| Ulasan |
| Rabu, 10 Januari 2007 |
| Ulasan |
| Megawati Soekarnoputri di Sisi Oposisi (2) |
| Tags: Kompas |
Apakah peran PDI-P sebagai partai oposisi itu sudah optimal?
Dari sisi internal, peran fraksi maupun anggota PDI-P yang duduk di komisi-komisi sudah cukup baik. Persoalannya justru terjadi di para politisi kita. Mereka mulai mengabaikan semangat musyawarah mufakat yang ada dalam UUD 1945. Main voting terus. Hal-hal yang sangat esensial mestinya tidak bisa divoting. Masalah beras itu masalah perut, masalah pokok yang tidak sederhana. Dengan voting urusannya menjadi sederhana, yaitu kalah, menang, impor beras atau tidak.
Bagaimana dengan rekomendasi rakernas yang meminta Anda sebagai calon presiden di Pemilu 2009?
Rekomendasi itu ditujukan kepada DPP PDI-P. Oleh karena itu akan kita evaluasi terus-menerus dan pikirkan. Tadi juga saya katakan dalam rakernas, kalau kita semua serentak, kalau kita mau, kita bisa. Ini merupakan modal dari rekomendasi itu. Kita tidak berada di awang- awang saja, tapi harus membumi. Sekarang ini pemilu langsung, yang harus diberi pendidikan politik adalah rakyat agar bisa memilih calon pemimpin yang baik.
Apakah sudah mulai mengincar calon wakil presiden juga?
Saya kan tadi tidak mengatakan yes or no. Ini kan masih rekomendasi dan bersifat masukan. Saya hanya menjawab mari kita pikirkan bersama. Kita lihat dalam dua tahun ini apa saja yang kita bisa kerjakan dan apakah rakyat memberikan dukungan positif kepada PDI-P.
Apa kriteria pemimpin yang dibutuhkan bangsa ini?
Kriteria sebetulnya gampang, yang susah itu melaksanakannya. Kalau kita melihat Pembukaan UUD 1945, sebenarnya di situlah ada mandat untuk pemimpin Republik Indonesia.
Untuk menjalankan amanat Pembukaan UUD 1945 tidak gampang. Contohnya, mewujudkan negara yang berdaulat. Tekanan itu luar biasa. Mau mengatakan memutuskan utang saja, harus diskusi panjang lebar. Lalu, ke mana kedaulatan kita?
Selain memiliki sikap kepemimpinan, pemimpin mendatang harus mengenal baik kondisi khas Indonesia. Kita ini negara kepulauan terbesar di dunia.
Para pemimpin ini banyak yang merasa hidup di negara daratan. Masalah di daratan itu sebesar apa pun lebih mudah ditangani daripada terjadi di negara kepulauan. Penanganan bencana pun lebih sulit. Untuk mengungsikan ratusan penduduk di pulau kecil harus melalui lautan atau udara.
Saya selalu memikirkan kenapa pendiri republik ini bisa berhasil karena mereka itu mengenal Indonesia. Mereka tahu budaya dan adat istiadatnya.
Orang yang mau jadi pemimpin harus ditanya sudah ke Merauke belum, sudah ke Sabang belum? Saat saya berkunjung ke Pulau Dobo, Kabupaten Maluku Tenggara, rakyat dengan ramah datang. Saya tanya pemimpin yang pernah datang, mereka katakan yang pertama Bapak Bung Karno yang kedua putrinya. Jadi yang lain ke mana?
Karisma Megawati memang tidak bisa dilepaskan dari PDI-P. Namun, Megawati sendiri membantah anggapan bahwa model kepemimpinan karismatik itu bisa menimbulkan bahaya tidak munculnya figur-figur baru di partainya.
Dia mencontohkan, sepeninggal Bung Karno muncul tokoh baru dan bangsa ini pun terus berjalan. Megawati mengaku telah membuat suatu sistem yang memungkinkan PDI-P pun bisa berjalan tanpa bergantung pada figur.
"Oleh karena itu, saya selalu optimis," ucapnya
|
|
|
|
|
|
|
|