Home  Meja EditorMeja Editor  Posting  Lensa  Apa Kata Anda  Login 
 
 
Ulasan
Kamis, 25 Januari 2007
Ulasan
Popularitas SBY Semakin Menurun
Tags: SuaraKarya
JAKARTA (Suara Karya): Setelah lebih dua tahun memerintah, popularitas Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) semakin menurun seiring menipisnya kepercayaan publik terhadap kinerja pemerintahnya.

Demikian terungkap dari hasil jajak pendapat yang dilakukan TNS Indonesia yang dikeluarkan Van Zorge, Haffernan Associates, Rabu, seperti dilansir situs www.vanzorgereport.com. Lembaga ini adalah analis dan konsultan politik yang berkantor pusat di Jakarta.

Hasil survei TNS Indonesia menunjukkan bahwa hanya 24 persen publik yang akan memilih kembali SBY sebagai presiden bila pemilu digelar pada saat survei berlangsung. Survei itu sendiri dilakukan Desember 2006. Sebagai catatan, pada Pemilu 2004 SBY meraih suara sebanyak 61 persen.

Hasil survei TNS juga menunjukkan, popularitas SBY kini sangat rendah di Pulau Jawa dibanding di Pulau Sumatera dan pulau-pulau lain. Kenyataan itu kontras dibanding ketika awal SBY memimpin pemerintahan.

Menurut TNS Indonesia, hasil survei itu juga memperlihatkan SBY justru tidak didukung oleh pemilih di daerah tempat dia berasal, yakni Jawa Timur.

Menurut pengamat politik Indria Samego, popularitas SBY memang fluktuatif bila dilihat dari hasil survei sejumlah lembaga. Dia mencontohkan, survei pada Juli 2004 menunjukkan popularitas SBY saat itu mencapai 40 persen. Lalu, Oktober 2005, popularitas itu naik menjadi 52,4 persen dan Mei 2006 kembali 40 persen. Sedangkan tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja SBY pada September 2005 sebesar 63 persen, lalu awal 2006 turun menjadi 55 persen, dan Oktober 2006 naik menjadi 67 persen.

Indria mengatakan, SBY tak perlu cemas karena masih memiliki waktu 2,5 tahun untuk mendongkrak kembali popularitasnya. "Saya sebenarnya kurang setuju kalau yang disurvei itu hanya aspek popularitas. Lebih baik kalau yang disurvei adalah aspek kinerja, sehingga mereka yang sedang berkuasa tidak terlena oleh fluktuasi popularitas semata," tuturnya.

Soal kinerja, Indria sendiri menilai pemerintahan SBY belum optimal. Karena itu, dia menilai SBY tak perlu menyusun naskah pidato kenegaraan awal atau akhir tahun.

"Buat apa, pidato itu kan hanya untuk mendongkrak citra dan popularitasnya. Isinya juga paling janji-janji lagi. Lebih baik SBY bekerja saja," kata Indria.

Sementara itu, pengamat politik Arbi Sanit mengatakan, SBY sebaiknya responsif terhadap survei maupun kritik terhadap pemerintahannya. "Turun naik popularitas itu menggambarkan bahwa publik masih berharap. Jadi, jangan abaikan harapan itu," ucapnya.

Karena itu, menurut Arbi, SBY harus memaparkan secara terbuka kepada rakyat soal pencapaian yang diraih menteri-menteri selama tahun 2006. (Yudhiarma/Kardeni)
About Us  Site Policy  Site Map  Arsip 
Copyright 2007 Berpolitik.com All right reserved