| Apa Kata Anda |
| Rabu, 28 Mei 2008 |
| Apa Kata Anda |
| Unas di Serbu, Polisi Menuai Isu... |
|
Kasus penyerbuan Polisi ke dalam kampus Unas berbuntut panjang. Dari sisi unjuk rasa, sikap brutal, polisi bagai amunisi baru bagi mahasiswa. Alih-alih menyurut, aksi-aksi mahasiswa malah semakin keras ekskalasinya. Semakin berani, dan semakin "menggoda" polisi untuk melakukan tindakan serupa.
Di tingkatan isu, aksi penyerangan ini menumbuhkan berbagai spekulasi. Harian Rakyat Merdeka dalam beritanya bertajuk "Polisi Disinyalir Terbelah" (28/5) menghubung-hubungkannya dengan pembahasan posisi Di DPR (di bawah presiden atau di bawah depdagri) juga dikaitkan dengan isu perpanjangan masa jabatan Kapolri Sutanto. Padahal, disebut-sebut sudah ada 4 jenderal polisi yang siap mengantri.
Sementara itu, Romo Beny Susetyo sebagaimana dikutip okezone.com menilai, polisi telah dikorbankan. Gara-gara pemerintah tak becus mengkomunikasikan keharusan menaikkan BBM, polisilah yang kena getahnya menghadapi desakan aksi massa.
Presiden melalui jubirnya Andi Mallarangeng telah memerintahkan dilakukannya pengusutan terhadap insiden Unas. Tapi, Kapolri belum-belum sudah bilang anak buahnya tidak melakukan kesalahan. Pernyataan Kapolri ini pun menuai spekulasi baru.
Persoalannya,bukan kali ini saja polisi melakukan penyerangan ke dalam kampus. Di Sulawesi, terkait isu lokal, polisi juga pernah menyerang kampus Universitas Haluoelo (Unhalu), akhir Maret lalu. Ketika itu, polisi juga merusak berbagai fasilitas milik kampus. Dalam catatan Indonesia Police Watch, terkait isu BBM, polisi juga melakukan tindakan represif di Sulsel dan Jawa Tengah.
Bagaimana menurut Anda?
|
|
|
|
|
|
|
|