| Apa Kata Anda |
| Selasa, 24 Juni 2008 |
| Apa Kata Anda |
| Mahasiswa Anarkis, Polisi Represif. Siapa yang Salah? |
|
Eskalasi meningkat dengan tajam. Di mulai dengan kematian Maftuh Fauzi, unjuk rasa berlangsung oleh kelompok mahasiswa yang bergema. Yang pertama, Tali Geni dan yang kedua Solidaritas untuk Unas. Keduanya bersua di DPR dan kedua-duanya bahu-membahu bentrok dengan polisi.
Bentrok pertama terjadi di depan gedung DPR. Aksi bakar ban, merobohkan pagar dan melempar batu disambut dengan tembakan water canon dan pengejaran oleh polisi yang menggunakan sepeda motor trail. Dalam posisi saling berhadapan ini, seorang mahasiswa asal Jambi ditabrak mobil polisi yang mengejarnya di depan Manggala Wanabakti. Pada saat yang sama, sebagian rekannya tengah merusak sebuah mobil milik polisi.
Bentrokan kedua terjadi di depan Universitas Atmadjaya, jl . Sudriman. Sebuah sedan Avanza plat merah dibakar massa. Sebaliknya polisi juga melakukan aksi pengejaran. Untung, di detik-detik terakhir, polisi tak jadi menyerbu masuk ke kampus Unika, Jakarta.
Akibat bentrokan dua seri ini, sebagian ruas jalan di Jakarta macet total. Ketua MPR Hidayat Nurwahid menyayangkan mahasiswa karena bertindak anarkis dan juga menyesalkan polisi yang bersikap represif.
Sebelum memberi penilaian ada baiknya dipahami beberapa hal. Mahasiswa punya segudang alasan untuk bersikap anarkis. Mereka marah karena kawannya tewas. Sudah begitu, masih pula dituding penderita HIV yang dekat dengan stigma penggemar seks bebas. Padahal, tak sedikit yang terkena HIV karena ditulari akibat kecerobohan penderita atau bahkan pihak rumah sakit.
Mahasiswa juga kian kesal karena merasa DPR dan pemerintah dianggap budek tak mau mendengar aspirasi mereka. Jadi, dalam kerangka pikir mereka, perlu ada cara-cara khusus agar pemerintah memberi perhatian lebih.
Sebaliknya, polisi juga sudah kadung punya penilaian mereka sendiri. Dalam pikiran polisi, aksi-aksi mahasiswa tidak lagi "murni". Mereka sudah kadung curiga ada politisi yang menggunakan mahasiswa untuk melakukan de-stabilisasi. Jadi, bagi polisi, sangat masuk akal untuk bersikap represif. Terlebih polisi meyakini, cara-cara anarkis ala mahasiswa tak bakal mendulang simpati dari masyarakat.
Bagaimana Menurut Anda ?
|
|
|
|
|
|
|
|