| Apa Kata Anda |
| Jumat, 29 Februari 2008 |
| Apa Kata Anda |
| Bakteri Beracun di Susu Formula |
|
Sepekan ini, publik digegerkan dengan temuan riset IPB yang menyebutkan adanya kandungan bakteri Enterobacter sakazhakii di sejumlah produk susu formula anak dan bubur bayi yang beredar di pasaran. Berdasarkan hasil penelitian dari 22 sampel susu formula yang beredar sejak April hingga Juni 2006, sebanyak 22,73% telah terkontaminasi enterobacter sakazakii dan 15 sampel makanan bayi baik bubur maupun biskuit sebanyak 40%
Menanggapi ini, reaksi Menkes, Siti Fadillah cukup keras. Dia bilang, riset itu punya muatan bisnis. "Kita perlu tahu siapa yang membiayai. Bisa jadi dibiayai badan asing untuk menjatuhkan produsen susu tertentu. Kan kita juga tidak tahu, bisa jadi sebelum penelitian diwur-wuri (ditaburi) bakteri dulu baru diteliti, semua bisa terjadi," ujarnya. Diimbuhinya, "Institusi IPB tidak berhak melakukan penelitian tersebut dan yang berhak adalah seorang dokter. Untuk itu, kredibilitas institusi IPB dan dosen peneliti perlu dipertanyakan".
Lontaran Menkes ini sungguh menarik. Karena langsung menuyoal pada persaingan dagang. Dengan kata lain, Menkes langsung menunjuk hidung produsen asing dan juga periset bayaran!
Tak pelak, warga IPB pun berang. "Wacana IPB mengutuk keras komentar Menteri Kesehatan RI karena telah merendahkan harkat martabat IPB, dan perguruan tinggi pada umumnya, sebagai institusi ilmiah yang senantiasa berpedoman pada kerangka analisis, logis, dan objektif. Untuk itu, Wacana IPB menuntut dan mendesak Menteri Kesehatan RI untuk meminta maaf dan mengklarifikasi pernyataannya kepada seluruh civitas academica IPB dan perguruan tinggi pada umumnya, melalui media cetak dan elektronik, selambat-lambatnya 1 X 24 jam sejak dibacakannya pernyataan sikap ini," ujar Sadikin Amir, Ketua Forum Mahasiswa Pascasarjana (Wacana) Institut Pertanian Bogor (IPB).
Menurut Anda, apa seharusnya dilakukan pemerintah menanggapi hasil temuan IPB itu?
|
|
|
|
|
|
|
|