| Ulasan |
| Senin, 28 Januari 2008 |
| Ulasan |
| Menerka Masa Depan Keluarga Cendana |
| Tags: anak_anak, kroni.warisan, Soeharto |
(berpolitik.com): HM Soeharto akhirnya berpulang. Lepas dari soal kepedihan keluarga atau kekecewaan para korban, pertanyaan yang lama disimpan di balik karpet pun mulai disingkap: bagaimana dengan nasib anak-anak dari penguasa Indonesia selama 32 tahun ini?> |
(berpolitik.com): HM Soeharto akhirnya berpulang. Lepas dari soal kepedihan keluarga atau kekecewaan para korban, pertanyaan yang lama disimpan di balik karpet pun mulai disingkap: bagaimana dengan nasib anak-anak dari penguasa Indonesia selama 32 tahun ini?
Sebagian kalangan yang dihubungi berpolitik menyebutkan, kematian mantan Pangdam Dipenogoro ini bakal menjadi titik pengungkit kembalinya Tutut bersaudara ke panggung politik. Ini terkait dengan ketidakjelasan posisi Soeharto.
Sebagaimana Bung Karno, Soeharto wafat tanpa adanya pengadilan terhadap dirinya. Karena itu, tafsir atas jasa atau kesalahannya merupakan suatu yang dapat diperdebatkan terus-menerus.
Jika melihat tayangan media dan ulasan yang berkembang, lebih banyak jasa-jasanyalah yang diperbincangkan. Tentu saja, secara naluriah, tak elok membicarakan keburukan orang yang baru saja menghadap yang Kuasa. Rahmat tersembunyi dari dua hal ini adalah kembalinya ingatan publik terhadap masa-masa kepemimpinan Soeharto.
Yakni, kenangan samar-samar tentang harga sembako yang murah dan zonder antrian panjang. Ini langsung terasa kontras dengan situasi kepemimpinan SBY-JK. Hari-hari ini, yang banyak dirasakan hanyalah harga yang terus membumbung dan kelangkaan yang kerap terjadi.
Jika pengkontrasan ini dapat dikemas dan di-rolling, aura "rindu Soeharto" bakal semakin menjadi-jadi. Ini jelas modal yang lebih dari sekadar cukup bagi Tutut (atau bahkan Tommy?) untuk mulai merambah kembali panggung politik secara lebih serius. Apalagi, momen perawatan dan kematian Soeharto juga memberikan sinyal yang memadai bahwa masih banyak orang yang menerima kehadiran keluarga Cendana ketimbang sebaliknya.
Tapi, ada pula yang berpendapat sebaliknya. Jika sebelumnya hanya Tommy yang bisa diutak-atik, kini Tutut, Bambang dan bahkan Sigit bakal diincar. Para eks kroni bakal lebih leluasa melakukan itu karena Soeharto telah tiada hingga perasan sungkan pun menguap. Soalnya kesetian mereka berhenti pada Soeharto, tidak kepada keluarganya.
Sungguhpun begitu, keluarga Cendana masih pula harus mengamati dengan serius perilaku kroni yang punya motif yang lebih politis sifatnya. Yakni, kroni yang punya kepentingan untuk mengambil alih akses duit yang selama ini masih digenggam Soeharto. Akses terhadap duit ini bakal menjadi "pundi-pundi tak berseri" bagi mereka untuk menguasai panggung politik. Kroni model ini akan menggunakan strategi pura-pura melindungi keluarga Cendana dari terkaman kroni yang ingin menegakkan hukum. Tapi, dibalik itu, mereka bakal meminta konsesi terhadap akses duit tersebut.
Situasi bakal tambah runyam jika di antara putra-putri Almarhum Soeharto tak ada kata sepakat. Ini terkait dengan gosip yang selama ini beredar bahwa di antara putra-putri Soeharto kerap terjadi persaingan yang keras. Dan, itu sudah terjadi bahkan ketika Bapak dan Ibu mereka masih hidup. Jika kontestasi di antara mereka tak bisa diredam, makin mudahlah para kroni melumat mereka.
Hari-hari ke depan, kita akan meyaksikan ke arah mana nasib membawa keluarga Cendana paska wafatnya Soeharto.
|
|
|
|
|
|
|
|