomiannya sudah mencapai Rp 10.140. Patokan harga keekonomian ini mengacu pada harga pasaran internasional.
Namun, berbeda dengan BBM yang mayoritas diolah di mancanegara, 80% gas alam diolah di kilang-kilang Pertamina sendiri. Dan, berbeda dengan BBM, status Indonesia adalah salah satu produsen gas terbesar meski belum jadi nomor wahid, sedangkan dalam hal BBM, apa boleh buat, kita sudah menjadi net importer sejak 5 tahun silam.
Karena itu ada yang bertanya: apakah tepat Pertamina menyebut dirinya melakukan subsidi kepada rakyat Indonesia? Sebab, disparitas harga itu sejatinya hanya soal pemangkasan margin keuntungan.
Tapi, jika benar-benar Pertamina ngotot merasa menyubsidi rakyat, ya apa boleh buat, kita sebagai warga tak boleh ngedumel. Sudah bagus di subsidi, bukan?
Kita patut menjadikan Dirut Pertamina dan para direkturnya jadi pahlawan bangsa karena sebagai perusahaan dia mau menyubsidi masyarakat Indonesia. Ini benar-benar perusahaan yang luar biasa mulia, bukan? Sikap jajaran Pertamina tentu tak bisa dilepaskan dari kebijakan menteri terkaitnya, baik Meneg BUMN dan Mentaben. Mereka juga harus disaluti sebagai pahlawan juga!
Namun, sebagai rakyat, bolehlah kita bertanya. Gas yang diambil Pertamina atau yang dikontrakkan ke Perusahaan Asing itu berasal dari perut bumi negeri kita tercinta ini, pastinya bukan Pertamina sebagai korporat. Tapi milik negeri ini, milik kita juga.
Nah, karena gas itu kita yang punya, berapakah harga beli Pertamina kepada negara dan rakyat negeri ini? Jangan-jangan kekayaaan alam di negeri kita ini yang membuat kantong Pertamina jadi kaya raya dan pejabatnya berlimpah harta.
Bagaimana menurut Anda?
|
|
|
|
|
|
|
|