| Apa Kata Anda |
| Senin, 03 Maret 2008 |
| Apa Kata Anda |
| Jalan Rusak Terus... |
|
Ini jadinya kalau urusan rakyat berbeda dengan urusan negara. Baik pemerintah daerah maupun pusat super sibuk mengurusi anggaran. Dari soal ketiadaan alokasi hingga penghematan.Kesannya serius.Tapi, rakyat kebanyakan rupanya tak hirau benar dengan debat soal anggaran. Pengguna jalan, misalnya, justru bertanya-tanya kenapa jalan rusak tak kunjung diperbaiki.
Dan, fenomena jalan rusak ada dimana-mana. Warga Jakarta yang notabene Ibukota negara mengeluh dan bahkan mengumpat. Toh, jalan berlubang nyaris tak pernah diperbaiki dengan selayaknya. Mulanya ada informasi APBN 2008 belum cair. Belakangan Gubernur menyatakan anggaran perbaikan jalan dipangkas DPRD. Tak mau disalahkan, DPRD Jakarta balik bilang anggaran itu sudah dialokasikan ke wilayah.
Di Pantura, salah satu urat nadi perekonomian nasional, jalan berlubang tetap cerita yang tak kunjung usai. Rusak berat, diperbaiki. Biasanya super sibuk menjelang lebaran. Setelah itu rusak lagi. Yang tersisa adalah pertanyaan, "Begitu susahkah membuat jalan yang punya daya tahan cukup lama?". Belakangan Pihak Departemen Perhubungan mengkambinghitamkan kelonggaran tonase. Dan, jalan tetap rusak.
Kini terdengar rencana baru lagi. Departemen Pekerjaan Umum berencana mengetatkan pembangunan jalan. Ini terkait dengan teknik konstruksi dan hasil proyek. Kali ini pengerjaan proyek berbasis kinerja. Hm, soal istilah kinerja, sudah sejak 2002 silam Anggaran Belanja juga disusun dengan berlandaskan berbasis kinerja. Dan, kita tahu, hasilnya kebanyakan nol besar. Tak jelas apa bedanya dengan sistem anggaran sebelumnya. Hanya ganti-ganti istilah, subtansinya tetap sama: alokasi anggaran yang langsung dirasakan masyarakat selalu lebih kecil dari anggaran buat pegawai.
Dan, jalan selalu saja (cepat) rusak. Tapi, apa ya pemerintah benar-benar peduli?
|
|
|
|
|
|
|
|